Penurunan Harga Gas Diharap Lebih Merata

    Angga Bratadharma - 27 Januari 2021 10:59 WIB
    Penurunan Harga Gas Diharap Lebih Merata
    Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Sumatra Utara (Sumut) Ridwan Goh. FOTO: Mark Dynamics Indonesia



    Deli Serdang: Dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai negara berkembang, pemerintah telah melakukan banyak terobosan. Salah satunya adalah dengan cara menurunkan harga gas yang harapannya bisa menggeliatkan industri di dalam negeri.

    Kementerian ESDM pada April 2020 telah menetapkan penurunan harga gas industri dari USD10,28 per mmtbu menjadi USD6,52 per mmbtu untuk tujuh sektor manufaktur berbasis gas. Dalam Kepmen ESDM Nomor 89 K/10/MEM/2020 tentang Tata Cara Penetapan Penggunaan dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri, terdapat 197 perusahaan yang menerima manfaat penurunan harga gas.






    Penurunan harga gas ini menjadi angin segar bagi perusahaan-perusahaan yang menggunakan gas dalam jumlah banyak. Pemotongan biaya produksi ini akan membuat perusahaan menjadi efisien dan dapat memberikan daya saing yang lebih kompetitif. Terlebih lagi jika produk yang dihasilkan di ekspor ke negara lain untuk bersaing.

    Tidak hanya itu, harga gas yang murah membuat perusahaan dapat berjalan lebih efisien sehingga menambah pundi-pundi laba bagi perusahaan. Laba tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya operasional lainnya, terutama membayar gaji karyawan.

    Kondisi ekonomi seluruh dunia usai covid-19 babak belur. Di Indonesia, menurut Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, angka pengangguran yang sebelumnya 6,8 juta meningkat menjadi 10,3 juta, atau kenaikan sebesar 51,47 persen. Kenaikan signifikan tersebut tentunya sangat berdampak negatif terhadap ekonomi nasional.

    Oleh karena itu, melalui kebijakan penurunan harga gas yang sama rata dan adil, pemerintah seharusnya bisa membantu perusahaan-perusahaan untuk menjadi lebih efisien dalam menjalankan bisnis sehingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun tidak akan meningkat lagi kedepannya.

    Tetapi, fakta di lapangan memiliki cerita berbeda. Masih banyak perusahaan yang belum mendapatkan manfaat penurunan harga gas ini. Alasan yang paling lumrah ditemukan adalah karena distributor gas belum menyelesaikan perjanjian dengan seluruh industri hulu gas, sehingga penetapan tarif gas senilai USD6 per mmbtu harus tertunda.

    Artinya, beberapa perusahaan yang berbasis gas masih saja harus membayar di tarif sebelumnya yakni sekitar USD9-USD11 per mmbtu. Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Sumatra Utara (Sumut) Ridwan Goh mengaku mendapat laporan yang sama dari beberapa perusahaan yang menggunakan gas dalam jumlah banyak.

    "Kami mengapresiasi langkah pemerintah untuk menurunkan harga gas ini, walaupun masih belum benar-benar sepenuhnya menjadi USD6 per mmbtu. Pengajuan dari beberapa perusahaan kepada pemerintah masih belum mendapatkan persetujuan hingga saat ini," kata Ridwan, dalam keterangan resminya, Rabu, 27 Januari 2021.

    Ketika ditanya tentang PT Mark Dynamics Tbk, Ridwan juga menuturkan hal yang serupa. Ekspansi pabrik baru Mark belum mendapatkan persetujuan untuk mencicipi harga gas industri yang ekonomis ini.

    "Kalau untuk pabrik pertama sudah kami rasakan manfaatnya, kami juga berterima kasih untuk itu. Tapi untuk pabrik baru ini tarif yang dibebankan masih USD10,28 per mmbtu," kata Ridwan.

    Ridwan mengatakan Mark bukan satu-satunya perusahaan yang masih belum mendapatkan manfaat ini sepenuhnya. Ridwan berharap pemerintah dapat merampungkan eksekusi ini secara cepat dan merata.

    "Saya di sini berbicara sebagai medium, mewakilkan beberapa perusahaan, tidak hanya Mark Dynamics, untuk menyampaikan dengan itikad baik kepada pemerintah bahwa pemerataan harga gas ini pasti akan memberikan dampak baik terhadap ekonomi Indonesia secara keseluruhan," imbuhnya.

    Penurunan biaya gas ini tentunya mempertebal marjin perusahaan sehingga pembayaran pajak kepada negara juga semakin bertambah. "Kami berharap adanya respons positif dari pemerintah untuk saling membantu dan melengkapi, apalagi dalam keadaan ekonomi seperti ini di mana banyak perusahaan yang menggencarkan efisiensi untuk bertahan hidup," ucapnya.

    Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, dengan harga gas industri di Indonesia sebesar USD9-USD11 per mmbtu tergolong sangat mahal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Sebagai contoh, harga gas di Malaysia pada 2021 hanya sebesar USD5,48 per mmbtu.

    Langkah pemerintah untuk menurunkan harga gas secara merata menjadi USD6 per mmbtu ini akan membuat pabrik-pabrik Indonesia menjadi lebih kompetitif untuk head-to-head dengan pabrik-pabrik di negara lain. 

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id