Ludah Beracun di Piala Dunia

    Arpan Rahman - 19 Mei 2020 09:21 WIB
    Ludah Beracun di Piala Dunia
    Rudi Voller. (Foto: dok. AFP)
    FRANK Rijkaard terlibat pertikaian dengan Rudi Voller. Gelandang Belanda berlaku tidak pantas: meludahi kepala si penyerang Jerman. Itulah ludah paling terkenal yang pernah disemburkan oleh seorang pemain di Piala Dunia.

    Kejadian berawal dari akselerasi Voller di sayap kanan pertahanan tim Oranje. Ia bergerak dalam dribel apik, maju cepat menggiring bola, memasuki daerah berbahaya. Rijkaard lekas menyergap, melanggarnya lewat tekel kasar mengincar kaki. 

    Wasit Juan Carlos Loustau dari Argentina meniup peluit peringatan, permainan langsung terhenti. Rijkaard diganjarnya kartu kuning. 

    Terusir karena Ludah

    Setelah dikartukuningkan wasit, gelandang berambut gimbal milik klub AC Milan itu berlari ke arah kotak penaltinya sendiri. Voller sedang berjalan santai di depannya. Saat itu Rijkaard menyemburkan ludahnya ke arah bagian belakang kepala Voller.  

    Tiga detik kemudian, Loustau juga menghukum Voller kartu kuning, karena mengumpat. Penyerang pirang tersebut memprotes seraya menunjukkan rambutnya yang diludahi sang lawan. 

    Stadion San Siro, Milan, pukul 9 malam, 24 Juni 1990, dipadati 74.559 penonton yang riuh bersorak di tribun. Babak 16 Besar mempertemukan Belanda versus Jerman.

    Tendangan bebas akibat pelanggaran tersebut diambil pemain Jerman lain. Bola disepak melayang silang ke tiang jauh dari gawang. Voller muncul di sana bertabrakan dengan kiper Hans van Breukelen. Mereka berdua sempat ribut mulut.

    Segera mengadang, Rijkaard mendorong bahu Voller. Karena tidak mau terima, striker asal klub AS Roma itu menepis dorongannya. Wasit memperberat hukuman: keduanya diberikan kartu merah tepat pada menit ke-22. Rijkaard dan Voller diusir keluar lapangan. 

    Begitulah, sekilas kisah tentang ludah beracun yang berbuah kartu merah di Piala Dunia, tiga puluh tahun silam. Namun, ceritanya belum selesai.

    "Tentu saja tidak menyenangkan apa yang dilakukan Frank Rijkaard tetapi pertandingan seharusnya berlanjut untuk saya," kata Voller, bertahun-tahun kemudian, kepada majalah FourFourTwo. Ia masih tidak mau menerima kenyataan dengan kartu merah tersebut.
      
    Jerman unggul 2-1 atas Belanda pada akhir pertandingan. Di ujung kejuaraan, tim Panser bahkan sukses mengangkat trofi Piala Dunia.

    Meskipun Tembok Berlin yang dibangun 1961 telah runtuh, Jerman tampil di Italia'90 masih dengan nama Jerman Barat. Negeri Uber Alles belum mengikat reunifikasi dengan saudara sebangsanya, Jerman timur.

    Sangat termasyhur, persaingan antara Belanda dan Jerman berlangsung sengit. Akarnya sejak perang dunia kedua dan kedua tim dan penggemar mereka semakin intensif saling membenci setelah "Induk Segala Kekalahan", ketika Jerman menang atas Belanda di final Piala Dunia 1974.

    Tergumpal di Kerongkongan

    Ludah terkenal lainnya muncul dalam film Titanic (1997) disutradarai James Cameron. Karakter sepasang kekasih, Jack dan Rose, berbincang akrab setelah berkenalan. "Ajari aku berkendara seperti seorang pria," pinta Rose dengan manja. Permintaannya ditimpali oleh Jack: "Dan mengunyah tembakau seperti pria." 

    Rose membalas, "Dan meludah seperti pria!" Lalu, dengan setengah heran, Jack bertanya: "Apa, mereka tidak mengajarimu itu saat menamatkan sekolah?" Sang pemuda miskin mengumpulkan gumpalan dahak di kerongkongannya, mengajari si gadis kaya itu meludah kuat-kuat di geladak kapal.

    Di kapal Titanic, mereka meludah sembarangan. Dan bebas bercinta dalam pelayaran sebelum tenggelam di tengah lautan.

    Papua Mengunyah

    Tapi dilarang meludah sembarangan di Bandara Sentani. Orang Papua memang dikenal senang mengunyah buah pinang dibaluri kapur dan sirih. Habis menginang, biasanya ludah pinang suka tercecer ke mana-mana. Otoritas bandara setempat harus menyediakan tempat sampah khusus untuk menampung kebiasaan mereka.

    Tidak seperti Frank Rijkaard yang kurang sopan. Belum ada pemain Persipura Jayapura diusir wasit akibat meludahi lawan. Ian Kabes cs tetap bermain sportif selama ini, sebatas mempertontonkan sepak bola indah dalam seluruh pertandingan. Sportivitas tim Mutiara Hitam patut diacungi jempol.

    Suatu ketika, pelukis Pablo Picasso pernah berkata: "Jika aku meludah, mereka akan mengambil ludahku dan membingkainya sebagai karya seni yang hebat." 

    Tentu, sekarang tidak ada yang mau memungut sisa lendir yang disemburkan Picasso. Dunia sedang terkunci rapat di tengah ancaman bahaya. Virus Covid-19 konon ditularkan lewat ludah dan akibatnya mematikan. Ludah mengandung virus korona membuat banyak nyawa melayang. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa umat manusia.

    Video: Tontowi Ahmad Pensiun dari Bulu Tangkis



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id