Lewat UMKM, Banting Setir Bikin Tajir

    Media Indonesia - 09 September 2020 10:31 WIB
    Lewat UMKM, Banting Setir Bikin Tajir
    Pekerja UMKM tengah memproduksi mi. Foto: Antara/Fauzan
    Jakarta: Pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19) membuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ketar-ketir. Banyak yang buntu karena usaha mereka yang berbasis jaringan terputus.

    Salah satu pelaku UMKM yang terdampak krisis ekonomi pandemi covid-19 adalah Nadia Atmaji. Usaha pakaian pesta yang telah ia rintis sejak akhir 2016 bersama kakaknya Annisa Puspasari dan ibunya Endang Atmaji, tak menghasilkan apa-apa alias Rp0. Usahanya terus merugi sejak akhir Maret 2020, ketika kasus positif covid-19 pertama ditemukan di Indonesia. 

    “Ketika pandemi, tidak ada lagi yang pesan baju kondangan karena penyelenggaraan pesta pernikahan sempat dilarang & masyarakat diminta tetap di rumah. Akhirnya mikir nih harus jualan apa ya supaya tetap muter (bisnisnya) dan penjahit kita tidak kehilangan pendapatannya karena tak ada orderan dari kita,” ujar Nadia.

    Ketiganya terus mencari cara agar ‘mesin bisnis’ tetap menyala. Melihat penggunaan masker kain meningkat, Nadia bersama Annisa dan sang Ibu mendirikan Mainadcollection. Brand ini difokuskan merambah bisnis masker kain Nusantara. Mereka menyadari, banyak pelaku UMKM lain yang mengadu nasib dengan memproduksi masker, sehingga masker yang mereka jual haruslah unik dan beda dengan yang lain. 

    Masker yang diproduksi Nadia menggunakan kain etnik dengan bermacam kain wastra Nusantara, mulai dari Jogja, Pekalongan, Cirebon, Garut, Lurik Jogja, Songket Bali, Endek Bali, Tenun Sengkong, Tenun Lombok, Tenun Flores, hingga Sasirangan Kalimantan. 
    Lewat UMKM, Banting Setir Bikin Tajir
    Salah satu rancangan Mainadcollection. Foto: Instagram @mainadcollection

    "Seluruh kain etnik adalah hasil karya tangan-tangan pengrajin dari berbagai pelosok Indonesia, bukan kain printing. Dengan membeli masker kami, pembeli turut membantu pengrajin daerah dan para penjahit untuk tetap bergeliat usahanya di tengah pandemi covid-19," ujar Annisa.

    Pemasaran dan penjualan produknya dilakukan secara daring, mengandalkan media sosial dan bergabung dengan e-commerce. Tidak disangka, masker kain Nusantara yang baru mereka luncurkan pada awal Juni lalu, laris manis. Sebanyak 300 masker kain laku terjual hanya dalam empat hari.

    "Alhamdulillah banget, kita ga nyangka antusiasme pembeli begitu besar. Ternyata mereka senang dengan masker kain kami yang dinilai memiliki unsur edukatifnya. Pembeli jadi mengetahui berbagai kain khas daerah," tambah Annisa.

    Salah satu pengguna masker Mainadcollection, Yorita Anwar, mengaku menyukai motif dan kualitas masker kain etnik. "Saya dapet maskernya dari anak saya. Saya suka motif kainnya, unik dan berkelas. Bisa dipakai dua sisi pula. Jadi, serasa punya dua masker kain. Tinggal dibolak-balik. Yang saya suka dari masker kain Mainadcollection adalah bahannya adem, jadi tak sesak," ujarnya.

    Sukses memperkenalkan kain etnik nusantara, Nadia dan Annisa kini merambah ke objek bisnis lain, yaitu produk pakaian sehari-hari. "Saat pandemi, banyak pekerja yang work from home, butuh pakaian rumah yang nyaman tapi tetap stylish dan tetap representatif saat untuk dipakai meeting dari rumah. Dailywear solusinya.” ujar Nadia & Annisa. 

    Mereka optimistis produk Dailywear mereka banyak diminati seperti halnya masker kain Nusantara.

    (UWA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id