Selamat dari Resesi

    Angga Bratadharma - 04 Agustus 2020 12:11 WIB
    Selamat dari Resesi
    Foto: dok MI/Ramdani.
    RESESI ekonomi menjadi kata yang sering diucapkan sekarang ini akibat pandemi covid-19 memberikan hantaman sangat keras tidak hanya dari segi kesehatan tapi imbasnya terhadap perekonomian. Bahkan, negara maju seperti Amerika Serikat (AS) pun tidak berkutik melawan virus mematikan itu.

    Hal itu dibuktikan dengan Departemen Perdagangan AS mencatat ekonomi Amerika Serikat terkontraksi cukup tajam yakni minus 32,9 persen di kuartal II-2020. Pelemahan yang sangat dalam itu menunjukkan parahnya hantaman virus korona yang memicu resesi ekonomi Paman Sam, terlebih kasus infeksinya terus meningkat hingga sekarang ini.

    Kondisi itu merupakan penurunan terdalam sejak Pemerintah AS mulai membuat catatan pertumbuhan ekonomi pada 1947. Sedangkan di kuartal pertama 2020, Produk Domestik Bruto (PDB) riil mengalami kontraksi di tingkat tahunan sebesar lima persen. Adapun sampai saat ini, Pemerintah AS masih terus berupaya memutus mata rantai penyebaran virus korona.

    Baca: Resesi, Ekonomi AS Minus 32,9% di Kuartal II-2020

    Menurut data yang dihimpun Medcom.id, Selasa, 4 Agustus 2020, tidak hanya AS, beberapa negara di dunia juga sudah memberikan lampu merah atau dengan kata lain sudah mengalami resesi. Hal itu sejalan dengan pernyataan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang menyebut resesi di 2020 merupakan resesi yang lebih buruk sejak Depresi Hebat 1930-an.

    Bahkan, kerugian produksi global kumulatif sepanjang 2020 dan 2021 diperkirakan mencapai sekitar USD9 triliun atau lebih besar dari gabungan ekonomi Jepang dan Jerman. Adapun beberapa negara yang sudah berada di jurang terdalam krisis atau resesi ekonomi yakni Korea Selatan (Korsel).

    Korsel mencatat ekonomi terkontraksi 2,9 persen secara tahunan pada kuartal II-2020 dan 2,2 persen secara per kuartal. Korsel memasuki resesi perekonomian lantaran kinerja ekspornya di tahun ini menurun drastis dan berada pada level terburuk sejak 1963. Resesi ekonomi yang dialami Korsel di kuartal II-2020 itu akibat meluasnya penyebaran pandemi virus covid-19.

    Kemudian Singapura. Negeri Singa ini mencatat PDB kuartal kedua turun 12,6 persen secara year on year (yoy). Angka ini turun 0,3 persen dibandingkan dengan triwulan pertama. Pada basis tahunan yang disesuaikan secara musiman kuartal ke kuartal, ekonomi Singapura menyusut 41,2 persen pada kuartal kedua jika dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.

    Lalu ada Jepang. Ekonomi Jepang tercatat menyusut untuk kuartal kedua berturut-turut sejak periode Januari-Maret. Negeri Sakura ini memasuki resesi teknis sebagai akibat dari dampak buruk pandemi virus korona. Kantor Kabinet Jepang melaporkan ekonomi Jepang menyusut sebesar 3,4 persen pada periode Januari-Maret dibandingkan kuartal sebelumnya.

    Baca: Daftar Negara Masuk Jurang Resesi Akibat Covid-19

    Krisis Covid-19 Berbeda

    Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani tidak menampik krisis akibat covid-19 berbeda dibandingkan dengan krisis pada 1998 dan 2008. Lantaran karakteristiknya berbeda yang akhirnya membuat pemerintah berupaya terus menerus mengatasi krisis dengan menyiagakan stimulus fiskal hingga ratusan triliun dan memperlebar defisit anggaran hingga 6,34 persen.

    Sri Mulyani menuturkan krisis kali ini berbeda karena pemerintah harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus. Tak dipungkiri pandemi covid-19 juga telah memukul perekonomian masyarakat secara luas termasuk rumah tangga dan pelaku usaha, terutama UMKM.

    Namun demikian, dirinya tetap mewaspadai ancaman resesi setelah Singapura mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Meski demikian, Sri Mulyani menyebut sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Singapura berbeda.

    Menurut dia ekonomi Singapura sangat bergantung pada perdagangan internasional. Ketika terjadi pembatasan sosial akibat pandemi covid-19, semua kegiatan perdagangan internasional terhenti sehingga Singapura kehilangan sumber ekonominya.

    Sementara Indonesia, sumber pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada tingkat konsumsi, investasi, dan ekspor. Walaupun berbeda dengan Singapura namun pemerintah tetap mewaspadai ancaman resesi, sehingga seluruh instrumen disiapkan guna menjaga perekonomian.

    Selamat dari Resesi

    Pemerintah terus berupaya agar ekonomi Indonesia selamat dari resesi. Karenanya pemerintah gencar mengeluarkan beberapa kebijakan yang di antaranya meningkatkan belanja domestik. Kebijakan itu dinilai bisa mempertahankan perekonomian nasional dari resesi akibat pandemi covid-19 (korona).

    Adapun sejumlah kebijakan lainnya di antaranya melanjutkan proyek strategis nasional, penyaluran kredit usaha rakyat, dan penyaluran gaji ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS). "Hal ini seharusnya bisa mengangkat (perekonomian nasional)," kata Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi.

