Injak Rem Darurat di Ibu Kota

    Angga Bratadharma - 10 September 2020 13:21 WIB
    Injak Rem Darurat di Ibu Kota
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUMARYANTO

    Menurut riset CORE Indonesia selama PSBB transisi sebenarnya aktivitas perekonomian mulai berangsur pulih meski terbatas. Namun dengan pengetatan kembali PSBB, Piter berpandangan aktivitas ekonomi akan terhambat seperti yang terjadi pada periode Maret-Juni lalu.

    Kondisi itu mengartikan peluang Indonesia untuk masuk dalam resesi seperti yang sudah dialami sejumlah negara kian besar. Setelah ekonomi kuartal II mengalami minus 5,32 persen, ekonomi kuartal III diprediksi masih akan berkontraksi meski angkanya menurun antara nol sampai dengan minus dua persen.

    Adapun DKI Jakarta menyumbang sekitar 15-17 persen kue ekonomi nasional. Apabila perekonomian DKI Jakarta melambat bahkan berkontraksi, maka akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Artinya, proses pemulihan ekonomi nasional kian sulit.

    CORE Indonesia mencatat ketika pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta minus 8,22 persen pada kuartal kedua, kondisi itu tidak terpaut jauh dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang juga minus 5,32 persen. CORE menilai pertumbuhan ekonomi nasional kuartal kedua minus 5,32 persen akibat dipengaruhi sedikit banyak dari kinerja perekonomian di DKI Jakarta.

    Injak Rem Darurat di Ibu Kota
    Sumber: Pemprov DKI Jakarta

    "Berangkat dari fakta bahwa DKI Jakarta adalah salah satu penyumbang ekonomi terbesar di Indonesia, tentu ini akan berdampak terhadap semakin besar pula peluang ekonomi Indonesia akan tetap berada di level negatif pada kuartal ketiga," kata Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet.

    Sementara itu, bila dikaitkan dengan potensi yang sering dibicarakan orang belakangan ini tentang resesi, pengetatan PSBB di Jakarta diproyeksikan akan berpeluang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga berada di level negatif.

    "Karena kuartal kedua Indonesia sudah minus, tinggal kuartal ketiga lagi perdebatannya akan mencapai titik positif atau enggak. Kalau negatif, maka secara teknikal Indonesia akan terkena resesi sebab mengalami pertumbuhan minus dua kali berturut-turut," kata Yusuf.

    Kinerja Ekonomi Jakarta

    Mengutip data Bank Indonesia (BI) terungkap kinerja perekonomian DKI Jakarta menurun signifikan pada triwulan II-2020 dibandingkan dengan triwulan I-2020, sebagai dampak pandemi covid-19. Ekonomi DKI Jakarta terkontraksi sebesar 8,22 persen (yoy), setelah pada triwulan sebelumnya mampu tumbuh sebesar 5,06 persen (yoy).

    Perkembangan ini tidak terlepas dari pengaruh melemahnya ekonomi global, sejalan dengan pandemi covid-19 dan menurunnya aktivitas ekonomi domestik sebagai dampak kebijakan PSBB untuk mencegah penyebaran pandemi covid-19.

    Dari sisi pengeluaran, kontraksi pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen pengeluaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta, dengan kontribusi penurunan terdalam bersumber dari pengeluaran investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) dan Konsumsi Rumah Tangga (RT).
     

    Read All

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id