comscore

Pabrik Pupuk dan Mandat Pembangunan Industri Petrokimia

Desi Angriani - 17 November 2021 17:26 WIB
Pabrik Pupuk dan Mandat Pembangunan Industri Petrokimia
Ilustrasi pabrik Pupuk Kaltim - - Foto: dok Pupuk Kaltim
Jakarta: Industri petrokimia disebut-sebut menjadi tumpuan perekonomian nasional di masa depan. Sebab, sektor ini menyediakan beragam bahan baku untuk kebutuhan industri manufaktur atau industri hilir.

Sebut saja produk plastik, elektronik, otomotif, pipa, kabel listrik, wadah kosmetik, hingga kemasan makanan kedap udara. Sayangnya, bahan baku yang dibutuhkan dalam membuat produk tersebut seperti polipropilena (PP), polivinil klorida (PVC), polietilena (PE), hingga polistirena (PS) masih bergantung pada impor.

 



Hal ini karena industri petrokimia nasional masih kesulitan dalam menciptakan nilai tambah atau melakukan substitusi impor. Padahal Indonesia memiliki cadangan gas alam, nafta, dan batu bara yang cukup melimpah bagi sektor tersebut.

Wajar jika pemerintah membidik Teluk Bintuni di Papua Barat sebagai kawasan industri petrokimia terpadu lantaran memiliki cadangan gas bumi yang mencapai 23,7 triliun kaki kubik (tcf). Konstruksi KIK seluas 2.112 hektare itupun ditargetkan rampung pada 2022, dan beroperasi di 2023.

Adapun pembangunan KIK Teluk Bintuni telah menarik minat perusahaan petrokimia asal Eropa, Chayil Energy, dengan rencana investasi sebesar USD2 miliar atau sekitar Rp28 triliun. Sementara dari dalam negeri, PT Pupuk Indonesia (Persero) mendapat mandat untuk menggarap pembangunan pabrik pupuk dan petrokimia di KIK tersebut.

Amanah ini diberikan lantaran anak usahanya, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menjadi klaster industri petrokimia pertama di Indonesia yang berdiri pada 1977.

Pabrik Pupuk dan Mandat Pembangunan Industri Petrokimia
Kawasan Pupuk Kaltim lengkap dengan dermaganya - - Foto: sumber Pupuk Kaltim

Setidaknya ada lima industri petrokimia yang berdiri di kawasan Pupuk Kaltim dan menghasilkan komoditas beragam, berupa amonia, urea, metanol dan amonium nitrat. Dengan potensi metanol sebagai produk turunan polyethylene atau polipropilen, dimetil eter, dan methyl tertiary-butyl ether, ini akan menjadi anchor industry tahap pertama. Apalagi kebutuhan metanol di Indonesia tahun ini mencapai 871 ribu ton.
 
"Kami saat ini merencanakan untuk membangun pabrik pupuk di kawasan Bintuni. Kami telah menugaskan PT Pupuk Indonesia, sebagai BUMN yang terbesar, untuk melaksanakan proyek tersebut," ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu, 17 November 2021.

Arifin menambahkan cadangan migas di wilayah Indonesia Timur juga masih besar dan dapat dimanfaatkan dalam pembangunan pabrik petrokimia. Berdasarkan survei seismik, baru 30 persen potensi migas di kawasan tersebut yang dieksplorasi. Di sisi lain, Kementerian ESDM juga tengah membangun kilang gas alam cair (LNG) Tangguh Train 3 dengan nilai investasi USD9 miliar.

"Kilang itu diproyeksikan rampung pada kuartal III-2021," ungkap Arifin.

Adapun Pupuk Kaltim mendorong pemanfaatan teknologi baru dalam pengembangan industri kimia atau sesuai implementasi roadmap Making Indonesia 4.0. Transformasi ini membuat industri kimia lebih efisien, inovatif dan produktif sehingga dapat memacu peningkatan ekspor, sekaligus menekan ketergantungan akan impor.

Untuk penetrasi pasar ekspor, Pupuk Kaltim menerapkan Sistem Prediksi Harga melalui implementasi Artificial Intelligence (AI) serta Distribution Planning and Control System (DPCS), berupa inovasi geospasial teknologi dan Internet of Things (IoT) untuk optimalisasi distribusi.

