Industri Hasil Tembakau Harapkan Perlindungan Pemerintah

    Husen Miftahudin - 31 Maret 2020 20:36 WIB
    Industri Hasil Tembakau Harapkan Perlindungan Pemerintah
    Industri Hasil Tembakau berharap perlindungan pemerintah. Foto: Antara/Aguk Sudarmojo
    Jakarta: Pemerintah diharapkan menciptakan peraturan dan kebijakan yang mendukung keberlangsungan sektor Industri Hasil Tembakau (IHT) nasional. IHT merupakan salah satu sektor strategis yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Selain menyumbang pendapatan negara, sektor ini juga aktif membantu penyerapan tenaga kerja.

    "Sektor IHT ini menyerap banyak tenaga kerja khususnya perempuan, misalnya pada produksi rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT). SKT sebagai produk olahan tembakau merupakan salah satu pilihan lapangan kerja bagi mereka yang tidak mempunyai kesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi," kata Ketua Paguyuban Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) Djoko Wahyudi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin, 31 Maret 2020.

    Saat ini, industri tembakau di Indonesia memiliki tiga jenis produksi hasil tembakau yang dilegalkan, antara lain SKT, Sigaret Putih Mesin (SPM), dan Sigaret Kretek Mesin (SKM). Adapun mayoritas pekerja yang terlibat di industri ketiga jenis rokok tersebut masih didominasi oleh perempuan yang mayoritas berusia muda hingga paruh baya.

    Terkait dengan sebaran wilayah, riset World Bank 2018 menyatakan lapangan kerja di pabrikan tembakau 94 persen terkonsentrasi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Lebih spesifik, terdapat beberapa daerah yang mayoritas menggantungkan serapan tenaga kerja di IHT seperti Kudus (30 persen), Temanggung (27,6 persen), dan Kediri (26 persen).

    Industri tembakau berkontribusi dengan menghasilkan pendapatan negara melalui cukai hasil tembakau (CHT) dan menciptakan lapangan kerja dengan multiplier effect. Tidak hanya bagi petani, namun sampai pengepul, pengoven, pemasar, hingga pekerja pabrikan.

    Menurut Djoko, rantai pasok yang panjang ini membuat sektor IHT menjadi sangat strategis dalam menekan angka pengangguran di daerah. Sektor IHT dari hulu hingga hilir menyerap lebih dari enam juta orang pekerja langsung.

    "Untuk paguyuban MPSI sendiri tenaga kerjanya sekitar 100 ribu yang tersebar di Pulau Jawa dan sebagian besar didominasi perempuan. Sebaiknya pemerintah dalam membuat kebijakan bisa menjaga keberlangsungan bisnis industri tembakau," harap dia.

    Djoko juga mengharapkan pemerintah untuk mempertimbangkan kerentanan pekerja perempuan atas penurunan IHT setiap tahunnya. Pemberlakuan CHT sebesar 23 persen dan Harga Jual Eceran (HJE) sebesar 35 persen yang diresmikan di awal tahun secara tidak langsung dinilai menjadi faktor lesunya kinerja industri yang berdampak pada efisiensi.

    "Ke depan, pemerintah diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi seluruh pelaku IHT khususnya dalam merumuskan peraturan yang stabil serta mempertimbangkan aspek perlindungan kepada pekerja di dalamnya," ucap Djoko.

    Soal perlindungan dari pemerintah, Kasubdit Industri Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mogadishu Djati Ertanto mengaku tidak mudah untuk merevisi kebijakan yang berdampak bagi jutaan orang pekerja di IHT.

    Berdasarkan data Kemenperin, saat ini jumlah pabrikan rokok yang beroperasi di Indonesia berjumlah 700-an, mulai dari pabrik skala kecil sampai industri besar yang mempekerjakan sekitar 700 ribuan tenaga kerja. Selain itu, jumlah petani tembakau yang memasok kebutuhan bahan baku IHT jumlahnya 500 ribu hingga 600 ribuan orang, ditambah satu jutaan lebih petani cengkeh.

    "Belum lagi masyarakat yang berdagang rokok dan para pekerja di sektor ritel. Tentu tidak mudah merevisi kebijakan yang akan berdampak pada IHT nasional. Apalagi tahun 2018 IHT menyumbang pendapatan negara dalam bentuk cukai sekitar Rp180 triliun dan pajaknya Rp190 triliunan. Jadi hampir 10 persen APBN kita itu didanai oleh IHT," jelasnya.

    Kemenperin mencatat total tenaga kerja yang diserap oleh sektor industri rokok sebanyak 5,98 juta orang dan 90 persen didominasi perempuan, terdiri dari 4,28 juta adalah pekerja di sektor manufaktur dan distribusi, serta sisanya 1,7 juta bekerja di sektor perkebunan.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id