comscore

Jatuh Bangun Ekonomi RI, Resesi dan Bangkit Kembali

Nia Deviyana - 20 Oktober 2021 20:42 WIB
Jatuh Bangun Ekonomi RI, Resesi dan Bangkit Kembali
Ilustrasi. Foto: Medcom.id
PRESIDEN dan Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin hari ini resmi memasuki dua tahun kepemimpinannya. Menengok ke belakang pascapelantikan pada 20 Oktober 2019, hanya berselang beberapa bulan setelahnya Jokowi-Ma'ruf langsung dihadapkan pada pandemi covid-19 yang memaksa ekonomi dan rencana-rencana pembangunan menjadi terhambat.

Penanganan covid-19 di Tanah Air pun menuai banyak kontroversi di mana pemerintah enggan memberlakukan karantina wilayah atau lockdown lantaran beban anggaran akan semakin berat.
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, aspek kesehatan dan ekonomi sama pentingnya. Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk mengambil kebijakan yang dinilai pas.

Meski menuai pro dan kontra, kebijakan pemerintah juga cukup dimaklumi pelaku pasar. Pengamat Pasar Keuangan Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mencontohkan seperti DKI Jakarta, biaya untuk mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat Ibu Kota jika diberlakukan lockdown bisa mencapai Rp550 miliar per hari. Jika satu bulan, maka pemerintah harus menyiapkan anggaran sebesar Rp16,5 triliun.

Lalu sebagai gantinya, pemerintah melakukan pembatasan secara bertahap yang diperkuat dengan program jaring pengaman seperti  kartu prakerja, bantuan presiden (banpres) produktif, hingga bantuan langsung tunai.

Apakah kebijakan pemerintah tersebut berhasil membuat ekonomi RI bertahan? Berikut rangkuman perjalanan ekonomi Indonesia lewat kebijakan yang dilakukan Presiden Jokowi.

Masuk jurang resesi


Apa yang ditakutkan dari dampak pandemi covid-19 benar-benar terjadi saat Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi RI minus 3,49 persen pada kuartal III-2020. Artinya, Indonesia resmi masuk resesi setelah pada kuartal sebelumnya juga mencatat kontraksi pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 tumbuh 5,05 persen. Secara year to date (ytd), sejak kuartal I sampai dengan kuartal III, ekonomi tercatat kontraksi sebesar minus 2,03 persen.
 


Resesi ekonomi yang terjadi saat itu menjadi perhatian banyak kalangan. Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Mohammad Faisal menilai kontraksi ekonomi RI kuartal III-2020 yang mencapai 3,49 persen, cukup dalam. Menurutnya, kontraksi ekonomi seharusnya bisa tidak terlalu dalam karena pengetatan saat itu sudah mulai dilonggarkan.

Melihat data ekonomi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah terus berupaya menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.

Dia menjelaskan, meski masuk ke dalam resesi, namun angka itu lebih baik dari pertumbuhan ekonomi yang minus 5,32 persen di kuartal II-2020.

Ia juga memaparkan kontraksi ekonomi pada kuartal II terjadi karena adanya pembatasan sosial untuk mencegah penyebaran pandemi covid-19. Kondisi tersebut membuat konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tertekan.
 
Sementara di kuartal III, Sri Mulyani menyebut komponen pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi pemerintah sudah positif. Namun, komponen pengeluaran PDB lainnya masih terkontraksi meski membaik dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di sisi lain, masuknya Indonesia ke jurang resesi juga tidak terlalu mengejutkan. Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan Indonesia bukan satu-satunya negara yang terpuruk akibat pandemi.

"Situasi pandemi inilah yang membuat ekonomi berjalan dalam situasi ketidakpastian yang berkelanjutan dan memberikan tekanan yang dalam pada pertumbuhan ekonomi sampi pada level resesi. Pemerintah telah berupaya dengan kebijakan meningkatkan jumlah belanja bantuan sosial, bantuan modal pada UMKM, dan anggaran kesehatan yang besar untuk program menangani covid-19," jelasnya.
 
Namun, Misbakhun juga mengingatkan soal pentingnya perbaikan pada sisi permintaan (demand side). Menurutnya, harus ada perbaikan pada sisi konsumsi rumah tangga.
 
