Kelas Menengah Optimistis Aktivitas Ekonomi Bergeliat di New Normal

    Media Indonesia.com - 30 Juli 2020 07:16 WIB
    Kelas Menengah Optimistis Aktivitas Ekonomi Bergeliat di New Normal
    Ilustrasi. Foto: AFP.
    Jakarta: Kelas menengah di Indonesia menunjukkan optimisme aktivitas ekonomi akan kembali bergeliat pada fase adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal.

    Hal itu terungkap dari survei yang digelar perusahaan riset pasar, Populix tentang optimisme publik dan para pekerja dalam memulai aktivitasnya kembali di era adaptasi kebiasaan baru.

    "Survei Populix menunjukkan bahwa responden dari kalangan menengah adalah masyarakat yang paling optimistis dengan diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru," ungkap Chief Operating Officer (COO) Populix Eileen Kamtawijoyo dilansir dari keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Rabu, 29 Juli 2020.

    Di sisi lain, masyarakat kalangan bawah memandang pesimistis kebijakan tersebut. Hal ini dapat terjadi karena faktor tingkat kesejahteraan yang masih rendah serta terbatasnya akses layanan kesehatan.

    Riset populix juga mengungkapkan 97 persen responden mengaku rutin menggunakan masker serta 87 persen menggunakan hand sanitizer. Kedua benda tersebut telah disadari masyarakat sebagai barang bawaan wajib ketika meninggalkan rumah.

    "Badan kesehatan dunia menganjurkan setiap orang untuk menggunakan masker karena dinilai ampuh menurunkan potensi penularan covid-19 hingga 75 persen," sambungnya.

    Di kalangan pekerja, 88 persen menyatakan perusahaannya mewajibkan pemakaian masker selama bekerja dan di perjalanan. Hal itu selaras dengan protokol kesehatan yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan lewat Surat Keputusan (SK) Nomor HK 02.02/II/753/2020 aktivitas perekonomian diizinkan kembali beroperasi dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

    Namun, dari hasil survei yang dilakukan, masyarakat kalangan bawah lebih jarang memakai masker dibanding kalangan menengah ke atas. Dengan kata lain, perlu ada edukasi kebiasaan baru yang menyasar ke bawah dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.

    Survei tersebut juga mengungkap terdapat 81 persen perusahaan yang secara ketat melakukan pembatasan jarak fisik. Sementara itu, upaya mengurangi kerumunan juga diatasi lewat mekanisme shift kerja yang telah diberlakukan 58 persen perusahaan.

    "Temuan lainnya, 43 persen perusahaan telah membuat skema pengurangan bekerja di kantor," ujar Eileen.

    Selain itu, setelah tiga bulan berlalu sejak kasus covid-19 pertama kali diumumkan di Indonesia, Populix juga mengukur perubahan tingkat kekhawatiran masyarakat pada rentang April hingga Juni dengan skala 1-10. Semakin tinggi skala menunjukkan semakin tinggi pula tingkat kekhawatiran masyarakat. Hasilnya, ada penurunan tingkat kekhawatiran pada April, awalnya skala 8,1 menjadi 7,6 di Juni 2020.

    "Adaptasi kebiasaan baru yang ada di depan mata menjadi skenario baru yang diusung untuk memulihkan perekonomian," pungkasnya.


    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id