Pertaruhan ala Drama Korea

    Arpan Rahman - 15 Februari 2020 11:43 WIB
    Pertaruhan ala Drama Korea
    Pelatih Shin Tae-yong (tengah) memimpin latihan tim nasional sepak bola Indonesia di Stadion Madya, kompleks Gelora Bung karno (GBK), Senayan, Jakarta, Jumat (14/2/2020) malam. (Foto: Antara/Aditya Pradana)
    SETAHUN lebih dia tidak aktif terlibat di lapangan. Dari kursi pelatih tim Korea Selatan di Piala Dunia 2018, kariernya berlanjut sekarang membesut kesebelasan berperingkat 173 dunia. 

    Adakah pertaruhan yang lebih dramatis dari hidup seorang Shin Tae-yong? Ia seperti orang kaya yang menyelinap ke dalam kampung sepak bola miskin.

    Senyumnya simpatik begitu terpilih sebagai manajer-pelatih Tim Nasional Indonesia. Ia mengeluh rumput lapangan yang buruk di Stadion Wibawa Mukti Cikarang. Di bawah sorotannya, meski mempunyai performa cukup baik, daya tahan pemain Timnas selalu melorot pada paruh babak kedua. 

    Ia mencatat, budaya libur puasa dan Lebaran di negeri khatulistiwa berdampak pada blantika sepak bola Tanah Air. Sembari berjanji akan serius belajar Bahasa Indonesia demi mengatasi kendala komunikasi. 

    Nada Sumbang

    Shin bertugas rangkap di Timnas U-19 yang sudah dibawanya berlatih ke Thailand. Kini, giliran Timnas Senior berkumpul menjelang lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022. 

    Konsekuensi daya tahan pemain selalu melorot itu, Shin menggeber pemusatan latihan Timnas Senior lebih awal. Ini perhitungan sportif yang logis saja.

    Tapi, baru tahap pemanggilan pemain, belum lagi mulai pelatnas Timnas Senior. Nada sumbang segera terdengar keberatan dari dua pelatih asing. 

    Berkilah pemainnya dipanggil tidak resmi tanpa surat, Robert Rene Alberts pelatih Persib Banding sempat bersikeras tidak mau melepas pemain itu ke Timnas seperti dikutip dari sebuah media. Lagi pula dia beralasan pelatnas tersebut dilakukan bukan dalam kalender resmi FIFA. 

    Padahal klubnya sedang bersiap tampil di Liga 1 2020. Disusul komentar bahwa banyak pelatih lain juga tidak setuju dengan pemanggilan kali ini.

    Stefano Cugurra Teco pelatih Bali United berargumen bahwa di pelatnas hanya buat latihan. Lebih bagus bila pelatih Timnas bisa melihat pemain pada pertandingan. 

    Dua hari setelah pelatnas, klubnya akan berlaga di Piala AFC 2020. Teco merasa tidak mungkin semua tujuh pemain inti Bali United dilepas ke pelatnas. Ia pikir yang lebih penting saat ini adalah kompetisi antarklub bukan Timnas Indonesia.

    Alberts dan Teco mencari sesuap keju dan kentang di tanah tumpah darah kita. Klubnya, Persib dan Bali United, menjadi anggota PT Liga Indonesia Baru (LIB), operator yang ditunjuk PSSI. 

    PSSI seyogyanya memanggil PT LIB untuk bertanya apakah dua pelatih klub itu menenggang rasa nasionalisme Merah-Putih. Jika diperiksa lebih serius mereka ternyata menyimpan maksud terselubung mengacaukan sepak bola Indonesia, keduanya patut dideportasi karena menghalangi tugas negara.

    Komentar miring tidak keluar dari beberapa pelatih lokal yang sempat ditemui Shin di sela Piala Gubernur Jawa Timur 2020. Pujian setinggi langit justru dilontarkan, terutama karena sosok dari Negeri Ginseng dianggap bersahaja dan memahami kultur ketimuran.

    Akhir Bahagia

    Perbandingan antara dua tim terakhir yang ditangani Shin jelas jauh sekali. Korsel bercokol di papan atas rangking FIFA 17 dunia. Otomatis, berarti dia tidak malu buat mengorbankan gengsinya 156 tingkat ke bawah.

    Itu bukan berarti harganya ikut merosot setara bayaran Alberts atau Teco. Standar pelatih eks-Piala Dunia tentu lebih mahal dari juru racik kelas kampung Brasil dan Belanda.

    Dari lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2022, Timnas Senior menyisakan tiga pertandingan. Mestinya tiada target khusus dibebankan kepada Shin. 

    Soal pemain tertentu yang masih dipercaya berkostum Garuda kendati hanya sisa dari tim lama yang pada lima laga sebelumnya babak-belur amat patut dipertanyakan. Sinyalemen adanya pemain titipan semoga terbuka jadi pembuktian dari Satgas Antimafia Bola. 

    Shin harus berpijak pada profesionalisme sejati. Dia wajib memegang prinsip bahwa ke dalam timnya tak bisa diselundupkan pemain dengan bakat pas-pasan yang berkualitas masih di bawah standar. 

    Sekali saja dia berkompromi dengan oknum dalam sistem tercela yang mendalangi bobroknya sepak bola Indonesia, alamatnya hasil pertandingan pasti memalukan. Barangkali ujung cerita akan sedramatis keputusannya untuk kembali menjadi pelatih setelah menganggur lebih dari setahun.

    Drama Shin menggandeng Timnas Garuda pantas kita tunggu seperti melownya drama Korea. Syukur seandainya adegan puncaknya berakhir bahagia untuk selama-lamanya. Cukuplah kepahitan Anda selama ini. Jangan lagi.

    Video: Piala Dunia U-20 Tetap Berlangsung 24 Mei hingga 12 Juni 2021



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id