Buang Sial

    Arpan Rahman - 11 Desember 2019 09:11 WIB
    Buang Sial
    Pemain Timnas U-22 Indonesia Egy Maulana Vikri (tengah) berebut bola dengan dua pemain Timnas Vietnam Huynh Tan Sinh (kiri) dan Do Hung Dung (kanan). (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
    SEJAK awal saya khawatir. Jari ini terasa berat. Untuk diajak menari di tuts kibor. Buat mengulas prediksi pertandingan final sepak bola putra SEA Games 2019.   

    Alasannya bukan karena suporter seleb yang paling menonjol di Manila ialah mantan bintang porno asal Jepang. Bukan itu...

    Tapi, fakta yang menguatirkan ada dua. Pertama, tim nasional U22 Indonesia adalah tim yang gagal lolos ke Piala Asia mendatang. Sedangkan lawannya merupakan juara kedua Piala Asia yang baru lalu.

    Siapa favorit; siapa underdog -- fakta itu jelas sekali. Sepak bola memang bukan matematika, namun di dalamnya tetap ada logika.

    Kedua, faktor kekalahan di penyisihan grup. Vietnam menang 2-1 dengan kuasa mendikte permainan.  

    Menit per menit bisa saya putar lagi rekaman laga dari internet. Lalu memaparkan di mana titik lemah tim kita. Pada bagian mana serta dalam situasi apa tampak titik kekuatan tim lawan. 

    Sebagai perbandingan, semoga bisa jadi masukan. Atau sekadar hiburan sebelum menyaksikan pertandingan.

    Tapi feeling saya mengatakan bahwa Park Hang-seo pasti mengubah strategi kala tampil di final. Ternyata benar. 

    Di laga penyisihan, para pemain Vietnam memiliki sebuah taktik hapalan. Setelah bola melewati garis tengah lapangan. 

    Mereka mulai membangun konstruksi serangan dari bek tengah. Lewat garis tengah sambil menggiring bola, dia mengumpan datar ke depan. Pendek saja sejauh 3-5 meter, arahnya menyamping. 

    Tujuan strategi ini bermaksud membuka ruang. Pemain sayap mereka pun dengan rajin turun menjemput umpan. Dari sayap, bola kemudian mengalir sama tipenya dan jaraknya: umpan pendek mendatar ke depan. Arahnya silang, kembali ke tengah. Hanya untuk minta gelandang atau striker mereka muncul sembari mundur dari garis tembak.  

    Kemunculan gelandang atau striker melalui gerak mundur mengambil umpan justru membuat mereka tersembunyi ke dalam sisi gelap penyerangan. Striker lantas mengembalikan bola itu lurus ke belakang. Balik lagi ke bek tengah.

    Taktik hapalan, kombinasi segitiga. Layaknya propaganda di atas lapangan hijau. Vietnam melakukannya berulang-ulang, puluhan kali, selama 2x90 menit. 

    Kombinasi mereka menghancurkan ritme dan mental organisasi permainan timnas kita. Kuasa dikte permainan sangat menekan perasaan.

    Memang dua gol mereka bukan tercipta dari taktik hapalan ini. Tapi ritme dan mental organisasi permainan timnas kita telah rusak berat akibat pola serangan yang sama, terus-menerus. Menggerus tenaga serta konsentrasi Osvaldo Haay cs yang cuma sibuk mengejar, kehilangan bola.

    Taktik lawan tidak aneh. Biasa saja.

    Yang aneh, tidak seorang pun ofisial timnas -- dari pelatih kepala hingga para asistennya di pinggir lapangan -- bisa membaca pola permainan lawan yang diciptakan berulang kali. Bukan berniat mencegahnya, malah membiarkan kesalahan serupa terjadi.

    Malam final, Golden Stars benar-benar berubah total. Mereka menjelma monster, keras dan bertahan rapat, tidak malu-malu main kepung. Dan sangat provokatif ketika kontak fisik. 

    Akibatnya mental tim lawannya yang sejak awal sudah rapuh jadi semakin ciut. Tiada lagi celah untuk serangan sporadis dan tendangan spekulatif seperti skema gol Sani Rizki Fauzi pada pertemuan pertama. 

    *

    Kegagalan di kancah internasional biasanya memunculkan apologi itu-itu saja. Seperti alasan "tidak ada prestasi yang bisa diraih dengan cara instan".

    Padahal PSSI bukan mie instan. Berdirinya saja di tahun 1930. Dengan kata lain, 'bungkusan' PSSI sudah puluhan tahun lamanya terbuka. Bukan seperti mie instan yang baru tiga menit lalu disobek untuk dimasak sebagai menu siap-saji kita sekarang.

    Malang tak dapat ditolak. Prestasi tak dapat diraih. 

    Jangan-jangan kitanya sendiri yang tidak mau maju. Sepak bola kita menderita sakit parah yang amat pilu.

    Mungkin nama asosiasi sepak bola nasional saat ini sudah waktunya diganti. Jangan PSSI lagi. Barangkali diubah saja: ASI (Asosiasi Sepakbola Indonesia). Sekaligus ganti lambang dan bendera.

    Menurut adat-istiadat, bila seseorang sering sakit-sakitan, kemudian untuk membuang sial, maka perlu dicari nama baru. Ini mudah-mudahan bisa menjadi solusi. Kita tidak boleh melupakan tradisi.

    Jangan ditolak hanya karena ASI sudah jadi akronim untuk Air Susu Ibu. Begitu...

     



    (KAH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id