5.000 Pekerja Pabrik Rokok di Jawa Timur Kehilangan Pekerjaan

    Eko Nordiansyah - 20 September 2021 14:51 WIB
    5.000 Pekerja Pabrik Rokok di Jawa Timur Kehilangan Pekerjaan
    Ilustrasi. FOTO: MI/Bagus Suryo



    Jakarta: Pemerintah diminta menunda rencana kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) untuk tahun depan. Pasalnya, kenaikan tarif cukai ini berpotensi menyebabkan terjadinya pengurangan tenaga kerja dan serapan tembakau yang berkaitan langsung dengan Industri Hasil Tembakau (IHT).

    Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Drajat Irawan mengatakan Provinsi Jawa Timur yang merupakan sentra penghasil tembakau terbesar di Indonesia telah mencatat adanya pengurangan 5.000 pekerja pabrik rokok sejak tahun lalu. Padahal lebih dari 50 persen pekerja IHT ada di Jawa Timur.

     



    "Dari data yang ada, IHT di Jawa Timur, khususnya untuk skala kecil dari tahun ke tahun memang terjadi penurunan apalagi saat pandemi. Sehingga muncul pengangguran dan turunnya kesejahteraan petani tembakau, karena mereka ini memasok tembakau untuk pabrik kecil," kata dia, dalam sebuah webinar, Senin, 20 September 2021.

    Ia menambahkan saat ini setidaknya ada 90 ribu lebih pekerja tembakau di Jawa Timur. Kontribusi Jawa Timur terhadap penerimaan negara melalui CHT juga merupakan yang terbesar. Tahun lalu, Jawa Timur menyumbang Rp101,9 triliun dari penerimaan cukai atau 59,38 persen dari total penerimaan cukai nasional.

    "Hal ini menjadikan Jawa Timur sebagai provinsi yang paling rentan terhadap dampak ekonomi bila IHT terganggu. Banyak warganya yang menggantungkan hidupnya saat ini sebagai petani tembakau maupun pekerja di sektor industri," ungkapnya.

    Hal senada disampaikan Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Ubaidillah Umar Sholeh. Ia mengungkapkan, kenaikan tarif CHT hanya akan merugikan petani tembakau, khususnya yang berada di Jawa Timur. Pada 2020, produksi tembakau di Jawa Timur mencapai 85 ribu ton dan hasil cukai mencapai Rp164,8 triliun.

    Tarif CHT 2022 memang belum ditetapkan, namun pemerintah telah menaikkan target penerimaan cukai naik 11,9 persen menjadi Rp203,9 triliun. Atas dasar tersebut, tarif CHT diperkirakan meningkat karena CHT merupakan penopang sekaligus komponen utama penerimaan cukai dengan lebih dari 95 persen dari total penerimaan cukai.

    Untuk itu, banyak pihak berharap pemerintah tidak meningkatkan tarif cukai tahun depan, terutama bagi sektor padat karya seperti Sigaret Kretek Tangan (SKT). Pasalnya di masa pandemi ini, menjaga kestabilan industri padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja justru bisa menjadi salah satu cara untuk mempertahankan perekonomian.
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id