    Faisal beranggapan penggerak utama roda perekonomian Indonesia yakni belanja domestik. Karenanya dibutuhkan kebijakan yang dapat menopang belanja domestik. Dirinya melihat sektor ekonomi domestik menunjukkan sinyal perbaikan setelah sempat berhenti selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

    Dia meminta pemerintah memanfaatkan peluang yang ada. Ia khawatir bila tidak memanfaatkan peluang, resesi ekonomi Indonesia bisa mengarah ke depresi. "Maka ini harus ditopang, harus cepat-cepat kalau tidak kita akan kehilangan momentum tadi untuk mengungkit perekonomian," ujar dia.

    Baca: Krisis Ekonomi Saat Covid-19 Dipicu Krisis Kesehatan

    Sementara itu, Presiden Joko Widodo menginginkan agar perekonomian Indonesia tumbuh positif di kuartal ketiga. Hal itu dianggap Jokowi penting agar ekonomi Indonesia tidak semakin babak belur.

    "Di kuartal ketiga kita sudah harus naik lagi, kalau tidak, enggak ngerti lagi saya. Akan tetap lebih sulit kita," kata Jokowi.

    Atas dasar itu, dirinya menginstruksikan kepada seluruh kementerian/lembaga dan kepala daerah segera membelanjakan anggaran. Ia meyakini cara itu dapat mengatrol naik perekonomian Indonesia. "Saya mengajak semua untuk bergerak menumbuhkan ekonomi agar tidak makin turun tapi bisa diungkit lagi naik," ujar dia.

    Khusus untuk kementerian, Jokowi memerintahkan relaksasi cepat diberikan kepada sektor terkait. Misalnya, Kementerian Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (KUKM) memberi relaksasi dan insentif bagi pelaku usaha. Kementerian KUKM mengeluarkan kebijakan relaksasi penundaan angsuran dan jasa selama 12 bulan.

    Sampai saat ini, restrukturisasi telah dilakukan di 40 mitra koperasi. "Ini juga saya perintahkan cepat berikan yang namanya relaksasi, berikan restruktrurisasi kepada UKM dan koperasi agar tidak kena imbas dari pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat akibat covid-19," tegas Kepala Negara.

    Amunisi Bank Indonesia

    Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui akan terjadi kontraksi yang cukup dalam pada ekonomi domestik di kuartal II-2020. Hal ini sejalan dengan puncak dari dampak pandemi covid-19 yang terjadi pada periode tersebut sehingga wajar jika perekonomian nasional merosot tajam.

    Atas dasar itu, Perry membeberkan empat amunisi yang harus dilakukan Bank Indonesia bersama pemerintah, otoritas terkait, dan dunia usaha, agar Indonesia terhindar dari jurang resesi ekonomi. Pertama, membuka sektor-sektor ekonomi yang produktif dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat di era kenormalan baru (new normal).

    Kedua, pemerintah perlu fokus untuk mempercepat realisasi anggaran. Percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa mendorong pemulihan ekonomi dan meningkatkan permintaan domestik, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi domestik kedepannya.

    Ketiga, mempercepat program restrukturisasi kredit dunia usaha oleh perbankan ditambah dengan penyaluran kredit modal kerja. Hal ini dinilai akan mempercepat pemulihan ekonomi di tengah meluasnya penyebaran pandemi.

    Keempat, mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan. Dalam hal ini bank sentral telah melakukan digitalisasi sistem pembayaran melalui penyaluran bantuan sosial (bansos), elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, serta elektronifikasi transportasi.

    "Sebagaimana kita ketahui di kuartal kedua, khususnya April Mei itu adalah bagaimana langkah-langkah kita bersama untuk mencegah pewabahan pandemi covid-19, antara lain dengan PSBB. Sehingga wajar pada waktu itu berbagai aktivitas ekonomi rendah. Saya kira empat langkah itu insyaallah dengan bersama akan memperbaiki ekonomi ke depan," kata Perry.

    Ekonomi Indonesia Masuk 3 Besar Terbaik Dunia

    Lebih lanjut, Presiden Joko Widodo meyakini perekonomian Indonesia bakal masuk tiga besar terbaik dunia pada 2020. Ini berdasarkan prediksi IMF. "Managing Director IMF mengatakan Indonesia berada tiga besar paling baik. Pertama, Tiongkok masih tumbuh 1,9 persen, India akan tumbuh 1,2 persen, dan Indonesia berada di angka 0,5 persen plus," kata Jokowi.

    Namun, prediksi ini bersifat dinamis. Sebab, pandemi covid-19 (korona) sangat memengaruhi kondisi akhir perekonomian dunia. "Kita juga belum mendapatkan angka-angka yang paling akhir berapa, (berapa) posisi negara kita pertumbuhan ekonominya 2020," ujar dia.

    Baca: Perekonomian Indonesia Diprediksi Masuk 3 Besar Dunia

    IMF memprediksi perekonomian Prancis turun hingga -17,2 persen, Inggris -15,4 persen, Jerman -11,2 persen, dan Amerika Serikat -9,7 persen. Dia menyebut penurunan lantaran covid-19 berimbas pada geopolitik global. Apalagi, masalah Laut China Selatan memanas. Kemudian ditambah masalah Tiongkok dan Amerika yang tak kunjung reda.

    "Sebab itu, kita harus mengambil momentum, mengambil manfaat dari pandemi yang terjadi sekarang ini, tentu kita akan terus berjuang menyelesaikan masalah covid dan ekonomi," tegas Jokowi.

    Kepala Negara memerintahkan seluruh pihak mengubah pola kerja dan pikir. Dia menegaskan perlu ada terobosan dan pemangkasan birokrasi. "Perlu budaya baru dalam bekerja lebih cepat, harus berani melakukan short cut, terobosan, sehingga cara kerja kita tidak bertele-tele dan lambat," pungkas dia.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id