Meretakkan Gading Gajah Perang

    Arpan Rahman - 20 Agustus 2019 07:02 WIB
    Meretakkan Gading Gajah Perang
    Dukungan suporter Thailand. (Lillian SUWANRUMPHA / AFP)
    THAILAND jadi kompetitor Timnas Indonesia di putaran kedua zona Asia Grup G Pra-Piala Dunia 2022 bersama Uni Emirat Arab, Vietnam, dan Malaysia. Kelima negara akan saling berhadapan, masing-masing melalui dua kali pertandingan kandang dan tandang.

    Khusus lawan Thailand, Indonesia dijadwalkan sebagai tuan rumah lebih dahulu 10 September 2019. Nanti baru 26 Maret 2020, gantian kita bertamu ke Bangkok.
     

    Mimpi Sejarah

    Kesebelasan berjuluk Gajah Perang satu-satunya mimpi buruk kita dalam sejarah. Melawan tiga kontestan segrup lainnya, Indonesia mencatat rekor yang masih bersaing. Tapi, dengan Thailand, kita lebih banyak kalah.

    Hingga kini, Indonesia menang 25 kali, seri 14, dan kalah 38 kali di semua ajang. Kedua tim berjumpa pertama di Turnamen Merdeka, Kuala Lumpur, pada 31 Agustus 1957 dan terakhir 17 November 2018 di Piala AFF.

    Dari seluruh laga di kualifikasi Piala Dunia, Garuda Merah-Putih lebih unggul: dua kali menang, sekali kalah. Ketiga pertandingan itu sudah terjadi lama sekali.

    Pada 7 Maret 1977, PSSI dipecundangi Thailand 2-3 dalam Pra-Piala Dunia'78 Grup 1 diwasiti Alex Vaz asal India di National Stadium Singapura, disaksikan 22.988 penonton. Indonesia lantas membalas lewat dua kemenangan di Pra-Piala Dunia'86 Subgrup 3B pada 15 dan 29 Maret 1985 dengan skor identik, 1-0.
     

    Baca: Timnas Indonesia Mencari Inspirator Terpilih


    Generasi Emas

    Ulasan Paul Murphy dalam The Last Change for Thailand's Golden Generation di TifoFootball menyoroti performa Thailand. Generasi emas era Teerasil Dangda dkk, katanya, kini mulai redup kilaunya. Piala Asia 2019 merupakan kesempatan terakhir Thailand sebelum prestasinya menurun tajam.

    Fans sepak bola Gajah Perang berharap pelatih timnas mengadopsi sistem yang telah ditanamkan Kiatisuk Senamuang sejak 2014. Lebih mengutamakan pemain muda dan menemukan lebih banyak bakat kreatif seperti Chanathip Songkrasin.

    Biasanya timnas Thailand bermain aktif lewat gerakan bek sayap berbasis penguasaan yang luas melaju ke lini tengah untuk menyerang, mendukung striker tunggal. Dimotori Theerathon Bunmathan dan Tristan Do, alur permainan terjalin porosnya pada sokongan penuh dari Chanathip, Sarach Yooyen, Pokklaw Anan, Sumanya Purisai atau Thitiphan Puangchan.

    Sepasang bek sayap Thailand pandai mengatur tempo. Kapan harus cepat dan segera melontarkan umpan, bagaimana mengulur ritme pelan dan lebih lama menguasai bola.

    Sedangkan pusat aliran serangan ada di kaki Chanathip, yang dijuluki Messi dari Asia. Ia punya umpan bagus, giringan mengecoh, larinya kencang, dan tendangan first time yang kuat. Tapi sundulannya tak ada karena posturnya kecil-pendek mungil.

    Kiper Kawin Thamsatchanan dan striker Teerasil mengunci pola itu sebagai ujung-pangkal pergerakan. Skema yang lazim mereka peragakan, 3-5-2.


    Aktif Kontraproduktif

    Tapi aktifnya kedua bek sayap Thailand menyisakan kelemahan. Mereka sering gagal karena lamban justru ketika mengantisipasi umpan-umpan silang mendatar atau gerakan kombinasi dari pinggir lapangan.

