comscore

Ledakan Persoalan Covid-19: Refleksi Paradigma Pembangunan Negara

Ade Hapsari Lestarini - 24 Juli 2021 11:17 WIB
Ledakan Persoalan Covid-19: Refleksi Paradigma Pembangunan Negara
Foto: Grafis Medcom.id
LEDAKAN persoalan covid-19 yang semakin tidak terkendali dan bahkan telah menempatkan Indonesia sebagai episentrum baru covid-19 di Asia, menggeser India (kasus aktif) menunjukkan lemahnya kapasitas sektor kesehatan kita dalam menangani persoalan ini.

Kondisi saat ini, kapasitas rumah-rumah sakit dan tenaga kesehatan yang terbatas semakin mempersulit penanganan covid-19 di lapangan. Sampai dengan pukul 09.53 GMT pada 23 Juli 2021, jumlah kasus positif mencapai 3.033.339, kasus aktif sebesar 561.384, dan tingkat kematian 79.032.

 



Persoalan kesehatan yang dihadapi Indonesia saat ini menunjukkan persoalan mendasar terkait paradigma pembangunan negara selama ini. Paradigma pembangunan selama ini yang cenderung short-sighted dan hanya menekankan pada pendekatan pertumbuhan ekonomi semata. Pada akhirnya mengekspos salah satu persoalan pembangunan mendasar yang dihadapi Indonesia, yakni masalah kesehatan.

Cara pandang yang sekadar menyamakan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi semata, berkontribusi besar terhadap kegagalan fundamental dalam pembangunan sektor kesehatan.

Persoalan lemahnya sektor kesehatan Indonesia sebenarnya bukan hal yang baru dan sudah ada sejak sebelum persoalan covid-19. Level kesehatan Indonesia dalam konteks internasional adalah tergolong rendah, berdasarkan laporan World Economic Forum-Global Competitiveness Index 2019 Indonesia berada dalam posisi 96 dari 141 negara dan berada diposisi enam di ASEAN, di bawah Singapura (1), Thailand (38), Brunei (62), Malaysia (66), dan Vietnam (71).

Dengan menggunakan Human Development Index (HDI) dari UNDP (2020) Indonesia juga berada dalam posisi enam di bawah negara-negara ASEAN tersebut di atas terkait ranking kesehatan (berdasarkan life expectancy). Belum lagi kalau kita soroti persoalan stunting yang mencapai 37 persen, hal ini menurut Bank Dunia melebihi banyak negara di Asia Tenggara seperti Myanmar (35 persen), Filipina (33 persen), Vietnam (23 persen), Malaysia (17,5 persen), dan Thailand (16 persen). Juga fakta lain yang kurang menggembirakan terkait tingkat kematian Ibu dalam proses kelahiran (maternal mortality ratio), yang mencapai 177 untuk setiap 100 ribu kelahiran, bandingkan dengan rata-rata negara maju (OECD) yang hanya berjumlah 14, jumlah ini bahkan melebihi Timor Leste yang berjumlah 142.

Persoalan yang serupa juga dapat dilihat dari jumlah kematian bayi (infant mortality rate), untuk setiap 1.000 kelahiran mencapai 21, jauh lebih tinggi dari Thailand (8) dan Malaysia (7). Hal yang perlu digarisbawahi adalah ledakan pandemi covid-19 sekarang ini sesungguhnya adalah sekadar sebuah konsekuensi logis dari kesalahan paradigma pembangunan negara selama ini, yang mereduksi konsep pembangunan menjadi sekadar pertumbuhan ekonomi saja.

Paradigma pembangunan yang seperti ini mengabaikan banyak aspek fundamental dari pembangunan itu sendiri, yang dalam hal ini adalah pembangunan sektor kesehatan yang berkualitas, ketiadaan inilah, yang pada gilirannya justru membuat perekonomian kita memburuk dan mundur ke belakang.

Pada akhirnya, biaya yang dikeluarkan menjadi sangat mahal, BPK menyebutkan diakhir 2020 total anggaran penanganan covid-19 mencapai Rp1.035,2 triliun. Sebuah nilai yang fantastis, yang sekitar 13 persennya saja disebutkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani di antaranya sudah bisa membiayai 9.352 jalan, atau 293.222 meter jembatan, atau 67.708 unit sekolah.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id