comscore

Menuju Era Suku Bunga Tinggi

Angga Bratadharma - 04 Juli 2022 17:14 WIB
Menuju Era Suku Bunga Tinggi
Ilustrasi. FOTO: Medcom.id
PANDEMI covid-19 masih belum usai meski saat ini sudah mulai terkendali. Namun, di saat pemerintahan di dunia termasuk di Indonesia sudah memiliki senjata pamungkas untuk meredam pergerakan virus mematikan itu ternyata muncul masalah lain, yakni inflasi yang bergerak secara liar. Negara-negara utama seperti Amerika Serikat (AS) pun kini sedang kesulitan membendung inflasi yang teramat tinggi.

Alhasil, bank sentral mengeluarkan amunisi utama untuk mendinginkan inflasi yang panas yakni dengan menaikkan suku bunga acuan. Hal itu yang kini terlihat di The Fed yang sudah beberapa kali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut lantaran kebijakan fiskal di negara Paman Sam belum berhasil menjinakkan inflasi yang kini tingginya dalam empat dekade.
Jika ditelisik sedikit ke belakang, Federal Reserve sudah mengumumkan kenaikan suku bunga paling agresif dalam hampir 30 tahun yakni menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 poin persentase pada Rabu, 15 Juni, karena sedang berjuang melawan lonjakan inflasi. Kenaikan sebesar 0,75 poin persentase datang karena The Fed berada di bawah tekanan kuat untuk mengekang melonjaknya harga gas dan makanan.
 
Ketua Fed Jerome Powell mengatakan kenaikan itu penting untuk menurunkan inflasi, dan pembuat kebijakan memiliki alat yang dibutuhkan dan tekad yang diperlukan untuk memulihkan stabilitas harga atas nama keluarga Amerika. Tujuannya jelas yaitu untuk mencapai itu tanpa menggelincirkan ekonomi AS, tetapi mengakui selalu ada risiko karena melangkah terlalu jauh.
 
Komite Pasar Terbuka Federal yang menetapkan kebijakan Fed menaikkan suku bunga pinjaman acuan ke kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen, naik dari nol pada awal tahun. Itu adalah kenaikan 75 basis poin pertama sejak November 1994. "Langkah itu (menaikkan suku bunga) sangat besar. Namun saya tidak berharap langkah sebesar ini menjadi hal biasa," kata Powell.
Baca: Mulai Longgar, Kewajiban Masuk Mal Pakai PeduliLindungi Bakal Diperketat

"Dari perspektif hari ini, kenaikan 50 basis poin atau 75 basis poin tampaknya paling mungkin terjadi pada pertemuan kami berikutnya. Sangat penting kita menurunkan inflasi jika kita ingin memiliki kondisi pasar tenaga kerja kuat yang menguntungkan semua orang," tambah Powell.

Sedangkan Presiden AS Joe Biden mendukung upaya The Fed dan berharap untuk sukses karena Partai Demokratnya menghadapi kemungkinan kehilangan kendali Kongres dalam pemilihan paruh waktu utama pada November. Dia menyalahkan oposisi Partai Republik karena memblokir tagihan yang dimaksudkan untuk membantu menurunkan biaya dan mengurangi kendala pasokan.
 
Menuju Era Suku Bunga Tinggi
Presiden European Central Bank Christine Lagarde. FOTO: Éric Piermont/AFP

Sementara itu, Presiden European Central Bank (ECB) Christine Lagarde juga berancang-ancang untuk menaikkan suku bunga, bahkan dengan lebih cepat jika inflasi terus bergerak naik. Zona euro diperkirakan melihat tingkat inflasi utama sebesar 6,8 persen di tahun ini atau jauh di atas target ECB sebesar dua persen. Ini terjadi pada saat para ekonom menilai apakah zona euro akan lolos dari resesi di tahun ini atau tidak.

Kawasan ini telah mengalami tingkat pertumbuhan yang memburuk di tengah krisis energi, sanksi terhadap Rusia, dan kerawanan pangan. "Kami telah secara nyata merevisi turun perkiraan kami untuk pertumbuhan dalam dua tahun ke depan. Tapi kami masih mengharapkan tingkat pertumbuhan positif karena penyangga domestik terhadap hilangnya momentum pertumbuhan," kata Lagarde.
 
Bank sentral Eropa mengadakan pertemuan darurat awal bulan ini untuk mengumumkan alat baru yang ditujukan guna mengatasi risiko fragmentasi di zona euro. Namun, pelaku pasar dibiarkan bertanya-tanya tentang waktu dan besarnya mekanisme tersebut. Investor khawatir tentang inflasi yang tinggi dan telah melacak dengan cermat apa yang dikatakan dan dilakukan ECB.

Investor juga mewaspadai tingginya tingkat utang di Eropa, khususnya di Italia, dan bagaimana kembalinya ke kebijakan moneter yang lebih ketat dapat menjadi kendala keuangan bagi perekonomian ini. "Jika prospek inflasi tidak membaik, kami akan memiliki informasi yang cukup untuk bergerak lebih cepat. Komitmen ini, bagaimanapun, bergantung pada data," kata Lagarde.







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id