Meramu Obat Defisit Transaksi Berjalan

    Desi Angriani - 16 Agustus 2019 22:11 WIB
    Meramu Obat Defisit Transaksi Berjalan
    Ilustrasi kegiatan ekspor impor. (FOTO: MI/Pius Erlangga)
    BUTUH obat mujarab untuk menghentikan pembengkakan defisit transaksi berjalan. Jika salah obat, bisa-bisa meriang yang diderita Indonesia semakin parah. Dampaknya lebih gawat lagi ke daya imun perekonomian.

    Memang meramu sebuah obat bukan perkara mudah. Butuh resep dan takaran yang pas. Buktinya, reformasi kebijakan maupun penyesuaian perekonomian di beberapa tahun terakhir belum mampu melenyapkan virus yang membuat current account defisit (CAD) menggendut.

    Melihat ke belakang, masalah pembengkakan CAD telah terjadi sejak Orde Baru. Musababnya pertumbuhan impor lebih tinggi dari ekspor, baik dalam hal barang maupun jasa. Pada 1984, defisit transaksi berjalan naik hampir empat persen lalu kembali terulang pada 1994.

    Belasan tahun kemudian defisit transaksi berjalan kembali merangkak ke posisi 2,65 persen dari PDB. Puncaknya, temperatur CAD begitu panas di 2013 atau mencapai 3,19 persen terhadap PDB. Tak bisa dipungkiri impor minyak menjadi biang keroknya. Sebab, produksi minyak dalam negeri tak mampu memenuhi konsumsi bahan bakar masyarakat yang terus meningkat. Setidaknya Indonesia mengimpor sekitar 350 ribu sampai 500 ribu barel bahan bakar per hari dari beberapa negara.

    Di saat bersamaan performa ekspor anjlok akibat penurunan permintaan dan penurunan harga komoditi global. Sepanjang 2011-2014, penerimaan ekspor komoditi minyak sawit mentah dan batu bara dalam negeri pun tercatat turun separuhnya. Maka tak heran porsi ekspor Indonesia hanya 17,6 persen atau sangat kecil dibandingkan negara berkembang lainnya.

    Kini CAD kembali didiagnosis mencapai tiga persen oleh Bank Indonesia (BI). Temperatur defisit transaksi berjalan itu meningkat dari USD7 miliar menjadi USD8,4 miliar di kuartal II-2019. Faktornya masih serupa karena penurunan kinerja ekspor ditambah faktor musiman repatriasi dividen atau pembagian keuntungan perusahaan ke luar negeri.

    Bila melihat jauh ke dalam neraca transaksi berjalan, maka ada empat komponen yang membentuknya. Mereka ialah neraca transaksi perdagangan barang, neraca jasa, neraca pendapatan primer, serta neraca pendapatan sekunder. Dari keempat komponen tersebut, pos perdagangan barang dan pendapatan primer adalah dua komponen yang paling menekan transaksi berjalan di paruh kedua tahun ini.

    Selanjutnya, defisit neraca pendapatan primer mencapai USD8,7 miliar atau meningkat dibanding kuartal II-2018 yang sebesar USD8,02 miliar. Di pos perdagangan barang, kinerja ekspor nonmigas juga terkontraksi seiring perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga komoditas ekspor Indonesia.

    Ekspor nonmigas tercatat USD37,2 miliar, atau turun dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya yang sebesar USD38,2 miliar. Sementara defisit neraca perdagangan migas juga meningkat menjadi dari USD2,2 miliar menjadi USD3,2 miliar, seiring dengan kenaikan rerata harga minyak global dan peningkatan permintaan musiman impor migas.

    Berdasarkan gejala itu, ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemerintah perlu meracik ramuan khusus agar Indonesia sembuh total. Selama ini ramuan yang dibuat pemerintah layaknya obat bius. Bersifat sementara yakni menambal CAD dengan mengandalkan investasi dalam bentuk portofolio. Hal itu sangat rentan karena dolar gampang kabur ke luar negeri.

    Karenanya dalam jangka pendek, pemerintah bisa menekan impor migas dengan mendorong pemakaian bahan bakar solar campuran minyak kelapa sawit atau dikenal biodiesel. Terbukti penggunaan biodiesel jenis B20 telah menurunkan impor solar sebesar 45 persen pada 2019. Dari jumlah itu, pemerintah berhasil menghemat USD1,66 miliar atau setara Rp23,57 triliun.

    Upaya tersebut serupa dengan pepatah sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Mengapa demikian, karena perluasan pemakaian biodiesel ini tak cuma mengurangi impor migas semata. Namun juga mendorong penggunaan Fatty Acid Methyl Eter (FAME) atau turunan minyak sawit mentah (CPO). Saat ini Indonesia sedang tersandung pelarangan ekspor CPO oleh negara Eropa. Karena itu, Indonesia perlu meningkatkan permintaan minyak sawit dalam negeri.

    Resep jangka pendek berikutnya, yakni memperbaiki sektor pariwisata. Cara ini akan mendorong penambahan devisa yang berasal dari turis mancanegara. Secara tidak langsung akan membuat defisit neraca jasa menjadi surplus.

    Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah yang menyiapkan anggaran sebesar Rp6,4 triliun untuk menyelesaikan pengembangan infrastruktur empat destinasi pariwisata superprioritas. Danau Toba, Mandalika, Borobudur, dan Labuan Bajo diyakini akan menggaet sebanyak 4,5 juta wisman.

