Peroleh Dana Segar, Krakatau Steel Harap Industri Pulih

    Annisa ayu artanti - 28 Desember 2020 20:49 WIB
    Peroleh Dana Segar, Krakatau Steel Harap Industri Pulih
    Ilustrasi. Foto: AFP



    Jakarta: Selain PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), emiten baja yakni PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) juga memperoleh pencairan penerbitan Obligasi Wajib Konversi (OWK) sebesar Rp3 triliun dengan tenor tujuh tahun.

    Hal itu disampaikan Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim setelah menandatangani Perjanjian Penerbitan OWK dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) selaku pelaksana investasi.

     



    Berdasarkan perjanjian tersebut, Krakatau Steel berencana untuk melakukan penerbitan OWK yang akan dikonversi dengan Saham Baru melalui mekanisme PMTHMETD dalam rangka memperbaiki posisi keuangan dengan memperhatikan ketentuan POJK HMETD, dan dilaksanakan dalam rangka dukungan pendanaan oleh Pemerintah untuk pelaksanaan program PEN sesuai dengan PMK 118/2020.

    "Dengan adanya dukungan dana ini, kami berharap operasional industri hilir dan industri pengguna dapat terpulihkan seperti sedia kala," kata Silmy dalam keterangan tertulis, Senin, 28 Desember 2020.

    Silmy juga menjelaskan, adanya dana segar ini akan membantu menjaga pasar baja dalam negeri. Sebab, jika pasar yang sebelumnya dipenuhi oleh produk Krakatau Steel tidak dapat dipasok, maka akan berpeluang dimasuki oleh produk impor.

    Lebih lanjut, Silmy menuturkan emiten baja pelat merah tersebut juga berkomitmen untuk menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance, dan mematuhi Anggaran Dasar serta peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam penggunaan dana investasi pemerintah. Dengan demikian, stimulus investasi pemerintah yang diberikan mampu memberikan dampak positif terhadap penguatan industri baja dari hulu hingga hilir, serta berdampak pada pergerakan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

    Dampak pandemi covid-19 telah membuat kegiatan operasional dan produksi di industri baja hulu, industri baja hilir, dan industri pengguna mengalami penurunan sebesar 30 persen hingga 50 persen karena rendahnya permintaan serta kemampuan modal kerja yang terbatas.

    Pada kuartal I-2020 permintaan terhadap berbagai macam produk baja seperti HRC, CRC, wire rod, baja lapis seng, dan baja lapis aluminium seng mengalami penurunan sebesar 10 persen hingga 50 persen.

    "Akibat penurunan permintaan ini banyak operasional industri baja terpukul dan kesulitan cash flow," jelas Silmy.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id