Dia menambahkan lebih dari 56 persen pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia didorong oleh konsumsi rumah tangga kelas menengah yang saat ini mengalami penurunan sangat drastis. Penurunan itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi bisa terkontraksi sangat dalam.
 
"Sampai saat ini kebijakan stimulus yang ada dan dilakukan oleh pemerintah masih belum ada yang menyentuh sisi perbaikan konsumsi kelas menengah, padahal mereka ini membutuhkan stimulus tersebut karena daya tahan mereka dalam melakukan konsumsi terbatas. Tanpa bantuan stimulus, mereka akan cenderung membatasi konsumsi," cetusnya.
 
 

Efektivitas stimulus ekonomi dan upaya keluar dari resesi


Merujuk pada ekonomi RI yang resmi masuk jurang resesi pada kuartal III-2020, Direktur Center of Econoic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pemerintah perlu melakukan perombakan terhadap sejumlah stimulus program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dianggap belum efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.
 
Bhima menjelaskan program stimulus yang tepat dan efektif dapat memulihkan keadaan perekonomian Indonesia dari resesi.
 
"Yang harus dilakukan adalah merombak stimulus PEN yang dianggap tidak membantu sektor usaha, misalnya, Kartu Prakerja, kemudian bantuan subsidi bunga dan penempatan dana di perbankan," kata Bhima, dikutip dari Antara.

Bhima menjelaskan stimulus tersebut dianggap tidak efektif untuk menyokong pergerakan ekonomi, seperti yang diharapkan pemerintah. Menurut dia, stimulus PEN dapat dialihkan pada industri atau jasa kesehatan, perlindungan sosial, dan penguatan bantuan subsidi untuk UMKM yang terdampak pandemi covid-19.

Kartu prakerja


Meski dianggap tidak efektif, kartu prakerja menjadi program yang dilanjutkan pemerintah pada 2021. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap sepanjang 2021 atau dari gelombang 12 sampai dengan gelombang 20 ada sebanyak 5,2 juta yang sudah diterima dan mendapatkan insentif Rp3,8 juta (per peserta) dengan total Rp7,3 triliun.

Sementara itu Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja mengungkapkan, sepertiga dari total penerima Kartu Prakerja kini sudah bekerja. Dari jumlah mereka yang berubah status menjadi sudah bekerja itu, perbandingan antara menjadi pelaku wirausaha dan karyawan hampir berimbang.
 
"Proporsi hampir 50:50 antara mereka yang sebelumnya menganggur kemudian menjadi wirausahawan dan karyawan itu konsisten dengan data serupa pada 2020," kata Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari.

Hingga pelaksanaan gelombang 21, Program Kartu Prakerja telah menjangkau 11,4 juta penerima, yakni 5,6 juta peserta pada 2020 dan 5,8 juga peserta pada 2021. Rata-rata peserta program Kartu Prakerja mengambil dua pelatihan atau lebih, namun Denni mencatat ada juga peserta yang sampai menyelesaikan 10 pelatihan dengan dana Rp1 juta yang tersedia.
 


Stimulus ekonomi juga diberikan pada pelaku usaha, utamanya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mengatakan telah disediakan stimulus pembiayaan untuk UMKM baik yang belum bankable (memenuhi persyaratan bank untuk mendapatkan kredit usaha) dan yang sudah bankable.

Pertama, kata dia, ialah Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang telah tersalur Rp14,21 triliun atau 92,35 persen kepada 11,8 juta usaha per 30 Juli 2020.
 
Kedua, subsidi bunga kredit usaha rakyat (KUR) sebesar 3 persen yang diperpanjang hingga Desember 2021. Ketiga, penyaluran KUR per 5 September sebesar Rp177,7 triliun kepada 4,8 juta debitur atau 70 persen dari target Rp253,64 triliun.
 
Selanjutnya, pembiayaan koperasi lewat Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) per 17 September 2021 telah tersalur Rp1 triliun atau sekitar 64,72 persen dari target Rp1,6 triliun kepada 128 koperasi.
 
Lalu, program pendanaan bagi usaha wirausaha pemula dengan nilai bantuan Rp7 juta per wirausaha kepada 1.800 wirausaha dengan total anggaran Rp12,6 miliar. Selain itu, dia menyampaikan bahwa pihaknya mendorong UMKM untuk bertransformasi ke digital.

