comscore

Meski Banyak Jumlahnya, Ini Penyebab UMKM Belum Beri Kontribusi Besar pada Perekonomian

Nia Deviyana - 30 November 2021 14:56 WIB
Meski Banyak Jumlahnya, Ini Penyebab UMKM Belum Beri Kontribusi Besar pada Perekonomian
UMKM. Foto : MI/Adam.
Jakarta: Banyaknya jumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia belum berbanding lurus dengan besarnya kontribusi terhadap perekonomian. Pasalnya, pelaku UMKM terus menghadapi tantangan yang relatif kompleks.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan Muhri mengatakan sejumlah kendala kerap dihadapi pelaku UMKM terutama bagi mereka yang hendak menembus pasar ekspor, misalnya kurang pengetahuan dan keterampilan digital, minim modal, serta pemasaran dan branding yang tidak optimal.
Oleh karena itu, kata dia, UMKM membutuhkan pendampingan intensif dan menyeluruh. Edukasi, pelatihan, serta pendampingan dibutuhkan khususnya untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha sehingga lebih berdaya saing di lokapasar atau e-commerce.

“Produk UMKM sangat beragam tetapi memerlukan pendampingan. Bagus yang dilakukan e-commerce seperti Shopee, mendampingi dan memfasilitasi. Tidak sekadar menceburkan UMKM agar bersaing langsung di lokapasar," ucap Kasan dalam webinar Regional Summit 2021 bertajuk Go Global Melalui E-commerce, dikutip Selasa, 30 November 2021.

Kasan mengutarakan lebih jauh bahwa salah satu aspek utama yang perlu ada di dalam proses pendampingan adalah edukasi.

“Unsur di dalam pendampingan itu banyak, dimulai dari peningkatan knowledge pelaku usaha sendiri. Hal ini perlu kerja sama dengan pemerintah daerah,” ucapnya.

Selain itu hal yang krusial adalah aspek pembiayaan usaha. Pemerintah bersama swasta sebetulnya sudah memiliki sejumlah program pendanaan, misalnya difasilitasi lembaga pembiayaan ekspor maupun oleh perbankan pelat merah.

 Hal tak kalah penting lain agar UMKM berdaya saing secara internasional adalah sertifikasi. Dalam hal ini, khususnya sertifikasi yang diminta oleh negara tujuan ekspor, seperti sertifikasi terkait higienis dan kehalalan produk.

“Semua ini perlu difasilitasi agar UMKM bisa memenuhi persyaratan yang diminta pembeli,” imbuh Kasan.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming berpendapat bahwa produk UKM dalam negeri sebetulnya berpeluang untuk bisa bersaing di pasar global. Sebab, Indonesia memiliki beragam produk yang unik dan berkualitas.

 “Tapi untuk bisa ekspor, UMKM kita harus naik kelas dulu dari segi kualitas, pemasaran dan branding, pengemasan, dan lainnya,” ujar dia.

Gibran memberi contoh, yakni kendala pengemasan produk yang belum memadai. Kemasan memainkan peran strategis dalam pemasaran produk karena dapat berpengaruh terhadap branding serta harga jual. Menurutnya, pelatihan atau pendampingan terkait hal semacam ini memerlukan kolaborasi pemerintah dengan pihak swasta, misalnya platform lokapasar Shopee.  

“UMKM kita jangan takut memasang harga tinggi kalau memang produknya berkualitas bagus. Semua ini permasalahan klasik. Maka dengan keterlibatan (swasta) seperti adanya Kampus Shopee di Surakarta, itu sangat membantu,” pungkas Gibran.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id