Warisan Berharga Habibie

    Media Indonesia - 13 September 2019 13:13 WIB
    Warisan Berharga Habibie
    Almarhum BJ Habibie. FOTO: dok MI/Ramdani.
    PRESIDEN ketiga Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie Rabu, 11 September petang dipanggil pulang ke-haribaan-Nya. Ia merupakan model generasi bangsa yang cerdas, berpendidikan tinggi, menguasai teknologi, berpikiran terbuka, dan cinta kepada Tanah Air. Kita membutuhkan intelektual muslim yang komitmennya kepada Republik tinggi seperti almarhum.

    Pikirannya untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas, modern, dan berpikiran terbuka tidak pernah berubah. Sebab Habibie tahu kunci kemajuan bangsa terletak pada seberapa banyak manusia berkualitas yang dimiliki.

    Pada pidato kebangsaan di Gedung DPR, Habibie mengajak seluruh bangsa ini untuk pandai memanfaatkan kekayaan alam yang dimiliki. Dengan cara apa? Dengan memberikan nilai tambah dari setiap komoditas yang kita miliki.




    Habibie merasa prihatin ketika sumber daya alam hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Ironisnya kita mengimpor kembali produk itu ketika sudah menjadi barang jadi. Itu bukan saja sama dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi bangsa lain, tetapi membiarkan nilai tambah dinikmati orang lain.

    Untuk itulah Habibie bersemangat untuk mengirimkan putra-putra terbaik bangsa ini untuk menimba ilmu di negeri orang. Harapannya, kelak seperti dirinya, mereka kembali ke Tanah Air untuk membangun dan memajukan bangsa dan negara ini.

    Warisan berharga yang ditinggalkan Habibie untuk bangsa ini ialah munculnya kesadaran untuk melakukan riset dan mengembangkan teknologi. Bangsa ini tidak pernah akan bisa sejajar dengan bangsa lain apabila tidak menguasai riset dan teknologi.

    Industri-industri strategis didorong agar menghasilkan produk teknologi berkelas dunia. Sekarang kita bisa lihat industri penerbangan seperti PT Dirgantara Indonesia yang sudah mengembangkan pesawat N-219. Kalau kita konsisten untuk mengembangkannya dan memaksa industri penerbangan untuk menggunakannya, kita akan memberi kesempatan kepada putra-putra Indonesia untuk semakin menguasai industri kedirgantaraan.

    Hal yang sama sekarang terjadi dengan PT PAL yang mampu membuat kapal perang dan bahkan sudah dipakai angkatan laut Filipina. Kalau TNI-AL mau memercayakan alat utama sistem pertahanan kepada industri dalam negeri, kita tidak lagi harus tergantung kepada bangsa lain.

    Untuk industri transportasi darat dan persenjataan, PT Pindad juga sudah semakin maju untuk menghasilkan kendaraan taktis untuk mendukung pasukan darat kita. Dengan menggunakan senjata buatan Pindad, prajurit TNI-AD bahkan memenangi kejuaraan menembak antartentara sedunia.




    Semua itu menunjukkan bahwa bangsa ini mempunyai kemampuan yang tidak kalah dari bangsa lain. Habibie mendorong paling tidak delapan industri strategis yang bisa membawa bangsa ini terbang tinggi. Tidak terkecuali industri rancang bangun dan juga pertanian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyat.

    Sekarang yang harus kita lakukan ialah menjaga konsistensi untuk membangun industri-industri unggulan itu. Kita tidak perlu ragu untuk memperbesar anggaran untuk riset. Double atau triple tax deduction harus benar-benar dijalankan agar bangsa ini menjadi bangsa penemu.

    Selanjutnya yang tidak kalah penting ialah mengajak seluruh rakyat untuk mencintai produk dalam negeri. Janganlah kita mudah untuk mencela produk yang dihasilkan bangsa sendiri. Kita harus seperti bangsa Jepang, Korea, atau Tiongkok yang selalu percaya dan ikut mendorong produk bangsa sendiri.

    Kita harus menyadari bahwa diperlukan proses untuk mencapai kesempurnaan itu. Tahun 1960-an siapa yang percaya kepada mobil Toyota. Sekarang Toyota bisa menjadi produsen mobil terbesar di dunia, jauh melewati Ford yang pertama kali menjadi pembuat mobil.

    Dulu produk-produk PT DI, PT PAL, maupun PT Pindad juga terlihat sebagai produk kuno yang tidak meyakinkan. Ternyata pesawat buatan PT DI sekarang banyak dipergunakan angkatan bersenjata negara Afrika. Kapal-kapal buatan PT PAL dipuji angkatan laut negara tetangga. Artinya, bangsa ini terus belajar untuk menghasilkan produk yang lebih bermutu.

    Tepatlah apabila pada pidato kebangsaan itu, Habibie mengingatkan kita untuk meninggalkan cara berpikir kolonial. Penjajahan gaya baru itu akan terjadi ketika kita tidak mau menghargai proses nilai tambah yang dilakukan bangsa sendiri. Saatnya kita untuk bangkit menjadi bangsa mandiri dan bangga kepada karya-karya bangsa sendiri. (Podium)

    Selamat jalan Pak Habibie.

    Suryopratomo
    Dewan Redaksi Media Group




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id