comscore

Usaha Mengganggu 'Reputasi' Dolar AS

Arif Wicaksono - 03 Mei 2022 08:52 WIB
Usaha Mengganggu Reputasi Dolar AS
Dollar AS. Foto : MI/Immanuel Antonius.
BANYAK negara berusaha mengurangi transaksi dengan mata uang dolar AS sebagai mata uang utama dalam transaksi perdagangan global. Meskipun masih menjadi mata uang utama, volume transaksi perdagangan global dengan mata uang dolar AS semakin berkurang selama 10 tahun terakhir.

Dolar AS menjadi mata uang utama di dunia semenjak perjanjian Bretton Woods pada 1944, yang menentukan mata uang USD35 per ons emas mengacu kepada ketentuan dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Namun, transaksi dengan menggunakan mata uang Paman Sam itu sudah mencapai level 59 persen pada 2021 dari total transaksi mata uang global atau turun dari 73 persen di 2001. Angka ini mendekati level 45 persen sesudah perjanjian Bretton Woods dilakukan yakni pada era 1960-an.

Tren ini bisa semakin meningkat dengan usaha sejumlah negara mulai mengurangi transaksi dolar AS seperti Arab Saudi, yang berusaha mengurangi transaksi menggunakan dolar AS untuk transaksi minyak secara global. Arab Saudi akan mulai menerima mata uang yuan sebagai pembayaran dari Tiongkok yang membeli sepertiga dari produksi minyak Arab Saudi.

Arab Saudi melakukan ini karena sudah menjadi salah satu mitra dagang terbesar Tiongkok di Kawasan Teluk. Ditambah Tiongkok berperan penting dalam proyek modernisasi masa depan dalam Vision 2020 Arab Saudi yang mendorong pembangunan infrastruktur. Selain itu perang Rusia-Ukraina juga membuat negara-negara yang terancam kena sanksi dari Paman Sam memilih bertransaksi menggunakan mata uang lokal secara bilateral ketimbang dolar AS.

Wakil Direktur IMF Gita Gopinath mengatakan kepada Financial Times, sanksi Barat terhadap Rusia bisa menciptakan transaksi yang terpecah-pecah dan bisa merusak fundamental kekuatan mata uang dolar AS.

Apalagi Rusia juga memaksa negara lain yang membeli minyak dan gas (migas) dari Kremlin yang membayar dalam mata uang rubel, sehingga membuat negara-negara mitra menjauhi transaksi dengan dolar AS. Bargaining Rusia cukup kuat, karena di tengah harga minyak mentah dunia yang naik tajam, Rusia mau menjual harga minyak dengan harga diskon.


Penggunaan mata uang lain dalam perdagangan dunia


Selain itu, penggunaan mata uang lain dalam perdagangan dunia membuat bank sentral mendiversifikasi cadangan devisa mereka, dan porsi dolar AS akan diturunkan. Hal ini sudah dilakukan Israel yang menurunkan porsi dolar AS sebagai cadangan devisa mereka dengan memasukkan mata uang yuan.

Bertransaksi dengan penggunaan mata uang lokal cukup menguntungkan kedua negara. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCS) dalam transaksi bilateral memiliki banyak keuntungan. Salah satunya dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu.

Dengan kebijakan LCS ini, perdagangan antarnegara bisa dilakukan tanpa harus mengonversikan dahulu ke mata uang dolar AS. Artinya perdagangan maupun investasi tidak akan terganggu ketika terjadi gejolak mata uang asing. Indonesia telah memiliki inisiatif pelaksanaan LCS dengan sejumlah negara bilateral seperti Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok. Langkah ini tentunya bisa memfasilitasi perdagangan dan investasi langsung kedua negara.

Tekanan ke dolar AS

Mata uang dolar AS semakin tertekan dengan usaha Rusia mengaitkan mata uang rubel dengan emas. Inisiatif ini membuat aset safe haven emas bisa semakin bernilai, yang bisa melawan kekuatan dolar AS, karena negara-negara pengimpor migas rusia semakin membutuhkan emas sebagai alat alternatif pembiayaan selain rubel.

Sucor Sekuritas dalam risetnya mengatakan, opsi Rusia menggunakan emas sebagai alternatif pembayaran ekspornya ke India dan Tiongkok bisa membuat nilai tukar emas semakin menguat di tengah kisruh geopolitik dunia. Mata uang dolar AS semakin naik dalam beberapa akhir ini dengan indeks dolar AS naik 13,27 persen dalam setahun. Kenaikan Indeks karena potensi kenaikan suku bunga agresif the Fed sempat menekan aset safe haven lainnya seperti emas, yuan, dan euro.

Namun, kenaikan mata uang dolar AS terhadap mata uang acuan global itu diiringi kekhawatiran ekonomi AS yang diprediksi akan mengalami resesi pada tahun ini. Sinyal melemahnya ekonomi AS tampak dari pertumbuhan ekonominya yang hanya tumbuh sebesar 1,7 persen pada kuartal I-2022 atau tumbuh negatif secara kuartalan.

Skenario jika ekonomi AS melemah semakin kuat dengan kinerja perusahaan manufaktur AS yang melemah seperti Apple dan bank-bank besar di Paman Sam. Selain itu, semakin kuatnya mata uang dolar AS bisa menekan kinerja ekspor AS karena membuat harga barang produk AS semakin mahal bagi negara tujuan. Apalagi daya beli masyarakat global semakin tertekan dengan kenaikan harga komoditas.

Reputasi dolar AS masih kuat

Namun, menurunnya mata uang dolar AS juga tak serta menyurutkan reputasinya sebagai mata uang acuan global utama. Tak pelak karena mata uang lainnya seperti euro, yuan, dan yen masih jauh dari terhadap dolar AS dalam volume transaksi perdagangan global.

Kepala Ekonom Allianz Mohamed El Erian mengatakan, saat ini tidak ada mata uang lain yang dapat atau akan mengisi posisi dolar AS karena posisinya yang sangat jauh ketimbang mata uang utama lainnya dalam perdagangan global. "Dan, karena tidak satu pun dari ini akan cukup besar untuk menggantikannya, hasil akhirnya adalah sistem moneter internasional yang lebih terfragmentasi," jelas dia dikutip dari The Guardian.

Tiongkok yang berambisi mempopulerkan mata uang yuan juga mengalami kekurangan, karena negara itu belum melakukan keterbukaan terhadap perdagangan yuan secara global. Tiongkok sebagai negara tertutup terkesan mengatur yuan sebagai alat dagang utama untuk menopang perdagangan produk manufaktur mereka ke mitra dagang.

"Jika suatu negara bercita-cita (mata uangnya) menjadi mata uang global maka pada dasarnya modal bergerak sepenuhnya dan bebas, liberalisasi akun modal penuh, dan konvertibilitas penuh nilai tukar, yang tidak benar (terjadi) sekarang di Tiongkok," kata Gita Gopinath dilansir dari The Business Times, Jumat, 29 April 2022.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id