comscore

Berebut Vaksinasi Covid-19

Angga Bratadharma - 29 Juni 2021 14:38 WIB
Berebut Vaksinasi Covid-19
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
MASIH ingat kapan pertama kali program vaksinasi covid-19 di Indonesia dimulai? Tentu sebagian ada yang mengingat, sebagian lagi tidak, dan sebagian lagi mungkin tak peduli. Namun jawaban dari pertanyaan itu yakni vaksin pertama kali dimulai pada 13 Januari 2021 dan dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Selain Kepala Negara, vaksinasi juga diikuti oleh sejumlah pejabat, tokoh, dan perwakilan masyarakat yang pelaksanaannya ditayangkan secara live melalui media massa terutama media televisi. Kala itu, keberadaan vaksin virus korona menjadi harapan baru untuk Indonesia bisa segera terbebas dari belenggu covid-19.

 



Ekonomi yang hancur berantakan akibat terjangan pandemi covid-19 membuat pemerintah tancap gas melakukan program vaksinasi covid-19. Pemerintah menargetkan vaksinasi nasional sebesar 181,5 juta jiwa atau 70 persen dari populasi masyarakat Indonesia. Target tersebut dengan harapan bisa memunculkan kekebalan kelompok.

Apabila kekebalan kelompok terbentuk maka diyakini mata rantai penyebaran covid-19 bisa terputus dan pandemi bisa segera usai. Jika semua terealisasi dengan baik maka tahun ini dosis vaksin akan mencapai 70 persen dari populasi masyarakat Indonesia. Namun, Pekerjaan Rumah (PR) berikutnya adalah meyakinkan masyarakat untuk melakukan vaksinasi covid-19.

Pada titik ini lah persoalan muncul. Dalam pelaksanaannya, rencana pemerintah tersebut tidak berjalan mulus karena muncul berbagai macam hambatan seperti penolakan hingga munculnya banyak berita bohong berkaitan dengan vaksin covid-19 yang dilemparkan oleh orang tak bertanggung jawab ke masyarakat melalui berbagai macam platform.

Berebut Vaksinasi Covid-19

Tak hanya itu, bermutasinya covid-19 juga memunculkan persoalan lain. Kurang gesitnya Pemerintah Indonesia menutup perbatasan terutama di pintu udara membuat varian delta -yang muncul di India dan disebut lebih cepat menular dan berbahaya daripada covid-19 yang awal mula muncul- membuat Indonesia kini tengah mengalami gelombang lanjutan covid-19.

Situasi kian diperparah dengan masyarakat yang enggan menerima vaksin hingga banyak dari masyarakat yang melanggar aturan protokol kesehatan dan melakukan mudik Lebaran 2021 yang sudah dilarang oleh pemerintah. Padahal, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah jauh-jauh hari memperingatkan bahwa mudik akan membuat kasus covid-19 meledak.

Menkes Budi mengatakan puncak kasus aktif covid-19 efek libur Lebaran 2021 diprediksi terjadi di pekan kelima hingga ketujuh setelah Idulfitri 1442 Hijriah atau pada akhir Juni hingga awal Juli 2021. Prediksi ini didapat berdasarkan perhitungan Kementerian Kesehatan dari pengalaman Lebaran 2020.
 
"Bapak Presiden (Joko Widodo) sempat menanyakan sampai kapan tren kasus akan naik? Berdasarkan pengalaman empiris kita di setiap libur panjang biasanya kenaikan itu akan mencapai puncaknya sekitar lima sampai tujuh minggu," kata Budi, akhir Mei silam.

Budi meminta masyarakat bisa memahami masalah ini. Publik diajak memperketat protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus korona. "Arahan Bapak Presiden adalah dipastikan bahwa seluruh daerah tetap menjalankan disiplin protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan baik," ucap Budi.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id