comscore

Pemulihan Semu hingga Ancaman Krisis Ekonomi Berlanjut

Angga Bratadharma - 03 Desember 2021 13:16 WIB
Pemulihan Semu hingga Ancaman Krisis Ekonomi Berlanjut
Ilustrasi. FOTO: RBS
EKONOMI global secara perlahan mulai pulih meski pemulihannya tidak merata antara satu negara dengan negara lainnya. Kondisi itu terjadi usai para pengambil kebijakan di negara-negara dunia mampu mengendalikan pandemi covid-19, yang di antaranya melalui penguncian wilayah, pembatasan mobilitas, hingga menggenjot vaksinasi.

Namun ternyata, pemulihan tersebut seperti semu. Pasalnya, pemulihan yang terjadi diiringi dengan risiko lain seperti melonjaknya inflasi, bermutasinya covid-19, dan terjadinya krisis energi. Hal tersebut membuat upaya pemulihan terkikis dari waktu ke waktu. Alhasil, ancaman krisis ekonomi global berlanjut dan perlu diwaspadai oleh semua pihak.

 



Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyadari hal tersebut dan mendesak negara-negara Kelompok 20 (G20) untuk mengambil tindakan tegas guna mengakhiri pandemi covid-19 dan mengamankan pemulihan ekonomi global.
 
"IMF baru-baru ini mengurangi perkiraan pertumbuhan globalnya menjadi 5,9 persen untuk tahun ini. Prospeknya sangat tidak pasti, dan risiko penurunan mendominasi," kata Georgieva.

Dari kaca mata IMF, pemulihan global terhambat terutama oleh varian virus baru, dampak ekonomi, dan gangguan rantai pasokan. Adapun pandemi covid-19 tetap menjadi risiko terbesar bagi kesehatan ekonomi, dan dampaknya diperburuk oleh akses yang tidak setara ke vaksin dan perbedaan besar dalam kekuatan fiskal.

Melihat catatan IMF, terlalu banyak negara berkembang yang sangat kekurangan vaksin dan sumber daya untuk mendukung pemulihan mereka. Sekitar 75 negara dengan sebagian besar di Afrika, tidak berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target 2021 yang ditetapkan IMF dan lembaga internasional lainnya untuk memvaksinasi setidaknya 40 persen orang di akhir 2021.

Pemulihan Semu hingga Ancaman Krisis Ekonomi Berlanjut

Untuk membuat negara-negara ini berada di jalur yang benar maka benar kata Bos IMF bahwa G20 harus menyediakan sekitar USD20 miliar lebih banyak dalam dana hibah untuk pengujian, perawatan, pasokan medis, dan vaksin, untuk menutup kesenjangan pembiayaan yang vital.

Jika covid-19 memiliki dampak yang berkepanjangan, itu dapat mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) global dengan kumulatif USD5,3 triliun selama lima tahun ke depan, relatif terhadap proyeksi saat ini. "Kita harus mengambil ini dan langkah-langkah lain untuk menyelamatkan nyawa dan memperkuat pemulihan," kata Georgieva.

Varian baru covid-19

Risiko yang mengancam ekonomi global tidak berhenti sampai di situ saja. Pasalnya, munculnya varian baru covid-19 bernama Omicron juga ikut meramaikan. Varian baru tersebut menjadi perhatian penuh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Bahkan, WHO menyebut varian baru itu sebagai 'mengkhawatirkan'.

Varian baru bernama Omicron sudah terdeteksi di beberapa negara sejak pertama kali ditemukan di Benua Afrika. Varian ini disebut sebagai salah satu yang sangat cepat dalam menularkan virus. Varian B.1.1.529 atau Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021.

Situasi epidemiologis di Afrika Selatan ditandai tiga puncak berbeda dalam kasus yang dilaporkan, yang terakhir didominasi varian Delta. Varian Omicron memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan. WHO menjelaskan bukti awal menunjukkan peningkatan risiko infeksi ulang dengan varian ini, ketimbang Variant of Concern (VOC) lainnya.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id