comscore

Erick Thohir: Bersih-Bersih BUMN Jangan Dipandang sebagai Arogansi

Media Indonesia - 22 Januari 2022 19:00 WIB
Erick Thohir: Bersih-Bersih BUMN Jangan Dipandang sebagai Arogansi
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Kementerian BUMN
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan program bersih-bersih di lingkungan Kementerian BUMN jangan disalahartikan sebagai suatu sikap arogansi yang ditunjukkannya sebagai seorang pimpinan.

Ia mengatakan program ini dilakukan karena tidak ingin masalah seperti tindak pidana korupsi di tubuh BUMN terulang di kemudian hari.

 



"Kami mendorong transformasi BUMN itu dengan yang saya bilang bersih bersih BUMN. It’s not about arrogancy,” ujar Erick Thohir, dilansir Mediaindonesia.com, Sabtu, 22 Januari 2022.

Mantan Presiden Inter Milan ini mengatakan program bersih-bersih terus dilakukan untuk menyelesaikan segala permasalahan dan menyehatkan kondisi perusahaan pelat merah di mana permasalahan itu terjadi jauh sebelum Erick Thohir menjabat sebagai orang nomor satu di Kementerian BUMN.

"Karena saya pemimpin, saya injak, bukan. Tapi yang pasti kita akan melakukan pelaporan-pelaporan ini dengan tujuan hanya kasus dari korupsi di satu titik," ucap Erick Thohir.

Sebelumnya, Erick melakukan bersih-bersih BUMN dengan melaporkan kasus dugaan tindak pidana korupsi di tubuh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terkait penyewaaan pesawat berjenis ATR 72-600.

Selain itu, Erick juga mendukung pengungkapan kasus korupsi yang terjadi di PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT ASABRI (Persero). Dari dua kasus korupsi tersebut, negara mengalami kerugian hingga Rp39,58 triliun.

"Tentu, bukan berarti kita senang memenjarakan orang. Bahwa memenjarakan orang itu kan ada keluarganya, ada pihak-pihak juga yang harus kita perhatikan. Tapi yang kemarin saya sampaikan, bahwa ini program bagaimana ada perbaikan administrasi secara menyeluruh dalam korupsi tadi,” kata dia.

Langkah ini juga dilakukan, kata Erick, selain untuk menyehatkan kondisi keuangan perusahaan, juga untuk memberikan efek jera kepada para pelaku yang telah merugikan negara dan masyarakat. Dengan demikian di masa mendatang perusahaan-perusahaan BUMN bisa terlepas dari jeratan korupsi dan persoalan-persoalan merugikan lainnya.

"Contoh Garuda. Bukan hanya korupsinya, tetapi bagaimana kita harus bikin kejeraan, bahwa pembelian pesawat ke depan itu harus ada sistemnya. Bukan hanya beli pesawat, tetapi sebelum beli itu mesti dihitung. Mau rutenya ke mana? Maintenance-nya seperti apa? Harus punya business plan, namanya kita korporasi, business process itu harus dipahami oleh pengambil keputusan, yaitu para direksi," tutupnya.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id