Mengubur Bangkai Sendiri

    Arpan Rahman - 27 September 2019 20:41 WIB
    Mengubur Bangkai Sendiri
    Timnas Indonesia. (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)
    TIADA guna mempertahankan skuat yang telah kalah dua kali. Tapi, Simon McMenemy mungkin memang punya wawasan lain dari yang lain lagi.

    Jelas titik terlemah timnya ada di pos penjaga gawang utama, malah dia tetap mendaftarkan nama yang sama. Padahal, kiper andalannya sudah kebobolan enam gol hanya dari dua laga! Ini ada apa?

    Menurut peribahasa, hanya keledai yang jatuh dua kali ke dalam lubang yang sama. Tapi lebih parah dari itu, keputusan Coach Simon sangat gegabah tanpa menggubris saran dari pelbagai kalangan yang ramai.

    Selaiknya dia menggali lubang, lalu menguburkan bangkai sendiri ke dalamnya tanpa sisa kepala di atas tanah. Sebab andai kepalanya muncul, berarti dia seperti burung unta dicekam ketakutan.

    Nasib Sial

    Pelatih tim nasional Indonesia menyingkirkan sebelas pemain dari timnas edisi pertama lakon Grup G zona Asia kualifikasi Piala Dunia 2022. Mendepak Yustinus Pae, Ruben Sanadi, Osas Saha, Febri Hariyadi, Rizki Pellu, Ferdinand Sinaga, dan Irfan Jaya okelah bisa diterima. Performa ketujuhnya jauh di bawah form terbaik mereka.

    Memulangkan Teja Paku Alam, Angga Saputra, Andika Wijaya, dan Victor Igbonefo yang belum sekalipun merasakan menit bermain sungguh patut disayangkan. Lantaran bergabung di pemusatan latihan timnas sebenarnya membuat tiga mereka 'selamat' dari mautnya jadwal neraka Liga 1 (kecuali Igbonefo yang berkiprah di Thailand). Keempat tenaga bugar ini masih berpotensi untuk lebih dioptimalkan.

    Lebih cerdas bila Coach Simon merombak skuat intinya yang dua kali takluk di kandang. Ia hanya wajib mengganti poros buruk di sisi kanan terdiri empat posisi: penjaga gawang, bek kanan, gelandang kanan, dan kanan luar yang tampil sangat mengecewakan.

    Yang mengecewakan, empat pemain ini. Mantan cadangan Kurnia Meiga terbukti jauh di bawah kualitas dari kiper yang digantikannya. Bek kanan Yustinus kehabisan tenaga karena faktor usia. Evan Dimas amat kedodoran mengawal lini vital, tidak cakap mengalirkan bola, kurang ketat menjaga lawan. Winger nomor punggung 21 menjadi pembingung yang banyak mengacaukan ritme permainan timnya sendiri.
     
    Empat 'nasib sial' timnas itu layak ditukar dengan Nadeo Argawinata, Diego Michels, Rizky Pora, dan Fadil Sausu. Namun, bagusnya permainan Borneo FC dan Bali United akhir-akhir ini di kompetisi domestik sungguh tidak terpantau radar analisis McMenemy.

    Pelatih seperti kurang tekun mempelajari bahwa keahlian individu pesepak bola Indonesia saat ini di bawah rata-rata semua kompetitornya di Grup G. Apalagi ditinjau dari rangking dunia FIFA, kita paling buncit, itu fakta tak terbantah.

    Jangan memilih pemain manis-kalem yang santun serta manja di lapangan. Hanya semangat juang pantang menyerah dan tampil kasar dalam batas-batas sportivitas yang bisa kita andalkan. Kalau ada negara yang perlu dicontoh, tidak usah Inggris, tapi tirulah spirit Braveheart of Highlander ala Skotlandia, negeri asal sang pelatih sendiri.    

    Stamina Payah

    Konon McMenemy memberlakukan aturan baru di bidang kesehatan bagi seluruh pemain yang dipanggil ke pelatnas. Menurut dia, yaitu sistem 'medical check-in' dan 'medical check-out', begitu istilahnya.
     
    Artinya, kurang-lebih, struktur kesegaran pemain diperiksa ketika dipanggil masuk dan saat dilepas keluar dari timnas. Tujuannya tentu demi mencapai puncak performa pas pertandingan.

    Jadi, seharusnya tidak beralasan pemain dirundung lelah. Hal ini diamini oleh manajer Madura United, "Tidak ada alasan pemain capek karena diambil (dari klub ke pelatnas) 15 hari sebelum pertandingan. Itu pernyataan (kelelahan) yang cari kambing hitam. Pelatih yang sudah terima job tidak boleh menyalahkan yang menunjuk," katanya di salah satu media.

    Apa hasil pemeriksaan struktur kesegaran itu dan durasi 15 hari pelatnas setelah melawan Malaysia dan Thailand? Memang, sayang di sayang tak alang-kepalang: tidak ada.

    Sekarang di depan kita Uni Emirat Arab. Indonesia menjadi tamu di Al Maktoum Stadium, Dubai, pada Kamis 10 Oktober 2019.  

    Si Putih tim unggulan, yang bukan cuma jago secara teknis, melainkan hebat pula dalam kekuatan uang. Fulus mereka hamburkan di sepak bola, mungkin sebagian lewat peredaran gelap, yang hingga kini belum terlacak oleh organisasi pemberantas kejahatan internasional. (Sementara FIFA tidak pernah menyelidiki UEA, padahal banyak pertandingan mereka yang jelas aneh.)

    Kurang Motivasi

    Celah kekurangan UEA satu saja. Ini menyangkut urusan politik bukan sepak bola. Tapi barangkali dapat berpengaruh juga.

    Mereka terkesan enggan untuk maju ke putaran final Piala Dunia. Faktor keengganan ini terhitung rasional semata.

    Soalnya tuan rumah Qatar 2022 merupakan seteru paling sengit mereka dalam kawasan Timur Tengah. UEA kontra Qatar tidak hanya bersaing di ranah ekonomi untuk memburu gelar sebagai oase glamor di gurun pasir.

    UEA bersama sejumlah negara Arab lainnya ikut menuduh Qatar memberi dana kepada organisasi teroris seperti Al Qaeda dan Islamic State (ISIS). Negeri Emirat itu juga turut serta memblokade jalur diplomatik Qatar ke mancanegara.

    Wajar bila pemain UEA kurang motivasi untuk tampil di Piala Dunia 2022. Sebaliknya, Qatar termotivasi hendak menundukkan seterunya, karena dikeroyok sesama negara Arab, bahkan mereka juara Piala Asia tahun ini di UEA.

    Apa motivasi Indonesia?

    Kita sedih kalau timnas kalah. Jadi sekarang mudah bagi siapapun yang ingin merasakan kepedihan: tonton saja timnas sepak bola senior Garuda. Pasti pilu.

    Lebih kecewa lagi, jika diam-diam pertandingan sudah 'diatur' sebelum peluit berbunyi. Maka, pastikan ini, pengalaman pahit di Asian Games 2018 jangan terulang kembali. Biarpun kalah, jagalah kepala tetap tegak ketika keluar lapangan. Sebagai tanda bahwa Anda telah bertarung habis-habisan.

    Video: Messi Terancam Absen Tiga Laga Karena Cedera



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id