Dari sisi fasilitas, Pupuk Kaltim menerapkan pelabuhan berwawasan lingkungan berdasarkan aspek Green Port Guideline dan Rating Tool, sesuai ketetapan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Pengelolaan dan pengoperasian Terminal Khusus (Tersus) Pupuk Kaltim juga didasari keputusan Kementerian Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, yang mengatur lokasi serta posisi pelabuhan beroperasi.

Strategi penunjang lainnya, yakni aplikasi iPortLog, untuk melakukan monitoring proses pengapalan secara online dan real time, yang sekaligus mempercepat proses bisnis di pelabuhan.

Pupuk Kaltim siapkan Rp36,25 triliun bangun pabrik di Bintuni

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi mengaku akan menyiapkan USD2,5 miliar atau setara Rp35,9 triliun dalam membangun pabrik pupuk baru di kawasan industri petrokimia, Teluk Bintuni, selama lima tahun ke depan.

Pabrik tersebut akan memproduksi pupuk urea, amonia, dan metanol dengan kapasitas masing-masing 3.500 Metric Ton Per Day (MTPD), 2.500 MTPD, dan 3.000 MTPD. Namun, produksi metanol akan dilakukan secara joint venture dengan partner strategis, dengan mayoritas produksi dipegang oleh Pupuk Kaltim.

"Jadi lima tahun dari sekarang insyaAllah kita akan memiliki suatu operasi yang cukup signifikan di Bintuni. Bintuni ini kalau dari sisi besar gas yang kita akan olah kira-kira separuh yang kita olah di Bontang. Cukup signifikan besar," kata Rahmad dalam keterangan resminya.

Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman menyebut kebutuhan pendanaan untuk proyek Bintuni akan dipenuhi melalui initial public offering (IPO) atau penawaran umum saham perdana. Rencana IPO Pupuk Kaltim akan dilakukan pada kuartal II-2022 dengan total pendanaan yang didapat digunakan sebagai pengembangan pabrik pupuk di Papua Barat.

Untuk suplai gas, Bakir sudah mengajukan alokasi gas pada Januari 2021 kepada Kementerian ESDM. Sementara amonia urea sebesar 102 BBTUD, dan metanol 99 BBTUD. Penandatanganan MoU gas dengan Genting Oil sendiri sudah dilakukan pada 17 Juni 2021 dengan target PJBG pada Desember 2021.
 
"Alhamdulilah sudah dimediasi dengan baik oleh Kementerian ESDM dan SKK Migas, kami sudah negosiasi dan hasilnya cukup bagus. Harga gas yang disepakati antara PI dan Genting Oil untuk Amonia Urea dan metanol di angka USD3,6 plus formula. Cukup kompetitif," terang Bakir.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengaku akan mendukung rencana PT Pupuk Indonesia (Persero) dan anak usahanya, PT Pupuk Kaltim, untuk membangun pabrik pupuk di Bintuni, Papua Barat. Dukungan tersebut diberikan dalam pengurusan izin-izin yang diperlukan, termasuk insentif fiskal berupa tax holiday dan tax allowance.

"Saya janji sama Pak Dirut, urusan ekspansi nanti, izinnya semua diurus di BKPM. Pemerintah dan BUMN atau perusahaan harus kolaborasi. Karena kalau menahan izin, itu berarti menahan penciptaan lapangan pekerjaan, menahan sumber pendapatan negara, sama juga menahan pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan menahan perbaikan peringkat kemudahan berusaha kita di mata dunia internasional," ucap Bahlil dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 16 April 2021.

Menanggapi pengembangan di Teluk Bintuni, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut sektor petrokimia masih menguntungkan dan potensial untuk diinvestasikan pada 2022. Kendati sempat mengalami penurunan pada kuartal III karena pembatasan mobilitas, permintaan terhadap petrokimia akan kembali pulih secara bertahap seiring dengan pemulihan ekonomi.

Namun, tantangannya adalah kenaikan harga nafta akibat kenaikan harga minyak dunia yang disertai potensi penurunan rupiah menimbulkan risiko peningkatan biaya produksi karena sebagian besar bahan baku masih diimpor.

