Pemerintah Ajak Masyarakat Gemar Konsumsi Sagu

    Gervin Nathaniel Purba - 20 Oktober 2020 23:53 WIB
    Pemerintah Ajak Masyarakat Gemar Konsumsi Sagu
    Ilustrasi sagu. (Foto: MI/Amiruddin)
    Jakarta: Upaya Pemerintah dalam mengembangkan sagu nasional terus dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memprioritaskan pengembangan industri sagu berbasis perkebunan sesuai amanat Perpres No. 18 tahun 2020 tentang RPJM nasional tahun 2020-2024.

    Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdalifah Macmud mengatakan bahwa sagu merupakan komoditas penting sebagai asupan makanan sehat pengganti beras. Masyarakat diajak untuk mulai mengonsumsi sagu sebagai pengganti beras.

    "Masyarakat jangan hanya tergantung kepada beras sebagai sumber utama pangan nasional. Mulai saat ini kita harus berupaya mewujudkan sagu sebagai salah satu pangan Indonesia," ujar Musdalifah saat mengikuti Pekan Sagu Nasional, dikutip keterangan tertulis, Selasa, 20 Oktober 2020.

    Menurut Musdalifah, saat ini Indonesia memiliki luas lahan sagu sekitar 5,5 juta hektare (ha). Namun pada 2019, lahan sagu yang dimanfaatkan baru sekitar 314 ribu ha, atau 5,79 persen dengan proporsi olahan 96 persen oleh perkebunanan rakyat, dan 14,4 persen dikelola oleh perkebunan swasta.

    "Ini menunjukan bahwa potensi lahan sagu kita masih cukup besar dan perlu kita kembangkan dan optimalkan. Apalagi sagu memiliki dampak bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan peningkatan ekonomi," katanya.

    Musdalifah menyampaikan, kontribusi ekspor sagu pada 2019 mencapai 108,89 miliar dari total volume ekspor sebanyak 26,6 ribu ton dengan negara tujuan India, Malaysia, Jepang, Thailand, dan Vietnam.

    "Kondisi ini membuktikan bahwa produk sagu Indonesia sangat diminati pasar global. Terlebih sagu memiliki potensi yang sangat penting dan bukan hanya menjaga ketahanan pangan saja tetapi untuk menghasilkan devisa negara dan kesejahteraan rakyat," katanya.

    Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Momon Rusmono mengatakan, pemerintah baru saja mengoptimalkan lahan sagu seluas 314 ribu ha. Sagu bisa menjadi alternatif pangan sehat dan bergula rendah yang bisa dikonsumsi masyarakat Indonesia.

    "Dari 5,5 juta ha, baru 314 ribu ha saja yang digunakan. Itu pun dengan provitas 3,57 ton per ha, yang sebenarnya bisa ditingkatkan lagi jadi 10 ton," katanya.

    Menurut Momon, provitas yang rendah disebabkan lebih kepada metode pengolahan yang masih tradisional. Untuk itu, Kementan sedang menyiapkan beberapa kebijakan agar optimalisasi sagu menjadi bahan pangan pokok alternatif pengganti beras.

    "Kebijakan itu berupa perluasan area tanaman sagu serta upaya peningkatan produktivitas dan peningkatan kualitas dari sagu itu sendiri. Untuk produktivitas ini tentu teman-teman LitBang agar provitas meningkat, lalu kualitas ditingkatkan melalui fasilitasi sarana prasarana sagu dan diversifikasi produk tidak hanya untuk papeda namun juga yang lain," katanya.

    Di tempat yang sama, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengaku optimistis bahwa Provinsi Papua Barat mampu mengembangkan sagu dengan pesat. Apalagi luas areal sagu di Provonsi Papua Barat mencapai 510 ribu dan baru digarap sebagai dusun dan kebab sagu seluas 20 ribu ha, atua sekitar 3,9 persen.

    "Ini harus menjadi momentum gerakan awal untuk merangkai kerjasama yang erat antara berbagai stakeholder. Supaya pengelola sagu mulai dari hulu hingga ke hilir memiliki dampak pada kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id