Pemain Loyo karena Pelatih Bodoh

    Arpan Rahman - 14 Oktober 2019 15:18 WIB
    Pemain Loyo karena Pelatih Bodoh
    Timnas UEA vs Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. (Foto: dok. PSSI)
    HANYA pelatih bodoh yang membuat pemain loyo. Pemain harusnya gagah perkasa setelah mengenyam latihan. Bila berakibat lemah lunglai kelelahan karena dilatih, berarti cara berlatihnya salah.

    Latihan berguna sebagaimana obat dan sekolah. Sekolah merangsang kecerdasan dan obat meredakan penyakit. Latihan dibuat untuk meningkatkan performa atlet.

    Andaikan siswa menjadi dungu, yang selalu disalahkan guru. Jika obat menimbulkan penyakit, pasti dokter keliru memberi resep. Kalau latihan justru menambah keletihan, artinya pelatih yang gagal merancang program.

    Pemain bisa juga seperti komputer. Ia dapat terjangkit virus kapan saja. Terlebih ketika menjalankan aplikasi yang tidak cocok dengan diri sendiri. Terlepas kapasitas yang sudah ketinggalan dari zaman now sebagai imbas persaingan ketat teknologi permainan terbaru.

    Masuk Neraka

    Di tahun 1991, Anatoly Polosin menggembleng fisik secara spartan. Menu latihan dinilai di luar batas kemampuan manusia. Beberapa pemain tidak tahan, lalu mundur dari pemusatan latihan. Hasilnya, PSSI juara SEA Games di Filipina.

    Skuat 1991 kebanyakan dari Galatama, yang tipe kompetisinya serupa dengan Liga 1. Timnas Polosin sama saja dengan timnas McMenemy kini. Hanya pelatih pintar yang membuat pemain kuat, itu bedanya.

    Sebelas tahun kemudian cerita berulang. Latihan fisik berat bagaikan masuk neraka disajikan Guus Hiddink kepada tim nasional Korea Selatan. Mereka akhirnya sukses jadi semifinalis Piala Dunia 2002.

    Di mana letak kesalahan timnas sepak bola senior Garuda? Sampai tiga kali berlaga, kalah semua.

    Proses pemilihan pemain patut diragukan. Hanya dua kemungkinan: pelatih kepala Simon McMenemy menunjuk pilihannya sendiri atau orang lain memberi daftar menurut selera yang berbeda.

    Daftar titipan semacam itu sudah rahasia umum kerap terjadi. Coach Simon hanya seorang pekerja profesional dalam atmosfer persepakbolaan nasional yang buruk sejak lama.

    Konflik Kepentingan

    Hitam-putih sepak bola Indonesia diatur oleh 85 pemilik suara di PSSI. Kelihatan memang tampaknya seperti mafia. Mayoritas dari 85 itu tidak bebas nilai dari pelbagai konflik kepentingan pribadi, termasuk barangkali dalam memilih pemain timnas. Atau memastikan juara liga sebelum kompetisi berakhir, misalnya.

    Mungkin saja sedikit di antaranya ada yang baik juga. Tapi, dalam sistem 'yang banyak adalah yang berkuasa', maka sedikit kebaikan tidak akan berpengaruh apa-apa.

    Suap apalagi, menghantui sepak bola kita sejak 1962. Jadi telah berlangsung selama kurang-lebih tiga generasi. Tidak ada tanda-tanda praktik ini terhenti.

    Sesudah Porkas dan SDSB (dana umum yang dikumpulkan Departemen Sosial RI) diharamkan, perjudian masih terus berjalan sembunyi-sembunyi. Taruhan makin marak di pasar gelap seiring siaran sepak bola terbuka luas hingga taruhan kompetisi liga dari manapun belahan dunia bisa otomatis diunggah ke ponsel pelanggan.

    Asisten pelatih klub yang pernah membocorkan informasi penting tentang kotornya pertandingan dalam liga domestik, malah dibuang ke sepakbola putri. Ia kini sengsara, seakan diberi pelajaran pahit entah oleh siapa.

    Dari segala kebusukan yang menggoda nafsu itu, jangan berharap prestasi datang dengan sendirinya. Kita hanya boleh sebatas bermimpi lolos ke Piala Asia lagi atau menuju Piala Dunia.

    Kurang Berbakat

    Seorang wartawan senior mengatakan banyak pesepak bola kita sekarang kurang berbakat. Tak heran, pemain timnas pilihan pun bermutu di bawah standar Asia Tenggara untuk persaingan antarnegara terdekat.

    Meniru bunyi iklan sepatu: 'nothing is impossible' (tidak ada yang tidak mungkin), tapi lebih pas untuk PSSI senior: 'nothing is possible' (tidak ada yang mungkin) atau 'everything is impossible' (segalanya tidak mungkin).

    Kita hanya akan bergerak seperti hantu gentayangan di Grup G zona Asia kualifikasi Piala Dunia 2022. Hanya bisa menakut-nakuti, namun tidak sanggup mengalahkan lawan. Bertindak sebagai tim penggembira yang cuma mencari hiburan.

    Meminjam idiom berita di media Uni Emirat Arab baru-baru ini, Irfan Bachdim dkk sekadar 'unexpected team' (kesebelasan yang tidak diharapkan). Tepatnya, tidak mampu diharapkan menjadi lawan yang setimpal bagi empat tim lain.

    Sebuah anekdot mengatakan, Indonesia tidak mungkin bermain di Piala Dunia. Sebab Piala Dunia mainnya tengah malam. Sedangkan pemain Indonesia tidak kuat begadang.

    Begitu pula kekalahan telak dari UEA. Pertandingannya baru dimulai pukul 23:00 WIB. Pasti, yang pada main itu, mengantuk semua. Itu saja alasan untuk tertawa.

    *Segala gagasan dan opini yang ada dalam tulisan ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi medcom.id.

    Video: Arturo Vidal dan Ivan Rakitic Masuk Daftar Jual Barcelona



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id