Surplus Neraca Perdagangan Belum Bisa Dongkrak Rupiah

    Husen Miftahudin - 16 Februari 2021 17:15 WIB
     Surplus Neraca Perdagangan Belum Bisa Dongkrak Rupiah
    Rupiah. Foto : AFP.



    Jakarta: Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai membaiknya data neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2021 belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Mata uang Garuda tersebut justru terjerembab di penutupan perdagangan hari ini.

    "Namun membaiknya data neraca perdagangan tersebut membuktikan bahwa pemerintah bekerja keras untuk menghidupkan kembali perekonomian yang sebelumnya terjadi stagnasi yang disebabkan oleh pandemi covid-19 yang belum ada kejelasan kapan akan berakhir," ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Selasa, 16 Februari 2021.




    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor bulan lalu sebesar USD13,34 miliar, turun 6,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun nilai ekspor per Januari 2021 sebesar USD15,3 miliar atau naik 12,24 persen, sehingga neraca perdagangan RI membukukan surplus sebanyak USD1,96 miliar. Surplus neraca perdagangan RI itu sudah terjadi selama sembilan bulan beruntun.

    Menurut Ibrahim, para pelaku pasar menanti kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) untuk periode Februari 2021 yang diputuskan pada 18 Februari mendatang. Suku bunga acuan itu diharapkan turun 0,25 persen, sementara sebagian analis memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga di level 3,75 persen.

    "Dari informasi tersebut, ada kemungkinan besar Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di 3,75 persen dengan melihat bank sentral global sampai saat ini masih mempertahankan suku bunga dalam setiap pertemuannya. Selain itu menguatnya mata uang rupiah di bawah Rp14 ribu sudah cukup bagus, dan ini mengindikasikan bahwa fundamental ekonomi masih bisa dikendalikan," paparnya.

    Dari faktor eksternal, data ekonomi AS mencatat jumlah klaim tunjangan pengangguran pada 6 Februari tercatat sebanyak 793 ribu klaim, masih lebih tinggi dari prediksi Reuters sebanyak 747 ribu klaim. Selain itu, sentimen konsumen juga menunjukkan penurunan menjadi 76,2 di bulan ini, dari bulan sebelumnya 79 dan menjadi yang terendah sejak Agustus 2020 lalu.

    Dengan rilis data yang menunjukkan perlambatan pemulihan ekonomi tersebut, alasan pemerintah AS untuk segera menggelontorkan stimulus fiskal senilai USS1,9 triliun semakin menguat. Selain itu, untuk memulihkan perekonomian AS yang mati suri akibat covid-19, Presiden AS Joe Biden juga memborong sejumlah besar pasokan vaksin.

    Di Uni Eropa (UE), kemungkinan akan memutuskan kapan dan bagaimana pemerintah akan mulai mengurangi dukungan untuk ekonomi mereka antara Maret dan Mei, dengan peluncuran vaksin di wilayah tersebut yang mencabut penguncian covid-19 dan dimulainya kembali aktivitas ekonomi. Para Menteri Keuangan UE akan bertemu di kemudian hari untuk membahas situasi dan prospek ekonomi kawasan saat ini.

    "Selain itu peluncuran vaksin covid-19 yang agresif di Inggris akan memungkinkan negara tersebut untuk melihat pemulihan ekonomi yang lebih cepat daripada rekan-rekannya di Eropa," jelas Ibrahim.

    Adapun mengutip data Bloomberg pada penutupan perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap USD melemah dibandingkan penutupan hari sebelumnya, yakni berada di posisi Rp13.930 per USD. Rupiah melemah 12 poin atau setara 0,14 persen.

    Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah justru berada di zona hijau pada posisi Rp13.927 per USD. Rupiah menguat 16 poin atau setara 0,11 persen dari Rp13.943 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

    Begitu pula dengan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp13.875 per USD atau menguat 71 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp13.946 per USD.

    "Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka melemah namun ditutup menguat di rentang Rp13.900 per USD hingga Rp13.950 per USD," tutup Ibrahim.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id