Timnas Indonesia

    Kejutan Gaya Berlari

    Arpan Rahman - 29 Februari 2020 10:38 WIB
    Kejutan Gaya Berlari
    Pelatih Shin Tae-yong (tengah) memimpin latihan tim nasional sepak bola Indonesia di Stadion Madya, kompleks Gelora Bung karno (GBK), Senayan, Jakarta. (Foto: Antara/Aditya Pradana Putra)
    CUKUP mengejutkan ketika tim nasional senior memutuskan berlatih tanding kontra Persita Tangerang. Lebih kaget lagi setelah itu kita mendengar komentar dari Shin Tae-yong. 

    Pelatih asal Korea Selatan menuturkan bahwa pemain yang dipanggil ke pemusatan latihan bukan pilihannya. Rupanya pelatih lokal menyodorkan kepada dia daftar awal 75 pemain. 

    Melalui diskusi dan menonton video pertandingan, Shin bersama tim pelatih menyaring 34 nama yang kemudian terpilih ke pelatnas. Jadi, sebenarnya daftar keputusan akhir untuk 34 pemain timnas senior ke pelatnas tahap pertama atas pilihannya juga.

    Tidak Sedap

    Mengapa pelatih berkomentar tidak sedap di akhir pelatihan? Mungkin saja penerjemah yang ditugaskan kedutaan Korsel kurang akurat mengalihbahasakan maksudnya. Patut diduga pula bahwa profesi penerjemah itu bukan berlatar sebagai mantan pemain. 

    Akan lebih baik bila Shin mempekerjakan seorang penerjemah yang memahami bahasa sepak bola. Supaya miskomunikasi seperti itu tidak sering terjadi lagi.

    Keputusan uji coba menjajal Persita juga terkesan agak gegabah. Fisik para pemain sedang digenjot habis-habisan. Wajar kalau mereka lelah, lalu kalah.

    Perlu diketahui apa Shin sendiri yang memutuskan pertandingan tersebut atau pekerjaannya secara teknis mulai ditekan campur tangan pihak lain. 

    Jika itu keputusannya sendiri, berarti harapannya terlalu jauh melebihi ekspektasi. Akibatnya normal, dia menunjukkan rasa kurang puas. 

    Sekarang, Shin tahu bahwa selain mayoritas postur pemain Indonesia kecil-kecil, fisiknya pun lembek, kemampuan teknisnya kurang terarah, yang bahkan banyak gaya berlari mereka salah dari teori. Apa dia akhirnya mengerti bahwa itulah sebabnya PSSI berada di peringkat 173 dunia bukan nomor 50 FIFA?

    Contohnya, Irfan Bachdim. Di umur muda dia sempat dibina Ajax Amsterdam, klub kelas dunia. Kini, menjelang senja kariernya, di mata awam bisa terlihat jelas bahwa larinya telah pelan-pelan saja. 

    Ia hanya mengandalkan sisa-sisa keahlian teknis, yang memang masih di atas kualitas rerata pesepak bola nasional. Barangkali dalam tubuhnya masih tertinggal bekas cedera serius. Derita itu bisa diidap saat dia berkiprah di Thailand atau Jepang, dulu. 

    Terjadi perubahan gaya berlari dan kecepatan Irfan selama sembilan tahun antara 2011-2020. Tampilannya mirip dengan Boaz Solossa sesudah mengalami patah kaki. Perlu dipertanyakan apa pernah dokter memeriksa kesempurnaan anatomi fisiknya secara menyeluruh.

    Blunder Elementer

    Begitu pula munculnya tanda tanya tentang Andritany Ardhiyasa. Kiper utama, yang melakukan blunder dalam kondisi permainan elementer, praktis sangat meragukan. 

    Ia sempat tidak mengenali kekuatan musuhnya: Muhamadou Sumareh, bukan pemain kidal. Pada situasi genting berhadapan di dekat garis gawang, kiper abai mengantisipasi bahwa kaki kanan lawannya yang akan menendang bukan kaki kiri. Padahal dengan posisi berlari di arah samping, penyerang itu cuma memiliki sudut sempit buat menyasar tembakan. 

    Seharusnya kiper siap memastikan lawannya menyepak dengan kaki sebelah mana. Setelah itu dia menebak ke arah mana bola disepak, apa tiang dekat atau jauh. 

    Tapi tebakan itu takkan mendahului keputusan awal penjaga gawang seandainya dia sudah yakin kaki mana yang akan mengeksekusi bola. Tinggal dia awasi dengan teliti gerakan kaki lawannya berada di posisi bagaimana tatkala ancang-ancang menendang sudah diayunkan. Pasti bola bisa diselamatkan.

    Terakhir dia menghadapi situasi buruk pada masa perpanjangan waktu. Padahal pertandingan di ambang peluit panjang.

    Mendatar umpan silang meluncur di antara bek dan dirinya. Di lapangan permainan, cross-ball seperti itu disebut "bola kiper" sebab penjaga gawang paling berhak menyongsong bola. 

    Bek tentu mengalah, memberi jalan terbuka, supaya umpan itu leluasa dijinakkan. Tapi, dia malah memakai kaki. Menurut perhitungan begitu, bek tidak mau mengalah.

    Padahal bek pasti ngotot mengejar dalam situasi yang bukan "bola kiper". Jadi, dari mana teorinya memasang kaki?

    Tae-yong mestinya sudah menyaksikan tayangan mengenaskan lima laga timnas senior di Grup G putaran kedua zona Asia Pra-Piala Dunia 2022. Dari situ, dia niscaya menemukan arti kata "regenerasi" mutlak untuk 11 pemain pilihannya nanti jadi satu kekuatan andalan.

    Video: Iwan Bule: Saya Siap Matikan Mafia Bola



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id