Syah Sabur
    Syah Sabur Jurnalis Senior Medcom.id

    Sumbangsih MRT Jakarta Mengatasi Pandemi

    Syah Sabur - 12 Agustus 2020 20:15 WIB
    Sumbangsih MRT Jakarta Mengatasi Pandemi
    Pembangunan proyek MRT tahap II akan segera dilanjutkan. Foto: Medcom.id/Syah Sabur.
    Jakarta: Di tengah pandemi covid-19, berbagai pihak melakukan upaya masing-masing untuk memeranginya sekaligus mengurangi dampaknya, baik dari aspek kesehatan maupun aspek ekonomi. Dalam hal ini, MRT Jakarta melakukan berbagai langkah untuk keduanya, baik aspek kesehatan maupun ekonomi.

    Untuk aspek kesehatan, sejak awal MRT menerapkan protokol yang ketat, baik untuk penumpang maupun karyawan MRT sendiri. Misalnya mereka menerapkan jaga jarak, pembatasan jumlah penumpang, penggunaan masker, dan hand sanitizer, maupun larangan berbicara dan menggunakan handphone bagi pengguna MRT.

    Dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat, sampai saat ini MRT merupakan moda angkutan yang sangat aman bagi masyarakat. Sebab, hingga saat ini tidak ada kasus covid-19 di MRT.

    MRT memang sangat serius dalam menghadapi covid-19. MRT pun rela jumlah penumpangnya hanya 22 ribu-23 ribu per hari di saat pandemi.

    Dari sisi ekonomi, di tengah banyaknya pekerja yang kena PHK, untuk pembangunan proyek fase dua, MRT memberikan kesempatan bekerja bagi orang-orang yang ahli di bidangnya, khususnya yang berkaitan dengan masalah infrastruktur. Mereka yang akan dilibatkan selama proses konstruksi MRT fase dua tersebut mayoritas adalah tenaga konsultan hingga tenaga konstruksi.

    "Konsultan dan konstruksi, pekerjaan konstruksi pembangunan proyek MRT ya macam-macam. Yang pasti, keahlian yang dibutuhkan umumnya berupa keahlian teknis," lanjut Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar, dalam Forum Jurnalis MRT, di Jakarta, Rabu 11 Agustus 2020.

    Menurut William, total belanja proyek MRT Jakarta fase dua pada tahun 2020 ini mencapai Rp1,55 triliun. Anggaran itu digunakan untuk memulai konstruksi paket pekerjaan CP201 Bundaran HI-Harmoni.

    Rinciannya, dana Rp1,55 triliun tersebut dibelanjakan untuk uang muka kontraktor, pembayaran uang muka Tunnel Boring Machine (TBM), pembayaran konsultan, pekerjaan traffic decking, pembelian material, pembangunan D-Wall, relokasi Tugu Jam Thamrin, pembongkaran JPO Bank Indonesia, pembangunan Halte TransJakarta, dan pekerjaan King Post.

    Serap 356 Pekerja

    "Dengan proyek sebanyak itu, kami bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 356 orang," ujar William.

    Dengan memberi kesempatan kerja bagi 356 orang, otomatis mereka bisa menghidupi keluarga mereka. "Kalau pekerja itu kepala keluarga, maka dia bisa menghidupi anak dan isterinya," tambahnya.

    Pihaknya yakin dengan dana sebesar itu dan banyaknya tenaga kerja yang terserap, maka proyek MRT Jakarta fase dua ini mendorong pemulihan ekonomi usai covid-19. "Bahkan, pada tahun 2021 angka belanja dari projek ini bakal meningkat, yakni Rp3,59 triliun. Total tenaga kerja yang terserap pun akan bertambah banyak menjadi 1.295 orang," ungkapnya.

    Untuk 2021, pekerjaan yang akan dilakukan berupa ekskavasi arkeologi dan berbagai pengerjaan seperti guide wall, D-wall, soil investigation, soil improvement, dan penggalian stasiun. Soil investigation dan soil improvement berkaitan dengan penelitian kondisi tanah dan langkah yang harus diambil. Sebab, Jakarta, khususnya kawasan Thamrin dan Monas, juga rawan terjadi penurunan tanah.

    "Puncaknya adalah peluncuran Tunnel Boring Machine yang berarti dimulainya proses penggalian terowongan sepanjang 1,9 kilometer yang dimulai dari Stasiun Bundaran HI sampai Harmoni," beber William.

    Dia juga menekankan pentingnya proyek ini segera berjalan karena manfaat yang akan dirasakan oleh masyarakat secara langsung. Sebab, ini adalah ekonomi riil, yang akan dihasilkan dari nilai proyek atau nilai investasi yang dibawa oleh MRT Jakarta.

    MRT fase 2A rute Bundaran HI-Kota sepanjang 5,8 km akan memiliki tujuh stasiun bawah tanah, yakni Sarinah, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Kedalaman stasiun mulai dari 17 meter hingga 36 meter. Fase 2A ini telah dibangun sejak 15 Juni 2020 lalu dimulai dengan paket CP201, yakni konstruksi Stasiun Sarinah, Stasiun Monas, dan pekerjaan terowongan.

    Mengingat komitmen MRT untuk membantu penanganan covid-19, William berjanji untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi para pekerja. Semua pekerja akan menjalani tes covid-19. Setelah itu, pekerja lapangan akan ditempatkan di kamp yang menyediakan makan-minum sehingga mereka tidak keluyuran di luar lokasi proyek. "Intinya, kami akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada satupun pekerja yang terpapar covid-19," pungkasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id