Keluar dari resesi dan bangkit kembali


Setelah setahun penuh tekanan, Indonesia akhirnya berhasil keluar dari resesi ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh positif mencapai 7,07 persen (yoy) pada triwulan II-2021, dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pertumbuhan ini mengakhiri catatan kontraksi ekonomi berturut-turut sejak kuartal II tahun lalu hingga kuartal I tahun ini.

BPS menyatakan pertumbuhan ini dilatarbelakangi oleh upaya pemerintah yang gencar dalam menjalankan program vaksinasi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan mobilitas.  

Tak hanya itu, pertumbuhan juga dipengaruhi oleh perbaikan ekonomi global terutama beberapa negara yang menjadi mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok tumbuh 7,9 persen, Singapura 14,3 persen, Korea Selatan 5,9 persen, dan Vietnam 6,6 persen.

Namun, meski pertumbuhan ekonomi sudah membaik, Kepala  BPS Margo Yuwono memberi catatan bahwa ekonomi masih belum kembali ke kondisi sebelum pandemi covid-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, peningkatan belanja negara melalui berbagai macam bantuan sosial (bansos) menjadi pendorong tumbuhnya konsumsi masyarakat sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2021.
 
Hingga akhir Juni 2021, realisasi belanja bantuan sosial (bansos) mencapai Rp75,98 triliun atau sekitar 48,57 persen dari pagunya. Realisasi tersebut dimanfaatkan untuk penyaluran program-program bansos reguler maupun tambahan untuk pemulihan dampak covid-19.
 
Sederet stimulus ini diberikan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 9,9 juta KPM, bantuan pangan melalui kartu sembako kepada 15,93 juta KPM, dan bantuan tunai melalui Program Bantuan Sosial Tunai (BST) kepada 10,46 juta KPM.
 
Pemerintah juga melakukan pembayaran selisih kurang antara pemakaian riil dengan rekening minimum dan pembebasan biaya beban atau abonemen tagihan listrik sebesar Rp1,19 triliun untuk 1,14 juta pelanggan listrik penerima bantuan.
 
Selain itu, pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa kepada keluarga miskin atau tidak mampu di desa yang tidak menerima program bansos. Realisasi BLT Desa mencapai Rp4,99 triliun bagi lima juta KPM di 67.236 desa.
 
Berbagai stimulus yang diberikan pemerintah ini belum termasuk belanja pemerintah lainnya yang bisa berdampak positif terhadap perekonomian.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) optimistis perbaikan ekonomi domestik tetap berlanjut. Pada kuartal III-2021, kinerja perekonomian diprakirakan terus membaik, didukung kinerja ekspor yang tetap tinggi.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo menerangkan, perbaikan ekonomi yang berlanjut tercermin pada perkembangan indikator dini hingga Oktober 2021, seperti penjualan eceran, ekspektasi konsumen, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur, transaksi pembayaran melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Real-Time Gross Settlement (RTGS), serta ekspor.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,2 persen untuk tahun ini. Proyeksi IMF ini mengalami penurunan sebesar 0,7 poin dibandingkan dengan proyeksi Juli yang sebesar 3,9 persen.
 
Dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2021, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi ASEAN-5. Laju pertumbuhan lima negara utama ASEAN pada 2021 diperkirakan hanya mencapai 2,9 persen atau turun 1,4 poin dari 4,3 persen pada proyeksi sebelumnya.
 
"Penyebaran varian delta menjadi faktor utama dari revisi ke bawah yang dilakukan pada kawasan ini, selain jangkauan vaksinasi negara-negaranya yang relatif masih rendah dibanding negara maju," tulis laporan IMF.
 
Meski demikian, penurunan proyeksi Indonesia tidak sedalam koreksi pada negara ASEAN-5 lain yakni Thailand yang diproyeksi tumbuh satu persen atau turun 1,1 poin, Malaysia 3,5 persen atau turun 1,2 poin, Filipina 3,2 persen atau turun 2,2 poin, serta Vietnam 3,8 persen atau turun 2,7 poin.

(DEV)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id