    Bisa jadi imbas kerja ekstra akibat pola yang biasa mereka mainkan. Bek-bek sayap yang senang menyerang, ternyata malah payah dalam bertahan.

    Celah lemah ini persis pertahanan grendel ala Italia. Di bagian tengah lapangan begitu ketat pengawasan, namun kawalan di garis tepi lebih kendur. Kalau sudah begitu, penjaga gawang pun terjebak ikut salah posisi, keadaan langsung fatal.

    Kekalahan kali kedua secara beruntun Thailand dari India, di King's Cup pada 8 Juni 2019 -- setelah di Piala Asia awal tahun ini -- menunjukkan celah kendur pertahanan di sayap mereka. Striker Anirudh Thapa mencetak gol tunggal kemenangan.

    Proses terjadinya gol hanya dua kali sentuhan. Bola liar melebar ke sayap kiri dekat sudut garis di kotak penalti lantas digulirkan mendatar diagonal ke arah tiang jauh. Di sana bek sayap kanan Thailand ketinggalan langkah untuk mempersempit ruang dan mengawal lawannya.

    Tiba-tiba di tiang jauh yang lowong, Thapa bergerak masuk, menusuk dan mengayunkan kakinya, menyepak bola perlahan saja. Dan dua sayap itu patah kiri-kanan, tepat di momen krusial.

    Mungkin belajar dari berbagai kesalahan yang berulang, kini di tangan Akira Nishino mereka akan banyak berbenah. Pelatih asal Jepang dikontrak sejak 17 Juli 2019. Tapi, bagaimanapun susahnya terpuruk, sepak bola Thailand senantiasa mampu cepat bangkit seturut fluktuasi naik-turunnya prestasi.
     

    Baca juga: Membanting Bintang Emas Vietnam


    Pabrik Sepak Bola

    Kebangkitan gairah persepakbolaan Negeri Siam telah dibahas dalam program 101 East di stasiun TV Al Jazeera. Kompetisi domestiknya berlangsung rapi, dilaporkan terbagi empat divisi, diikuti 100 klub.

    Pesepakbola muda tidak terkenal asal Afrika meninggalkan kampung mereka menuju Thailand demi menggapai mimpi profesional bergaji 10 ribu Euro per bulan. Para pemain asing dari Benua Hitam merambah negeri kerajaan itu sebab menganggap persaingan tidak seketat di Eropa.

    "Dulu, olahraga nasional di sini Muay Thai (tinju ala Thailand), kini sepak bola mulai bergairah," kata Usman Sharif asal Guinea, pelatih klub Look E-San dari Thai League 4.

    Camkanlah, bahkan sebuah klub Divisi 4 menyewa pelatih dari Afrika! Liga nasional mereka berkilau seperti gemerlapnya kehidupan malam Patpong di jantung kota Bangkok.

    Menurut data Soccerway, kompetisi akan dihentikan selama 15 hari (30 Agustus sampai 13 September 2019). Tujuan jeda liga untuk menunjang konsentrasi timnasnya berkiprah di pentas internasional menuju Piala Dunia Qatar 2022.

    TREN penampilan internasional Thailand 2019 merosot drastis. Mereka kalah lima kali dalam delapan pertandingan terakhir. Hanya dua kali menang dan sekali imbang. Coach Nishino terjepit waktu sempit, tidak sempat lagi mengagendakan uji coba buat mengetes skuatnya sebelum putaran Grup G kualifikasi kedua zona Asia.

    Kita memiliki peluang terbuka dari celah menurunnya prestasi generasi emas Teerasil cs dibarengi tren penampilan mereka yang anjlok tahun ini. Di Pra-Piala Dunia 2022, Timnas Garuda Merah-Putih pasti meretakkan gading Gajah Perang Thailand. Sebab tak ada gading yang tak retak.

    Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

    Video: Kalahkan Myanmar, Timnas Indonesia Sabet Juara Tiga Piala AFF U-18




    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id