“Kami melihat beberapa indikator di industri petrokimia menunjukkan peningkatan di 2021 seperti polyethylene dan polypropylene yang volume impornya secara kumulatif meningkat dari Januari hingga September,“ kata Josua dalam Webinar Economic Outlook yang diselenggarakan Permata Bank di Jakarta, Rabu, 17 November 2021.

Mengulik bisnis Pupuk Kaltim

Selain mengolah bahan-bahan mentah tertentu menjadi bahan-bahan pokok yang diperlukan untuk pembuatan pupuk, petrokimia, agrokimia, agroindustri, dan bahan kimia lainnya, Pupuk Kaltim juga memproduksi utilitas pabrik seperti steam, listrik, dan air demineralisasi untuk mencukupi kebutuhan industri.

Di sektor perdagangan, Pupuk Kaltim menjalankan distribusi dan perdagangan urea, amoniak, produk pupuk, petrokimia, agrokimia, agroindustri, dan bahan kimia baik secara domestik dan internasional, termasuk impor bahan baku, bahan pendukung, peralatan produksi pupuk, dan bahan kimia.

Pada bidang jasa, Pupuk Kaltim menjalankan riset dan pengembangan yang terdiri dari pengembangan produk, teknologi, hingga jasa pelayanan perawatan pabrik. Pengembangan riset produk memungkinkan Pupuk Kaltim mengembangkan produk-produk baru yang akan dipasarkan melalui pasar retail.

Untuk jangka pendek, Pupuk Kaltim mengembangkan produk dan usaha baru melalui diversifikasi produk berbasis gas alam yaitu amonia menjadi asam nitrat dan amonium nitrat.

Berikut 7 pengembangan bisnis Pupuk Kaltim yang dihimpun dari website pupukkaltim.com:

1. Pengoperasian Pabrik 5 (2015)

Pabrik 5 mulai dibangun pada 2011 dengan kapasitas produksi urea dan amonia masing-masing sebesar 3,435 juta ton per tahun dan 2,740 juta ton per tahun. Dengan begitu, Pupuk Kaltim memiliki lima pabrik Urea, lima pabrik Amoniak, tiga pabrik NPK Blending, satu pabrik NPK Fusion, dan satu pabrik Boiler Batu Bara.

2. Pembangunan Gudang Batubara (2015)

Pupuk Kaltim membangun gudang batubara berkapasitas 30 ribu ton untuk menampung kebutuhan steam di beberapa pabrik sehingga reliability boiler batu bara dapat terjamin dengan baik.

Pabrik Pupuk dan Mandat Pembangunan Industri Petrokimia
Ilustrasi pembangunan gudang batu bara berkapasitas 30 ribu ton - - Foto: sumber Pupuk Kaltim

3. Pembangunan Rail Mounted Harbour Cranedi Dermaga-4 (2016)

Untuk menunjang dan mempercepat proses loading dan unloading rate di Dermaga-4, Pupuk Kaltim menambahkan fasilitas Rail Mounted Harbour Crane (RMHC) dengan kapasitas 500 MTPH dibangun sejak 2014 hingga 2016. Pembangunan tersebut dilaksanakan karena melihat pengembangan perusahaan ke depan dengan beberapa pabrik baru sehingga fasilitas untuk mempercepat proses loading dan unloading rate di Dermaga-4 tersebut perlu ditingkatkan.

4.  Pembangunan Urea Bulk Storage (UBS) VI (2017)

Pembangunan Gudang Urea Bulk Storage (UBS) VI berkapasitas 100 ribu ton dan sudah dilengkapi dengan fasilitas conveyor system telah dilaksanakan sejak 2015 dan selesai pada 2017. Pembangunan gudang tersebut dibangun untuk memenuhi kebutuhan penyimpanan pupuk urea Pupuk Kaltim, khususnya karena adanya tambahan produksi dari pabrik terbaru Pupuk Kaltim yaitu Pabrik 5 berkapasitas 2,740 juta ton per tahun.

5. Proyek Pembangunan Pabrik Kelapa Sawit (2018-2020)

Perusahaan melalui anak usahanya PT Kalimantan Agro Nusantara (Kalianusa) yang merupakan perusahaan patungan dengan PT Perkebunan Nusantara XIII membangun Pabrik Kelapa Sawit berkapasitas 30 ton tandan buah segar (TBS)/jam yang menghasilkan minyak kelapa sawit/crude palm oil (CPO) sebesar 40 ribu ton per tahun di Kabupaten Kutai Timur.

