comscore

Harga Emas Bikin Cemas

Arif Wicaksono - 28 Desember 2021 08:24 WIB
Harga Emas Bikin Cemas
Harga Emas. Foto : AFP.
Jakarta: Setelah naik pesat di 2020, harga emas tak lagi kencang. Bahkan harga emas diprediksi akan terus melemah di 2022, ketika The Fed mulai menghentikan pembelian aset dari pasar keuangan atau tapering off dan menaikkan suku bunga.

Sebagai gambaran dari awal 2020 hingga awal 2021 harga emas, acuan XAU/USD, mengalami kenaikan sebesar 16,17 persen. Namun harga emas minus 4,65 persen dalam setahun di 2021. Menurunnya harga emas tak pelak karena ekonomi global mulai membaik. Ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,9 persen pada tahun ini. Pada 2020 ekonomi global tumbuh minus 3,74 persen.
Ketika ekonomi membaik, kecenderungan investor membeli aset safe haven seperti emas berkurang. Sedangkan pembelian aset berisiko yang tampak dari pasar saham acuan global seperti indeks Dow Jones Industrial Averege (DJIA), S&P 500, dan Nasdaq yang menembus rekor tertingginya pada tahun ini. Masing-masing sudah naik sebesar 19,04 persen, 27,62 persen, dan 22,25 persen dalam setahun di 2021.

Nah, setelah vaksinasi marak dan pandemi menuju endemi, maka ekonomi global diharapkan bisa kembali ke masa prapandemi covid-19 di 2022. Pada saat itu harga emas diprediksi bisa jauh merosot dari harga sepanjang 2021.

Data ekonomi AS

Salah satu tolok ukur harga emas adalah membaiknya perekonomian AS yang diukur dari berbagai varian seperti data pengeluaran konsumsi, klaim pengangguran, serta data penjualan rumah terbaru.

Data pengeluaran konsumsi mengindikasikan ekonomi membaik seiring dengan pulihnya konsumsi masyarakat AS. Semakin tingginya data pengeluaran maka ekonomi AS akan membaik karena sekitar 70 persen ekonomi AS ditopang konsumsi.

Menurunnya klaim pengangguran juga menjadi data yang bisa dijadikan acuan, karena semakin turunnya klaim pengangguran maka lapangan kerja di AS semakin membaik sehingga prospek pemulihan ekonomi AS lebih ajeg.

Nah, yang jadi masalah adalah ketika dua data di atas berangsur positif, maka data penjualan perumahan atau mortgage di AS tak cepat pulih. Ini sebabnya karena konsumen cenderung memulihkan kondisi keuangan sebelum membeli rumah yang bukan kebutuhan pokok.

Dari data tampak Indeks Harga Belanja Personal (PCE) kembali meningkat bulan lalu, melonjak 5,7 persen dibandingkan dengan November 2020. Ini merupakan kenaikan terbesar dalam hampir empat dekade, dengan harga energi melonjak 34 persen, menurut laporan itu. Kenaikan ini tak termasuk barang makanan dan energi, ukuran inflasi PCE inti meningkat 4,7 persen selama tahun lalu, tertinggi sejak 1983.

Kemudian data klaim pengangguran AS pada 23 Desember 2021 mencapai 205 ribu atau sesuai dengan estimasi analis. Dari catatan yang dihimpun dari data awal 2021 sampai dengan 27 Desember 2021 data pengangguran yang berhasil di bawah estimasi analis sebesar 27 kali dari 47 data atau melebihi separuhnya. Kalau data klaim pengangguran sudah stabil, maka indikasi ekonomi AS membaik semakin nyata.

Nah yang masih belum cerah adalah data dari penjualan rumah dari perkirakaan analis sebesar 770 ribu, data penjualan rumah AS hanya mencapai 744 ribu pada November 2021. Dari riset tampak selama 12 bulan di 2021, data penjualan rumah yang berhasil mengalahkan konsesus analis sebanyak lima kali. Jadi sebagian besar data penjualan rumah masih di bawah ekspektasi analis.

Dengan melihat data itu, maka peluang The Fed akan menaikkan suku bunga memang ada, meskipun tak akan terlalu kencang. Daya beli masyarakat AS yang belum benar-benar pulih jadi peluang The Fed untuk menahan kenaikan suku bunga, sebelum benar-benar menaikkan.

Selama tren inflasi tinggi, dan suku bunga rendah prospek emas masih menarik. Kenapa? Karena dana dari pasar keuangan belum shifting ke sektor real. Ketika dana sudah shifting ke sektor real, maka perbankan akan semakin getol memberikan kredit, ketika suku bunga naik dan pemulihan ekonomi berjalan, ketimbang menaruh uang di pasar keuangan.

Prediksi range harga emas

Dengan melihat potensi ekonomi global yang membaik, maka berapakah harga emas pada 2022?

Berbagai analis memprediksi harga emas akan jatuh ke harga mendekati awal 2020. ANZ Bank Australia dan Selandia Baru bersama OCBC Bank Singapura, yang percaya kekuatan pemulihan akan membuat emas turun menjadi USD1.500 hingga USD1.600 per ons.

BMO Capital Markets, UBS Global Wealth Management, dan Reuters semuanya memperkirakan harga emas pada 2022 akan rata-rata antara USD1.700  hingga USD1.800 per ons.

ABN Amro memperkirakan harga emas pada 2022 dan 2023 mencapai USD1.500 per ons dan USD1.300 per ons. Senior Precious Metals Strategist ABN Amro, Georgette Boele, mengatakan ada beberapa alasan untuk prospek harga emas bearish. Pertama, kebijakan moneter akan semakin ketat.

"Beberapa bank sentral sudah mulai, seperti di Norwegia, Selandia Baru, Brasil, dan Korea Selatan. Kami mengharapkan The Fed untuk mulai menaikkan suku bunga pada pertengahan 2022," jelas dia dalam risetnya.

Kenaikan suku bunga akan dimulai dari Bank of England dan  Bank of Canada sebelum The Fed. ECB, Bank Sentral Jepang, Bank Sentral Austrralia, Bank Sentral Swedia dan Bank Nasional Swiss kemungkinan akan menyusul.

"Kedua, kami memperkirakan imbal hasil riil dua tahun AS akan meningkat. Ada dua dinamika yang bermain di sini. Pertama, kami mengharapkan imbal hasil treasury AS dua tahun untuk naik sedikit lebih dari apa yang pasar sekarang harapkan," jelas dia.

Selain itu, dia memperkirakan tekanan inflasi akan mereda seiring kenaikan suku bunga. Ini menghasilkan imbal hasil riil AS dua tahun yang lebih tinggi dan itu akan membebani harga emas ke depan. Dolar AS akan menguat lebih lanjut ketika The Fed memulai proses pengetatan kenaikan suku bunga.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id