Menghitamkan Asa Si Putih UEA

    Arpan Rahman - 09 Agustus 2019 22:10 WIB
    Menghitamkan Asa Si Putih UEA
    Skuat Uni Emirat Arab. (Foto: AFP/Martin Bureau)

    UNI Emirat Arab punya posisi paling bagus dibandingkan negara pesaing lain di Grup G Pra-Piala Dunia 2022. Namun, bukan berarti, Indonesia tidak berpeluang meredam hegemoni UEA.

    UNI Emirat Arab (UEA) menjadi unggulan di Grup G Pra-Piala Dunia 2022 putaran kedua zona Asia. Peringkat FIFA-nya pada urutan ke-67 dunia. Sementara tiga tim lain jauh di bawah mereka: (96) Vietnam, (116) Thailand, (159) Malaysia, dan (160) Indonesia.

    Kita berada pada posisi paling bawah. Tak perlu berkecil hati, walau langit sepak bola nasional makin mendung. Itu bukan alasan untuk kalah sebelum bertanding.

    Rentang waktu lima bulan, skuat Garuda Merah-Putih akan dua kali menantang UEA. Laga pertama dijadwalkan di Al Maktoum Stadium, Dubai, pada 10 Oktober 2019. Kedua, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 31 Maret 2020.

    Jangan Khawatir

    Sejatinya performa UEA tidak perlu dikhawatirkan. Mereka selalu tampil lebih mengandalkan tenaga, namun dengan reaksi yang lamban, layaknya tim-tim asal Timur Tengah.  

    Kiper andalannya, Khalid Eisa, masih suka ceroboh membuat kesalahan elementer. Ia melakukan blunder menghadapi Qatar pada semifinal Piala Asia 2019 pada 29 Januari lalu. Tendangan spekulasi mendatar silang Boualem Khoukhi pada menit 22 gagal ditangkapnya, padahal lajunya pelan saja.

    Tim berjuluk Al Abyad atau Si Putih tampak lebih konstan bermain di lini belakang. Intinya diperkuat empat baris sejajar bek kekar rerata bersosok tinggi-besar. Fares Juma, Walid Abbas, dan Ismail Ahmed -- kecuali Bandar Al-Ahbabi yang cuma bertinggi 1,69 meter -- ketiganya jangkung. Mereka jago dalam duel bola-bola atas.

    Di atas semua itu, UEA dibebani ketergantungan pada sosok Omar Abdulrahman. Lahir 20 September 1991, akrab dikenal sebagai Amoory, gelandang serang ini dibekali kelincahan berkelit lewat gocekan bola lengket seperti lem bila sudah di kakinya.

    ESPN memberi rangking Abdulrahman nomor satu dalam sepuluh besar pemain Asia 2012. Pada 2013, dia tercantum dalam daftar FIFA sebagai bintang masa depan paling menjanjikan di Asia. Otak segala ofensif UEA ada di Omar seorang. Taktik mematikannya ialah strategi kunci buat meredam spirit 10 pemain lain. Absennya Omar pada semifinal Piala Asia 2019 telak menghancurkan UEA 0-4 dari Qatar.

    Selain Amoory yang sudah jadi ikon, hanya satu striker menonjol: Ali Mabkhout, sekaligus kapten kesebelasan. Ia biasa ditopang sayap kembar, Ismail Al Hammadi dan Saif Rashid.

    Sedangkan era kegemilangan Ismail Matar telah pudar di umurnya yang menginjak 36 tahun. Dianugerahi Bola Emas di Piala Dunia Yunior 2003 setelah terpilih sebagai pemain terbaik turnamen, dia memimpin UEA meraih trofi pertama, Piala Teluk Arab, pada 2007.

    Di bawah Alberto Zaccheroni, UEA sering menampilkan patron 3-4-3. Tapi, kini bukan pelatih ternama asal Italia itu lagi yang menangani mereka.

    Sepi Penonton

    Bergelimang kekayaan, UEA mampu mendatangkan pelatih-pelatih kelas dunia. Sejak 20 Maret, Bert van Marwijk -- yang membawa Belanda ke final Piala Dunia 2010 -- membesut mereka setelah kontrak Zaccheroni berakhir.

    Dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV Deutsche Welle, Zac mengeluhkan sepinya dukungan penonton di stadion. Katanya, tidak ada suporter fanatik yang militan seperti kelompok Ultras di arena sepak bola Eropa.