6. Pembangunan Gudang Bahan Baku Curah NPK (2020-2021)

Dalam rangka memenuhi mendukung operasional dan menjaga kontinuitas bahan baku Pabrik NPK, perusahaan sedang melakukan pembangunan gudang bahan baku curah berkapasitas 45 ribu ton untuk penyimpanan bahan baku KCl curah dan DAP curah yang dilengkapi dengan fasilitas conveyor dari Dermaga ke Gudang.

7. Proyek Pembangunan Pabrik Ammonium Nitrat (2020-2022)

Perusahaan melalui anak usahanya PT Kaltim Amonium Nitrat (KAN) yang merupakan perusahaan patungan dengan PT Dahana Investama Corp (anak perusahaan Dahana) telah melakukan penandatanganan kontrak pada 18 Desember 2019 untuk pembangunan Pabrik Asam Nitrat berkapasitas 60 ribu MTPY dan pabrik Amonium Nitrat berkapasitas 75 ribu MTPY di Kawasan Industri PT Kaltim Industrial Estate (KIE).

Kinerja kuartal III-2021 cetak rekor

Pupuk Kaltim juga meraih laba tertinggi dalam 44 tahun pada kuartal-III 2021 yakni sebesar Rp4,1 triliun. Produksi pupuk yang dihasilkan mencapai 5,15 juta ton atau 106 persen dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Rinciannya, produksi urea mencapai 2,72 juta ton dari target 2,54 juta ton dan produksi amoniak mencapai 2,26 juta ton dari target 2,09 juta ton.

Pabrik Pupuk dan Mandat Pembangunan Industri Petrokimia
Grafis produksi pupuk semester I-2021 - - Foto: sumber Pupuk Kaltim

Di sisi lain, Pupuk Kaltim juga mencatatkan penjualan sebesar 3,49 juta ton atau 104 persen dari RKAP. Penjualan paling banyak disumbang oleh produk urea, yakni 2,65 juta ton dari target 2,6 juta ton. Sedangkan produk amonia mencatatkan penjualan sebanyak 664 ribu ton dari target 585 ribu ton.

"2021 menunjukkan kami keluar sebagai pemenang, sampai kuartal III kami berhasil meraih laba Rp4,1 triliun," ucap Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi dalam keterangan resminya.

Adapun kinerja ekspor juga tercatat positif sebesar 1,75 juta ton atau 103 persen dari target RKAP. Pasar ekspor Urea Pupuk Kaltim mayoritas berada di Asia Tenggara disusul Asia Selatan, Asia Timur, Australia, Meksiko, Amerika Latin dan Amerika Serikat. Sedangkan untuk pasar amonia, didominasi oleh negara-negara Asia seperti Filipina, Vietnam, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan India.

Sementara itu, Program Makmur yang dilaksanakan oleh Pupuk Kaltim dan induk usahanya, Pupuk Indonesia berhasil meningkatkan produktivitas pertanian hingga 145 persen terutama pada komoditas padi dan jagung.

Salah satu keberhasilan Program Makmur PKT tercermin dari peningkatan produktivitas padi di Banyuwangi, Jawa Timur pada September 2021, yang mencapai sembilan ton per hektare dari sebelumnya lima ton per hektare. Pendapatan petani padi pun meningkat sekitar Rp24 juta per hektare, dari sebelumnya maksimal Rp10 juta per hektare.
 
Berdasarkan capaian kuartal III-2021, luas tanam PKT untuk Program Makmur mencapai 13.796 hektare atau 115 persen dari target 12 ribu hektare. Jumlah tersebut terbagi pada komoditas padi seluas 2.452 hektare, jagung 3.085 hektare, kelapa sawit 6.220 hektare dan komoditas lainnya seperti cabai, bawang merah, bawang putih, kakao, dan tebu seluas 2.039 hektare.

Sedangkan dari sisi produktivitas rata-rata petani padi pun naik 145 persen dengan keuntungan 147 persen, serta produktivitas jagung mencapai 140 persen dengan keuntungan 157 persen.
 
"Sementara untuk akuisisi petani, Program Makmur telah menggandeng 6.557 petani dari target 9.000 orang atau sekitar 72,8 persen dari target,” tambah Rahmad.

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id