comscore

Kesenjangan Produksi Jadi Biang Kerok Impor Kedelai

Insi Nantika Jelita - 18 Januari 2022 18:12 WIB
Kesenjangan Produksi Jadi Biang Kerok Impor Kedelai
Ilustrasi kedelai - - Foto: Benny Bastiandy
Jakarta: Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan kesenjangan antara kebutuhan kedelai dalam negeri dengan produksi kedelai lokal menjadi biang kerok tingginya impor komoditas tersebut.

Saat ini kebutuhan kedelai mencapai tiga juta ton per tahun, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya mencapai 300 ribu ton per tahun.
"Dulu pada 1992 kebutuhan kedelai kita dua juta ton. Sekarang sudah 20 tahun naik menjadi tiga juta ton, sedangkan produksi kedelai lokal yang tadinya dua juta ton, menurun terus sampai 2021 hanya 300 ribu ton. Sehingga, kebutuhan kita yang tinggi menyebabkan impor kedelai mencapai 2,7 juta ton," ungkap Aip dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa, 18 Januari 2022.

Selain itu, harga jual kedelai yang murah menjadi permasalahan yang membuat petani lebih memilih menanam beras ketimbang kedelai. Dia menggambarkan, jika petani memiliki tanah satu hektare dan ditanami kedelai, hanya dapat memproduksi 1,5-2 ton per hektare.

Sementara itu, harga jual kedelai hanya mencapai Rp8.500 per kg, sehingga petani hanya dapat menghasilkan Rp7 juta per satu hektare.

"Kalau padi itu bisa produksi 5-6 ton per satu hektare tanah. Kalau harga beras itu Rp10 ribu per kg, petani bisa dapat Rp60 juta satu kali tanam dengan jangka waktu tanam antara padi dan kedelai yang sama. Jadi lebih menguntungkan tanam padi, jagung, cabai dan komoditas lainnya dibandingkan tanam kedelai," ujar Aip.

Menurutnya, kedelai lokal memiliki kualitas yang lebih tinggi jika dibandingkan kedelai impor. Namun, kedelai impor dikatakan telah memiliki standarisasi yang justru menjadi kelebihan jika dibandingkan dengan kedelai lokal.

"Kedelai impor itu sudah bersih dan punya standarisasi. Kalau kedelai lokal itu kadang ada yang masih ada daunnya, tanahnya dan membuat kita para pengrajin tempe dan tahu harus membersihkan terlebih dahulu," ucap Aip.


Di sisi lain, industri pengrajin tahu tempe membutuhkan pasokan kedelai setiap harinya sehingga impor menjadi solusi agar produksi tak berhenti.


(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id