    Stasiun TV Jerman itu menyebut UEA sebagai oasis futuristik di tengah gurun pasir. Jalan rayanya dihiasi mobil-mobil berkecepatan tinggi dan gedung-gedung mewah pencakar langit. Uang berlimpah dan glamor menjadi standar gaya hidup. Negeri kecil dengan ambisi besar.

    "Kami tidak mengatakan bahwa kami sekaya negeri lain di Timur Tengah, namun target kami selalu menjadi nomor satu," kata seorang pejabat Federasi Sepak Bola UEA.

    Ambisi besarlah yang membuat UEA lebih agresif di antara negara-negara Jazirah Arabia. Sekarang, tengah berkoalisi dengan Saudi, mereka menghancurkan Yaman ke dalam perang dan di ambang bencana kelaparan terparah di dunia.

    Dua tahun terakhir, UEA turut terlibat krisis diplomatik dengan Qatar, dimulai pada Juni 2017. UEA satu dari 12 negara yang melarang pesawat dan kapal Qatar melintasi jalur udara dan laut serta menghalangi satu-satunya penyeberangan darat.

    Baca: Usai Piala AFF, Timnas U-15 Langsung Terbang ke Myanmar

    Hadiah Penalti

    Pengalaman tanding bertemu salah satu unsur mereka pernah ikut penulis rasakan. Tatkala klub papan atas UEA, Al Ain, menghadapi Sriwijaya FC dalam penyisihan Liga Champions Asia pada 19 Februari 2011. Saat itu, Amoory mencetak dua gol. Laga pun diwarnai hadiah penalti untuk tim tamu.

    Tim tamu tiba di Palembang menumpangi pesawat berbadan lebar milik pribadi! Lengkap didampingi oleh koki dan diliput wartawannya sendiri.

    Pada Juli 2019, klub itu meninggalkan markasnya ke kamp latihan di Austria dengan pesawat yang sama. Bahkan mereka memiliki pula bandara internasional Al Ain. Bayangkan, itu baru sebatas klub, belum lagi timnasnya.  

    Mungkin masih kekal dalam ingatan pencinta sepak bola kita. Di Asian Games 2018, mereka dihadiahi dua kali penalti dari wasit kontroversial Australia yang terlihat memperdayai pertandingan. UEA akhirnya menang adu penalti dari timnas U23+ Indonesia pada 16 Besar.

    Anehnya, mereka kemudian berhasil meraih medali perunggu melalui dua kali lagi drama adu penalti. Masing-masing melawan Korea Utara pada Delapan Besar dan perebutan tempat ketiga versus Vietnam. Lihatlah, alangkah banyak laga mereka yang dilalui adu penalti.

    Di kancah senior Piala Asia sebagai tuan rumah, awal tahun ini, UEA beruntung lolos dari hadangan Kirgizstan pada 16 Besar. Gol penentu kemenangannya berupa penalti (lagi-lagi penalti!) sesudah bek lawan menjatuhkan striker mereka.

    Di lapangan, justru terlihat trik gerakan licik dari sang striker ketika perpanjangan waktu memasuki menit 100. Wasit Tiongkok minta bantuan VAR (asisten video untuk wasit) kendati gesturnya terkesan sudah mengambil keputusan sebelum dia melihat tayangan ulang.

    MENGHADAPI UEA di lapangan hijau sama seperti melawan ganasnya kekuatan uang. Negara kaya-raya dari Teluk itu bisa saja menghalalkan segala cara untuk menang di sepak bola.

    Dengan uangnya mereka pasti mampu menyuap wasit. Atau membayar lawan supaya mengalah. Apakah kecurangan akan kembali mereka lakukan? Lewat hadiah penalti lagi? Semoga tidak.

    Meski kita tak perlu berburuk sangka, namun AFC (konfederasi sepak bola Asia) memang belum pernah serius menyelidiki 'keanehan' permainan. Baik laga antarklub maupun tim-timnas seantero benua Asia. Padahal, dua di antara bandar taruhan terbesar dunia terus memutar operasi pengaturan skor dari Singapura dan Malaysia.

    Jangan sampai pengalaman Asian Games 2018 dan kesialan Kirgizstan terus berlanjut menjadi mimpi penuh misteri. Harus yakin laga berjalan normal dan bersih dari muslihat kotor nonteknis di luar lapangan yang berdampak buruk kepada 11 pemain kita nanti. Upaya proteksi terhadap kecurangan mesti diterapkan sejak dini. Timnas Indonesia bisa menghitamkan asa Si Putih UEA, hingga kelam karam, setidaknya sekali, itu di kandang sendiri.

    Video: Pique Berharap Neymar Kembali ke Barcelona



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id