Upaya PLN Tekan BPP dan Susut Jaringan

    Suci Sedya Utami - 23 Februari 2021 16:35 WIB
    Upaya PLN Tekan BPP dan Susut Jaringan
    Ilustrasi - - Foto: dok PLN



    Jakarta: PT PLN (Persero) berupaya untuk menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik seiring dengan kewajiban dalam menekan angka susut jaringan (losses).

    Direktur Bisnis Regional Bagian Jawa Madura dan Bali PLN Haryanto WS mengatakan perseroan telah menekan susut jaringan dari 10,58 persen di 2014 menjadi 9,75 persen di 2019. Tahun lalu hingga kuartal ketiga, susut jaringan tercatat sebesar 8,39 persen dari target sepanjang tahun sebesar 9,2 persen. Di 2021, susut jaringan ditargetkan menjadi sebesar 9,01 persen.




    "Kami bisa menurunkan BPP cukup besar meski memang losses-nya naik. Ini sedang kita benahi dengan membangun pembangkit di Barat," kata Haryanto dalam sosialisasi kebijakan ketenagalistrikan, Selasa, 23 Februari 2021.

    Meskipun diakui saat ini akan semakin sulit untuk menurunkan susut jaringan hingga di bawah delapan persen. Hal ini lantaran komposisi pelanggan dan topologi jaringan listrik PLN yang cukup berbeda dibanding negara lain.

    Ia mengatakan di negara maju atau negara industri, angka susut jaringan memang cenderung lebih rendah, karena komposisi konsumen listriknya didominasi oleh pelanggan bisnis dan industri. Selain itu, dari sisi kepadatan beban, konsumsi setrum negara maju jauh lebih besar, meski dalam lingkup area kecil.

    Sementara di Indonesia, konsumsi listriknya belum sebesar negara maju sehingga susut jaringan relatif lebih besar. Selain itu, sebagian besar konsumen PLN merupakan pelanggan rumah tangga dengan tingkat susut jaringannya jauh lebih tinggi, yakni di kisaran 10 persen. Sebab, kata Haryanto, untuk melayani pelanggan rumah tangga, PLN harus mengalirkan setrum ke jaringan yang relatif panjang.

    “Kalau dibilang PLN tidak efisien, memang tidak efisien, karena kondisinya berbeda jauh dengan yang dihadapi mereka,” tutur dia.

    Ia mencontohkan, di Pulau Jawa, listrik dialirkan dari wilayah timur yang memiliki pasokan melimpah ke wilayah barat yang kebutuhannya tinggi. Hal ini lantaran adanya ketidakseimbangan beban regional. Transfer listrik melalui transmisi yang terbentang hingga lebih dari 1.000 kilometer (km) ini menyebabkan adanya susut jaringan.

    Namun demikian, PLN masih mengupayakan untuk menekan susut jaringan dengan membangun pembangkit listrik di wilayah barat Jawa sehingga bisa menutup kebutuhan di wilayah tersebut. Selain itu, pihaknya juga melakukan pengembangan transmisi, penambahan gardu, perbaikan tegangan rendah, dan lainnya

    Di saat yang bersamaan, perseroan juga mengupayakan untuk menekan BPP dengan mengirimkan setrum dari wilayah timur ke barat lantaran menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang cost-nya lebih murah.

    Dalam kesempatan yang sama, anak usaha PLN, PT Pembangkitan Jawa Bali melakukan berbagai efisiensi di pembangkitan untuk menekan Specific Fuel Consumption (SFC).

    Direktur Operasi I PJB Sugiyanto menjelaskan pihaknya mengganti jenis batu bara yang digunakan di PLTU Paiton dengan kalori yang lebih rendah sehingga menghasilkan penghematan hingga Rp260 miliar per tahun. Pihaknya juga menjalankan co-firing di PLTU dengan mengkombinasikan batu bara dengan biomassa.


    "Batu bara kita pakai batu bara yang bersih dan efisien. Ini juga terjadi penghematan memang secara termal enggak lebih baik tapi secara BPP lebih baik 2,5-7,5 persen lebih hemat," pungkas Sugiyanto.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id