Target Konektivitas Tol Trans Sumatra di 2024 Sulit Tercapai, Ini Alasannya

    Suci Sedya Utami - 08 Juli 2021 16:47 WIB
    Target Konektivitas Tol Trans Sumatra di 2024 Sulit Tercapai, Ini Alasannya
    Ilustrasi jalan tol. MI/Ahmad Novriwan



    Jakarta: Rencana menyambungkan konektivitas darat di Pulau Sumatera melalui proyek tol Trans Sumatra di masa akhir pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di 2024 nampaknya akan sulit dicapai.

    Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, PT Hutama Karya (HK) untuk saat ini hanya bisa menyelesaikan pembangunan untuk tahap I. Proyek tol Trans Sumatra terdiri dari tiga tahap.

     



    "Kita pecah jadi tiga tahap yaitu saat ini 13 ruas yang telah dimulai," kata Tiko, sapaan akrabnya, dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Kamis, 8 Juli 2021.

    Ia mengatakan di tahap I pun pembangunannya membutuhkan dana yang cukup besar. Hutama Karya bahkan membutuhkan sokongan dana dari penyertaan modal negara (PMN) Rp68 triliun untuk membangun tahap I hingga 2023.

    Ia bilang saat ini pihaknya pun  tengah melakukan penyesuaian Peraturan Presiden (Perpres) Tol Trans Sumatera untuk merefleksikan perubahan target penyelesaian serta menyusun ulang struktur pendanaan yang diharapkan untuk tahap berikutnya ada kepastian PMN dan dukungan cash flow, sehingga tidak mengganggu kesehatan Hutama Karya.

    "Tahap II sedang kita diskusikan dengan PUPR dan Kemenkeu apakah memang dimungkinkan di 2024. Tapi yang menghubungkan sampai dengan ke Duma dan Sigli akan ditunda sampai dengan pemerintahan berikutnya," ujar Tiko.

    Selain itu, lanjut mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini, untuk tahap II dan selanjutnya dalam Perpres tersebut juga akan diubah struktur penugasannya. Kementerian BUMN mengajukan agar Hutama Karya tidak lagi mencatatkan tol ini sebagai aset perusahaan, namun dicatatkan di Badan Layanan Umum (BLU).

    Hutama Karya hanya akan bertindak sebagai pelaksana operasional. Sebab, penugasan untuk membangun proyek Tol Trans Sumatera membuat utang Hutama Karya membengkak karena tidak disuplai oleh modal yang mencukupi.

    "Sehingga pengembangan tol Trans Sumatra ke depan enggak lagi membebani ekuitas maupun cash flow Hutama Karya. Hutama Karya sebagai kontraktor dan operator namun enggak mencatatkan utang maupun asetnya. Ini penting untuk memastikan bahwa Hutama Karya tidak mengalami permasalahan keuangan di masa yang akan datang," jelas Tiko.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id