Ekonomi Kita: Kehidupan Koperasi dan UMKM

    Medcom - 09 Oktober 2020 18:09 WIB
    Ekonomi Kita: Kehidupan Koperasi dan UMKM
    Ilustrasi UMKM binaan Bank Indonesia. Foto: Medcom.id/Eko Nordiansyah.
    PERMASALAHAN berat ekonomi Indonesia yaitu kesenjangan pendapatan dan kemiskinan. Hal ini hanya dapat diselesaikan dengan melibatkan secara aktif koperasi dan para pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam usaha-usaha produktif yang berdaya saing.

    Entah mengapa, dengan perannya yang begitu besar, Pemerintah sering lupa. Sehingga dari waktu ke waktu harus diingatkan oleh rakyat melalui krisis ekonomi, seperti termuat dalam TAP MPRS Nomor XXII 1966, dan TAP MPR Nomor XVI/1998 untuk kembali kepada konstitusi, UUD 1945 terutama pasal 33.

    Perekonomian disusun berdasarkan pada asas kekeluargaan. Itu kata konstitusi. Akan tetapi dalam praktek keseharian, kita berekonomi selama 75 tahun merdeka, pesan konstitusi tersebut nyaris kita abaikan. Bahkan, pembangunan yang selama ini dijalankan, yang berfokus pada pertumbuhan cenderung memperparah kesenjangan dan tidak banyak menolong mengurangi angka kemiskinan.

    Pembangunan akan memiliki banyak makna apabila mereka yang di bawah terlibat dan memiliki akses pada sumber-sumber produksi/pertumbuhan. Orang-orang miskin yang jumlahnya masih puluhan juta adalah sumber daya yang harus diperankan secara produktif.

    Selain masalah-masalah struktural tersebut, lanjutnya, perekonomian kita menghadapi juga persoalan siklikal, seperti terbatasnya akspor, berpindahnya industri manufaktur ke negara lain, rendahnya produktivitas, kurangnya daya-saing tenaga kerja, dan iklim investasi secara umum yang kurang kondusif.

    Pembinaan koperasi dan UMKM yang sempat dilakukan beberapa waktu lalu, hanya menjadi alat politik. Koperasi dan UMKM pun semakin terpinggirkan. Peran koperasi dalam perekonomian terlalu kecil. Untuk membesarkannya tentu perlu investasi. Begitu pula dengan UMKM.

    Pangsa pasar UMKM dalam pembentukan PDB kita ingin ditingkatkan menjadi 65 persen, lebih dari yang sekarang sekitar 60 persen. Untuk hal itu pun sama, membutuhkan investasi. Dengan cara ini beberapa tujuan akan tercapai.

    Investasi mana akan meningkatkan proses pertambahan nilai (added value) yang meningkatkan PDB, membuka kemungkinan meluasnya kesempatan kerja terutama di pedesaan, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan sekaligus mendekatkan kesenjangan.

    Sementara membahas omnibus law, dalam kaitan dengan kehidupan perkoperasian yang diidealkan, harus menjadi salah satu soko guru perekonomian Indonesia dan pembinaan UMKM. Langkah penyederhanaan aturan investasi yang tumpang-tindih dan bahkan saling bertentangan sehingga menambah ketidakjelasan Saya sambut baik.

    Hal ini sejalan bila ada kemungkinan relaksasi dalam perizinan pendirian koperasi, dari yang semula harus sekurang-kurangnya 20 orang menjadi cukup dengan hanya sembilan orang. Ini sebagai suatu langkah maju, karena di negara-negara Amerika Utara, badan usaha koperasi dapat didirikan hanya oleh tiga orang.

    Tinggal nanti dalam pelaksanaannya perlu didukung dan dikawal sedemikian rupa dengan berbagai aturan pelaksanaan, sehingga para pendiri koperasi tesebut tetap berpegang pada jatidiri koperasi, yaitu organisasi ekonomi yang berwatak sosial.

    Selain itu arah relaksasi kebijakan ditujukan pada pembentukan pertambahan nilai (added value) sebagai dasar pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pembinaan koperasi dan penguatan kemitraan bagi UMKM digunakan sebesar-besarnya untuk membuka kemungkinan investasi dan menciptakan lapangan kerja terutama di pedesaan.

    Memang tidak ada pernyataan spesifik bahwa koperasi atau komunitas dapat berusaha di bidang misalnya rumah sakit, kelistrikan dan utilitas masyarakat lainnya, tetapi menurutnya hal itu nantinya adalah soal pengembangan "trust".

    Bila keluangan yang ada sekarang dapat dilaksanakan oleh koperasi dengan "amanah", maka kesempatan lain mestinya juga akan dibuka.

    Burhanuddin Abdullah
    Rektor Institut Manajemen Koperasi Indonesia



    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id