KSPI Minta Pembatalan Masuknya 500 TKA Tiongkok

    Media Indonesia - 29 Juni 2020 08:11 WIB
    KSPI Minta Pembatalan Masuknya 500 TKA Tiongkok
    Presiden KSPI Said Iqbal. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
    Jakarta: Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meminta pemerintah menarik kembali Tenaga Kerja Asing (TKA) yang sudah datang ke Indonesia dalam gelombang pertama. Serta membatalkan masuknya 500 TKA Tiongkok.

    Presiden KSPI Said Iqbal menyesalkan hal ini lantaran menciderai rasa keadilan pekerja lokal dan rakyat Indonesia, terutama negara ini mengalami dampak pandemi covid-19 yang telah membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan.

    Seharusnya, lapangan pekerjaan yang tersedia diberikan sepenuhnya kepada warga negara Indonesia. "Di tengah pandemi dan banyak buruh yang kehilangan pekerjaan, mengapa TKA justru diizinkan bekerja di Indonesia? Bukankah akan lebih baik jika pekerjaan tersebut diberikan untuk rakyat kita sendiri," kata Said Iqbal dalam keterangan resminya, dikutip dari Media Indonesia, Senin, 29 Juni 2020.

    Ia mengatakan, jika alasan masuknya ratusan TKA tersebut dibutuhkan keahliannya, Iqbal kurang sependapat. Karena PT Virtue Dragon Nickel Industry sendiri sudah cukup lama ada di Konawe, Sulawesi Tenggara.

    "Itu artinya selama ini perusahaan dan pemerintah gagal memenuhi persyaratan bahwa TKA yang bekerja di Indonesia harus tenaga ahli dan melakukan transfer of khowledge dan transfer of job," kata Said Iqbal.

    Hal ini mengacu pada UU Nomor 13 Tahun 2003 sudah diamanatkan bahwa setiap satu orang TKA wajib ada pendamping 10 orang pekerja lokal. Apabila selama ini TKA yang bekerja di sana ada pendamping tenaga kerja lokal dan terjadi transfer pengetahuan, maka pekerjaan yang ada seharusnya sudah bisa dikerjakan tenaga kerja lokal. Sehingga tidak perlu lagi mendatangkan TKA.

    Bagi KSPI, hal itu merupakan pelanggaran terhadap ketentuan hukum yang mengatur mengenai penggunaan tenaga kerja asing.

    "Pelanggaran yang lain, seharusnya TKA bisa berbahasa Indonesia. Karena tidak bisa berbahasa Indonesia, hal ini akan menyulitkan dalam berkomunikasi, dalam rangka melakukan transfer of knowledge tadi," ujarnya.

    "Saya tidak yakin lulusan dari UI, ITB, dan kampus-kampus ternama di Indonesia tidak mampu memenuhi skill yang dibutuhkan di sana," tambah Said Iqbal. (Suryani Wandari Putri Pertiwi/MI)



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id