Menjaga Harapan

    Media Indonesia - 02 Agustus 2019 12:29 WIB
    Menjaga Harapan
    Ilustrasi. (FOTO: AFP)
    FEDERAL Reserve Amerika Serikat memutuskan untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Ancaman resesi yang dihadapi perekonomian AS membuat bank sentral AS itu harus melakukan relaksasi. Penurunan bunga acuan menjadi berada di kisaran dua persen hingga 2,25 persen diharapkan bisa memacu investasi di AS yang mulai melamban.

    Keputusan Federal Reserve merupakan angin segar bagi perekonomian kita. Paling tidak, tekanan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah menjadi berkurang. Bank Indonesia pun mempunyai ruang untuk menurunkan lagi tingkat suku bunga repo tujuh hari.

    Kita membutuhkan stimulus ekonomi untuk menggerakkan kembali perekonomian yang melesu pada semester I-2019. Kita perlu menjaga harapan masyarakat bahwa apa yang terjadi selama enam bulan lalu hanyalah imbas dari perhelatan pemilihan umum.

    BI memang sudah lebih dulu menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Namun, dampak kebijakan moneter terhadap kegiatan di sektor riil membutuhkan waktu. Time lag penurunan BI rate terhadap penurunan suku bunga pinjaman minimal bisa sampai tiga bulan.

    Padahal kita membutuhkan sesuatu yang lebih cepat untuk menggairahkan kegiatan ekonomi di tengah masyarakat. Pasar membutuhkan hentakan yang lebih besar agar ekonomi ini segera menggeliat.

    Sekarang ini pesannya justru sebaliknya. Kehadiran orang paling kaya di Jepang, Masayoshi Son, ke Jakarta malah memantik pesimisme. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong secara mengejutkan menyebutkan unicorn-unicorn Indonesia kini sudah dimiliki Singapura.

    Thomas Lembong memang sudah meralat dan meminta maaf atas pernyataannya yang keliru itu. Namun, pernyataan itu sempat membuat kecil hati karena inisiatif anak-anak muda Indonesia untuk melahirkan unicorn seakan tidak memberikan kontribusi yang positif kepada perekonomian nasional.

    Padahal Presiden Joko Widodo menerima sendiri pemilik SoftBank Jepang itu di Istana Merdeka. Masayoshi Son bahkan diminta Presiden untuk menambah jumlah investasinya USD1 miliar agar bisa menutup defisit neraca transaksi berjalan.

    Spiral ekonomi yang bergerak ke bawah harus kita bisa putar balik ke atas. Caranya tidak bisa lain, kecuali mendorong industri yang sudah ada untuk terus berjalan dan meminta masyarakat untuk lebih mendahulukan pembelian produk dalam negeri.

    Di tengah perang dagang antara AS dan Tiongkok memang permintaan dunia ikut melesu. Kelebihan produksi dunia bukan hanya membuat harga menjadi lebih murah. Akan tetapi, semua negara mencoba mencari pasar bagi produk mereka.

    Kita tidak boleh menjadi pasar dari produk dunia. Pasar Indonesia yang 265 juta jiwa, pertama-tama harus menjadi pasar produk dalam negeri, sebab itulah yang akan membuat masyarakat tetap memiliki pekerjaan dan dengan itulah mempunyai daya beli.

    Kita memang perlu mendorong ekspor karena itu dibutuhkan untuk menambah devisa. Namun, kita perlu juga memperhatikan industri subsitusi impor karena bisa menghemat devisa sekaligus memberikan pekerjaan kepada bangsa kita sendiri.

    Sekarang ini kita tidak terlalu memperhatikan industri substitusi impor. Atas nama pasar bebas dan memberikan harga murah bagi konsumen, kita membuka pasar kita selebar-lebarnya kepada barang impor. Kita lupa bahwa hal itu sama saja dengan memberikan kesempatan kerja kepada bangsa lain untuk memenuhi kebutuhan bangsa kita.

    Kita juga menutup mata pada kenyataan inefisiensi yang masih tinggi dalam berbisnis di Indonesia. Rantai birokrasi yang masih panjang membuat biaya menjadi mahal. Vietnam bisa lebih tinggi ekspornya dari kita karena sistem birokrasi yang lebih ramping.

    Lima bulan terakhir ini merupakan tantangan bagi perekonomian kita. Dibutuhkan usaha ekstra keras untuk menjaga gairah ekonomi masyarakat. Semoga kita semua sadar dan segera berbuat untuk membalikkan keadaan yang kurang baik ini.

    Suryopratomo
    Dewan Redaksi Media Group




    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id