    "Dengan mengurangi impor BBM dan mendorong perluasan penggunaan B20. Terus pariwisata, kita sering ke luar negeri maka  defisit neraca jasa jadi melebar, kalau turis banyak ke sini maka akan surplus," katanya saat dihubungi Medcom.id.

    Untuk resep jangka panjang, pemerintah perlu kerja ekstra untuk memperbaiki struktur perekonomian. Indonesia mesti berubah dari negara konsumtif ke negara yang lebih produktif. Hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu, transfer teknologi, anggaran serta kerja sama antarkementerian/lembaga.

    Jika biasanya hanya mengekspor barang mentah, minimal Indonesia harus mengekspor barang setengah jadi atau menciptakan barang substitusi impor. Dengan begitu, impor otomatis turun dan defisit transaksi berjalan menjadi surplus.

    Ketika CAD surplus, Indonesia akan menjadi fit dan nilai tukar rupiah menjadi stabil. Kondisi ini tentu memacu aliran modal asing ke dalam negeri seiring masuknya investasi. Maka implikasinya ialah target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen tahun ini bisa terwujud.

    "Pendekatannya bagaimana dengan implementasi teknologi dan riset development biar kita punya kapasitas produksi yang lebih besar, teknologi dan juga punya pabrik dan mesin sendiri dan nilai ekspor kita dengan sendirinya juga meningkat, sebenarnya itu yang idealnya tapi memang butuh waktu enggak bisa dalam waktu singkat," tutur Josua.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku akan memberikan resep tambahan dari sisi fiskal. Instrumen ini menyediakan insentif bagi kementerian yang selama ini memberikan andil dalam defisit transaksi berjalan. Mereka ialah Kementerian Perindustrian, Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Perdagangan.

    Dengan insentif tersebut, empat kementerian ini diharapkan mampu mengerem impor migas, impor kebutuhan pokok, mendorong ekspor dan mendorong kinerja sektor industri. "Pokoknya kami siap dengan seluruh instrumennya membantu kementerian terkait dan pemerintah daerah yang bisa ikut memecahkan masalah CAD itu," tegas Ani sapaannya pada Selasa, 13 Agustus 2019.

    Komplikasi Penyakit Defisit Transaksi Berjalan

    Defisit transaksi berjalan yang melebar menandakan sebuah negara dalam kondisi tidak sehat. Namun bagi negara berkembang mustahil dapat tumbuh tanpa impor barang modal dan bahan baku.

    Bahkan negara maju seperti Tiongkok dan Singapura saja pernah mengalami defisit transaksi berjalan dengan rasio di atas 10 persen. Begitu pula dengan Vietnam yang baru bisa mencicipi surplus CAD pada 2011.

    Namun pelebaran defisit transaksi berjalan bisa menyebabkan sejumlah komplikasi jika tidak ditangani secara serius. Pertama terjadi kecanduan yang berlebihan pada kurs dolar Amerika Serikat (AS) jika permintaan valas naik. Demi menutupi defisit transaksi berjalan, rupiah dipastikan berisiko melemah di akhir tahun.

    Komplikasi berikutnya, Indonesia bisa mengalami tekanan pada pembayaran kewajiban utang luar negeri khususnya di sektor swasta. Pada saat swasta akan melunasi kewajiban utangnya, terjadi missmatch selisih kurs yang lebar. Hal ini akan menjadi beban bagi swasta meski tidak semua ULN di lindung nilai atau hedging.

    Ekonom Bhima Yudhistira membandingkan Argentina dan Kanada dengan riwayat defisit transaksi berjalan yang sama justru berakhir dengan cara berbeda. CAD Argentina sebesar -22 persen membawa negara itu pada ambang krisis mata uang tahun lalu, sedangkan Kanada masih tampak sehat lantaran ditopang oleh cadangan devisanya yang besar.

    "Ada beberapa negara yang alami CAD misalnya Kanada, tapi dari sisi cadangan devisanya cukup besar sehingga kemampuan untuk stabilisasi kurs lebih kuat. Indonesia, CAD tidak diimbangi dengan kemampuan meningkatan devisa secara optimal sehingga kursnya cenderung melemah juga sejak 2011 itu," ungkap Bhima kepada Medcom.id.

    Meski demikian, defisit transaksi berjalan bisa dimaknai positif bila impor digunakan untuk tujuan investasi produktif yang menghasilkan aliran pendapatan, misalnya pembangunan industri maupun infrastruktur. Sebaliknya, struktur ekonomi menjadi kacau bila defisit tidak menghasilkan aliran pendapatan di masa mendatang.

    Dana Moneter Internasional (International Moneter Fund/ IMF) sebelumnya memperkirakan CAD Indonesia adalah 2,7 persen dari Produk PDB, membaik dibanding dengan realisasi tahun lalu yang mencapai 2,98 persen.

    Proyeksi tersebut masih lebih tinggi dibanding dengan kondisi 2015 sampai 217 yang masing-masing mencatatkan defisit 2,04 persen, 1,82 persen dan 1,7 persen. Namun CAD Indonesia diperkirakan akan membaik pada 2020 menjadi 2,6 persen seiring dengan melemahnya harga minyak dunia. Sementara pemerintah tetap menargetkan laju CAD sebesar 2,5 persen sampai akhir tahun.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id