comscore

Pemerintah RI dan Bos Coca-cola Bahas Investasi hingga EBT di Swiss

Husen Miftahudin - 07 Juni 2022 17:21 WIB
Pemerintah RI dan Bos Coca-cola Bahas Investasi hingga EBT di Swiss
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan belakang dan Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita (kanan depan) melakukan pertemuan dengan Chairman and CEO of The Coca-Cola Company James Quincey (kiri belakang) di Davos, Swiss. Foto: dok Biro Humas Kemenperin
Jakarta: Forum Ekonomi Dunia 2022 di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu menjadi momen bagi delegasi Pemerintah Indonesia untuk bertemu dengan para investor dari perusahaan industri ternama di dunia.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto dan Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita bertemu dan berdiskusi dengan petinggi Coca-cola Company dengan agenda membahas investasi, circular economy, dan energi terbarukan.
"Melalui agenda tersebut kami menyampaikan beberapa hal. Tentu salah satu diantaranya mengenai dukungan dan fasilitas bagi para investor global yang menanamkan modalnya di Indonesia," kata Agus dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 7 Juni 2022.

Dalam pertemuan dengan Chairman and CEO of The Coca-cola Company James Quincey, Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasinya dan mendorong Coca-Cola untuk meningkatkan dan memperluas investasinya di Indonesia, salah satunya melalui produk berbasis kelapa.

Hal ini karena produk berbahan baku kelapa memiliki multiplier effects yang tinggi, mulai dari petani kecil hingga industri menengah. Selain itu mengingat luasnya wilayah Indonesia, komoditas ini masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Tanah Air.

Dalam pertemuan dengan perusahaan industri minuman itu, pemerintah juga membahas pengembangan industri hijau dengan konsep circular economy yang menggunakan pendekatan 5R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery, dan Repair). Pemerintah mengatur pengembangan industri hijau dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian.

"Undang-Undang tersebut menyebutkan industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Agus.

Ia menambahkan, pemerintah terus berupaya memacu pembangunan industri hijau untuk mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Hal ini agar pembangunan industri selaras dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui upaya penerapan industri hijau di Tanah Air, penghematan energi pada 2021 mencapai Rp3,2 triliun, serta penghematan air sebesar Rp169 miliar. "Pencapaian ini memperkuat komitmen industri untuk memastikan keberlanjutan bisnis perusahaan dalam jangka panjang," jelas Agus.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id