comscore

Jatuh Bangun Ekonomi RI, Resesi dan Bangkit Kembali

Nia Deviyana - 20 Oktober 2021 20:42 WIB
Jatuh Bangun Ekonomi RI, Resesi dan Bangkit Kembali
Ilustrasi. Foto: Medcom.id


Stimulus ekonomi juga diberikan pada pelaku usaha, utamanya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mengatakan telah disediakan stimulus pembiayaan untuk UMKM baik yang belum bankable (memenuhi persyaratan bank untuk mendapatkan kredit usaha) dan yang sudah bankable.
Pertama, kata dia, ialah Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang telah tersalur Rp14,21 triliun atau 92,35 persen kepada 11,8 juta usaha per 30 Juli 2020.
 
Kedua, subsidi bunga kredit usaha rakyat (KUR) sebesar 3 persen yang diperpanjang hingga Desember 2021. Ketiga, penyaluran KUR per 5 September sebesar Rp177,7 triliun kepada 4,8 juta debitur atau 70 persen dari target Rp253,64 triliun.
 
Selanjutnya, pembiayaan koperasi lewat Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) per 17 September 2021 telah tersalur Rp1 triliun atau sekitar 64,72 persen dari target Rp1,6 triliun kepada 128 koperasi.
 
Lalu, program pendanaan bagi usaha wirausaha pemula dengan nilai bantuan Rp7 juta per wirausaha kepada 1.800 wirausaha dengan total anggaran Rp12,6 miliar. Selain itu, dia menyampaikan bahwa pihaknya mendorong UMKM untuk bertransformasi ke digital.

Keluar dari resesi dan bangkit kembali


Setelah setahun penuh tekanan, Indonesia akhirnya berhasil keluar dari resesi ekonomi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia berhasil tumbuh positif mencapai 7,07 persen (yoy) pada triwulan II-2021, dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pertumbuhan ini mengakhiri catatan kontraksi ekonomi berturut-turut sejak kuartal II tahun lalu hingga kuartal I tahun ini.

BPS menyatakan pertumbuhan ini dilatarbelakangi oleh upaya pemerintah yang gencar dalam menjalankan program vaksinasi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan mobilitas.  

Tak hanya itu, pertumbuhan juga dipengaruhi oleh perbaikan ekonomi global terutama beberapa negara yang menjadi mitra dagang Indonesia seperti Tiongkok tumbuh 7,9 persen, Singapura 14,3 persen, Korea Selatan 5,9 persen, dan Vietnam 6,6 persen.

Namun, meski pertumbuhan ekonomi sudah membaik, Kepala  BPS Margo Yuwono memberi catatan bahwa ekonomi masih belum kembali ke kondisi sebelum pandemi covid-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, peningkatan belanja negara melalui berbagai macam bantuan sosial (bansos) menjadi pendorong tumbuhnya konsumsi masyarakat sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2021.
 
Hingga akhir Juni 2021, realisasi belanja bantuan sosial (bansos) mencapai Rp75,98 triliun atau sekitar 48,57 persen dari pagunya. Realisasi tersebut dimanfaatkan untuk penyaluran program-program bansos reguler maupun tambahan untuk pemulihan dampak covid-19.
 
Sederet stimulus ini diberikan melalui Program Keluarga Harapan (PKH) kepada 9,9 juta KPM, bantuan pangan melalui kartu sembako kepada 15,93 juta KPM, dan bantuan tunai melalui Program Bantuan Sosial Tunai (BST) kepada 10,46 juta KPM.
 
Pemerintah juga melakukan pembayaran selisih kurang antara pemakaian riil dengan rekening minimum dan pembebasan biaya beban atau abonemen tagihan listrik sebesar Rp1,19 triliun untuk 1,14 juta pelanggan listrik penerima bantuan.
 
Selain itu, pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa kepada keluarga miskin atau tidak mampu di desa yang tidak menerima program bansos. Realisasi BLT Desa mencapai Rp4,99 triliun bagi lima juta KPM di 67.236 desa.
 
Berbagai stimulus yang diberikan pemerintah ini belum termasuk belanja pemerintah lainnya yang bisa berdampak positif terhadap perekonomian.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) optimistis perbaikan ekonomi domestik tetap berlanjut. Pada kuartal III-2021, kinerja perekonomian diprakirakan terus membaik, didukung kinerja ekspor yang tetap tinggi.
 
Gubernur BI Perry Warjiyo menerangkan, perbaikan ekonomi yang berlanjut tercermin pada perkembangan indikator dini hingga Oktober 2021, seperti penjualan eceran, ekspektasi konsumen, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur, transaksi pembayaran melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Real-Time Gross Settlement (RTGS), serta ekspor.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,2 persen untuk tahun ini. Proyeksi IMF ini mengalami penurunan sebesar 0,7 poin dibandingkan dengan proyeksi Juli yang sebesar 3,9 persen.
 
Dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2021, IMF juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi ASEAN-5. Laju pertumbuhan lima negara utama ASEAN pada 2021 diperkirakan hanya mencapai 2,9 persen atau turun 1,4 poin dari 4,3 persen pada proyeksi sebelumnya.
 
"Penyebaran varian delta menjadi faktor utama dari revisi ke bawah yang dilakukan pada kawasan ini, selain jangkauan vaksinasi negara-negaranya yang relatif masih rendah dibanding negara maju," tulis laporan IMF.
 
Meski demikian, penurunan proyeksi Indonesia tidak sedalam koreksi pada negara ASEAN-5 lain yakni Thailand yang diproyeksi tumbuh satu persen atau turun 1,1 poin, Malaysia 3,5 persen atau turun 1,2 poin, Filipina 3,2 persen atau turun 2,2 poin, serta Vietnam 3,8 persen atau turun 2,7 poin.

(DEV)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id