Pemerintah Ciptakan 5 Langkah Strategis Demi Pengembangan BBN

    Husen Miftahudin - 03 Desember 2020 09:40 WIB
    Pemerintah Ciptakan 5 Langkah Strategis Demi Pengembangan BBN
    Ilustrasi. FOTO: MI/Aries Munandar



    Jakarta: Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan Bahan Bakar Nabati (BBN) berbasis sawit telah menjadi bagian dari strategi ketahanan energi pemerintah. Mandatori biodiesel 30 (B30) berbasis sawit telah memproduksi 4,28 juta ton biodiesel pada semester I-2020.

    Secara khusus, pemerintah menciptakan lima langkah strategis untuk pengembangan BBN. Pertama, dengan menjamin program B30 berjalan sesuai target. Kedua, riset dan perencanaan pengembangan B40 dan B50 baik dari sisi teknis dan ekonomis, meliputi roadtest serta pengujian pada mesin pembangkit listrik tenaga diesel.






    "Ketiga, melalui kerja sama dengan Pertamina dalam mendorong program greenfuel dengan memproduksi green diesel, green gasoline dan green avtur beserta studi kebijakan, efisiensi, teknologi, pasokan, insentif dan infrastruktur pendukung, beserta pengembangan industri pendukung seperti metanol dan katalis," ujar Dadan dalam acara Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 New Normal secara virtual, Rabu, 2 Desember 2020.

    Keempat, lanjutnya, pengembangan hidrogenasi minyak sawit (HPO) bekerja sama dengan Pertamina, Pupuk Indonesia, ITB, BPDP-KS dan pemangku kepentingan lain. Kelima, memanfaatkan lahan reklamasi atau bekas pertambangan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara dan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi lahan bekas tambang, serta bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk menentukan komoditas yang paling cocok.

    "Pemerintah sedang melakukan uji coba HPO (D-100) yang dimulai sejak pertengahan 2020. Secara kualitas, sejauh ini HPO lebih bagus daripada biofuel atau jenis diesel lainnya. HPO sangat mirip dengan minyak diesel namun terkait nilai kalori, diesel lebih sedikit dibanding HPO," ungkap Dadan.

    Lebih lanjut, ia menekankan, diperlukan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan dalam pengembangan program bakar bakar nabati sesuai dengan roadmap yang telah dibuat. "Kami menginginkan sustainable biodiesel sehingga kami juga membutuhkan sustainable fund sebagai dukungan," tegasnya.

    Dalam mendukung program ini, VP Strategic Planning PT Kilang Pertamina Prayitno mengungkapkan telah membangun beberapa infrastruktur untuk memenuhi perencanaan ini. Adapun tiga langkah strategis pertamina di antaranya modifikasi unit pada Kilang Cilacap dengan melanjutkan CPO 3.000 barel per hari untuk menghasilkan diesel hijau.

    "Kedua, memodifikasi lebih banyak unit selain perawatan kelapa sawit dan fasilitas lainnya sehingga target mereka melanjutkan CPO 6.000 barel per hari," urainya.

    Terakhir, Pertamina akan membangun kilang baru yang lebih besar dari kilang Cilacap yakni kilang Plaju dengan perkiraan kapasitas 20 ribu barel per hari, pakan CPO. "Kemudian akan berfokus pada produksi green diesel dan green avtur," pungkas Prayitno.  
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id