Luhut Tangani Covid-19, Rupiah Menguat Tipis

    Husen Miftahudin - 16 September 2020 22:35 WIB
    Luhut Tangani Covid-19, Rupiah Menguat Tipis
    Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan investasi Luhut Binsar Pandjaitan - - Foto: dok Antara
    Jakarta: Penunjukan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan untuk membantu penanganan covid-19 di sembilan provinsi direspons positif oleh pelaku pasar keuangan. Hasilnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penguatan meski tipis.

    "Salah satunya adalah di mana Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada Menteri Luhut untuk membantu menanggulangi covid-19 yang saat ini terus menyebar. Pak Luhut diberikan waktu dua minggu untuk bisa menurunkan kasus infeksi covid-19 di Indonesia," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi kepada Medcom.id, Rabu, 16 September 2020.

    Ibrahim mengungkapkan, pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan hari ini berfluktuasi. Pada awal pembukaan sempat mengalami penguatan, kemudian melemah pada penutupan perdagangan siang, lalu akhirnya ditutup menguat tipis dua poin.

    Menurutnya, faktor positif lain yang membuat rupiah menguat adalah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang ternyata tidak total. Hal ini mendorong pergerakan konsumsi masyarakat.

    "Apa yang dilakukan Anies Baswedan dalam PSBB kemarin sudah sedikit lunak, sehingga membantu menggerakkan konsumsi masyarakat. Apa yang dilakukan oleh pemerintah juga tidak terganggu dengan adanya PSBB yang dilakukan di DKI Jakarta," paparnya.

    Pemerintah pusat juga saat ini terus memacu investasi terhadap proyek-proyek infrastruktur, kondisi ini didorong oleh pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memperbolehkan sektor infrastruktur di Ibu Kota terus berjalan. Upaya ini diharapkan dapat membantu perbaikan pertumbuhan ekonomi di kuartal keempat.

    "Tujuannya adalah supaya bisa mengurangi kontraksi ekonomi di kuartal berikutnya, kuartal keempat. Karena kita tahu bahwa di kuartal ketiga ini ada kemungkinan akan terjadi kontraksi, sehingga resesinya diprediksi tidak akan terjadi terlalu lama," ungkap dia.

    Kondisi ini membuat para pelaku pasar sedikit percaya diri walaupun dengan adanya PSBB dan penurunan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020. Termasuk kemungkinan penurunan rating obligasi Indonesia oleh lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch), dari peringkat BBB+ menjadi BBB-.

    "Kalau seandainya diturunkan menjadi negatif, investor asing dalam melakukan investasi di obligasi masih bisa dipertanggungjawabkan. Artinya tidak akan ada gagal bayar kalau masih rating-nya BBB-. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar sedikit lebih tenang, sebab di antara beberapa negara, Indonesia jadi salah satu negara yang cukup bagus dijadikan sebagai investasi bagi pelaku pasar," jelas Ibrahim.
     

    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id