Main Kejar atau Lari Tenang?

    Arpan Rahman - 04 September 2019 11:19 WIB
    Main Kejar atau Lari Tenang?
    Striker veteran Norshahrul Idlan Talaha (dua dari kiri) masih menjadi tumpuan Timnas Malaysia di lini depan (Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
    LAGA perdana Grup G Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia sudah menjelang. Timnas Indonesia bakal menghadapi Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis 5 September 2019. 

    Harimau Malaya tidak mungkin bermain terlalu jauh berbeda dari penampilan yang mereka tunjukkan kala menjamu Yordania dalam laga uji coba, pekan lalu. Rentang waktunya terbilang sangat singkat untuk para pemain mengubah drastis kebiasaan di atas lapangan.    

    Dua formasi kemungkinan dimainkan Malaysia melawan Indonesia: 4-4-2 atau 4-2-3-1. Mereka jelas tidak mengusung skema 4-3-3 terlalu ofensif, maupun 5-4-1 yang ultradefensif. Lalu, bagaimana dua skema tersebut bekerja? 
     

    Skema Kejar Lari (4-4-2)

    Kiper: Farizal Marlias;
    Bek: Corbin-Ong, Shahrul Saad, Adam Azlin, Matthew Davies;
    Gelandang: Brendan Gan, Azam Azih, Safawi Rasid, Mohamadou Sumareh;
    Peneyrang: Hadin Azman, Idlan Talaha.


    Patron ini aman bagi tim tamu sebab menjanjikan stabilitas dalam pertahanan. Secara statistik, delapan pemain minus kiper siap mencegat serangan. Mereka berbaris sejajar di dua lini belakang. Satu gelandang dilapisi seorang bek, begitu teorinya.

    Tapi bagaimana kesebelasan di peringkat FIFA 159 dunia menerapkan teori? Kalau praktiknya sudah tepat, mantap, dan akurat, pasukan Kuning-Hitam tentu tidak memalukan dan posisinya akan lebih baik dari 100 Besar. Praktik kurang tepat, tidak mantap, jauh dari akurat -- itu kesimpulan. Tampilannya masih memalukan.

    Sebagai tamu, pasukan sukan pasti cenderung bertahan. Dari empat beknya, 2:2 faktor kekuatan dan kelemahan mereka. Yang lebih kuat, bek kiri Corbin-Ong dan stopper Shahrul Saad. Sisi lemahnya pada bek kanan Matthew Davies dan sweeper Adam Azlin.

    Ong disiplin menjaga kedalaman, cukup paham kapan tetap bermain melebar atau menyempit. Tekniknya menutup ruang juga lumayan. Keistimewaannya membantu serangan terjadi pada situasi bola mati; dia bisa membuat lemparan ke dalam yang cukup jauh maksimal 25 meter.

    Tapi Ong mudah berhenti sendiri bila diajak berlari dengan tempo variatif cepat-lambat-lambat-cepat oleh sayap lawan yang cekatan. Gerakan kuda-kuda awalnya menggenjot langkah tampak berat dan malas pula.

    Sementara Shahrul memiliki reaksi yang baik. Ia segera bertindak melapis daerah di mana bola tembus dari barisan gelandang.

    Juga tahu membaca permainan, bukan hanya tahu, namun mampu menajamkan nalurinya: menempatkan posisi tepat di balik titik lemah barisan tengah. Dan saat titik lemah itu ditekan lawan lalu gagal menahan serangan, Shahrul biasa muncul sebagai pahlawan.

    Sepak pojok mereka jadi incaran Shahrul untuk mencetak gol lewat sundulan kepala. Ia kuat dalam duel perebutan bola di udara. 

    Naluri seperti Shahrul tidak dipunyai Adam Azlin. Bek ini praktis sekadar bayangan dari rekan duetnya itu. Jadi Adam bergerak hanya mengikuti naluri Shahrul.

    Gaya seperti ini kuno, yang dituntut sepak bola zaman now ialah duet stopper-sweeper yang sama-sama kreatif, masing-masing memunculkan karakter berbeda. Satu tidak menjadi pengekor yang lain.

    Matthew Davies bergerak kaku tapi banyak tingkah. Ia kerap menjaga jarak ketika lawan seharusnya ditempel ketat. Lebih suka menempel ketat tatkala lawan mestinya dijaga jaraknya. Lucu, bukan?

    Bukan tanpa alasan, bakatnya telah dimandulkan posisi: seharusnya gelandang, namun ditaruh ke belakang. Bila bermain di depan, ambisinya mencuat lebih kentara. Ia sangat ofensif mencuri bola daripada menjaga lawan. Davies berbahaya di zona nyaman sekitar garis tengah dan lebih ke depan lagi.  

    Posisinya di sisi belakang serba salah dan kerap tanggung di bawah garis tengah. Selain mudah goyah digoyang gocekan yang simpel saja asal ngotot berniat melewatinya, maka ia akan mengalah. Justru karena konsentrasinya tidak terfokus untuk satu-dua musuh tapi semua lawan seperti mau dia kalahkan.

    Namun, gelandang bertahan Brendan Gan suka mengajak Davies bermain satu-dua bila bek sayap kanan itu naik membantu serangan. Tak heran, Gan diganti bersamaan dengan Davies di babak kedua laga kontra Yordania. Mereka seperti terekat dalam satu paket kemasan. 

    Penambal lubang Davies dan Adam nyaris tidak ada. Gol Yordania ke gawang mereka di laga uji coba, Jumat 30 Agustus, contoh nyata. Davies lenyap saat sayap kiri lawan lepas dari jebakan offside. Adam lantas malah menghalangi Ong dalam kotak penalti, di kala bola wajib disapu karena lawan sudah tak bisa disetop.

    Padahal Ong terpaksa masuk lebih ke tengah untuk menutup ruang. Tapi keterpaksaan itu membuat Ong terlambat, gerakannya jadi kikuk karena terhalang Adam, dan gol tak terelakkan lagi.

    Sialnya Gan berada di depan Davies dan Adam, bukan di belakang mereka. Sebenarnya gelandang blasteran ini mengerti cara menambal celah pertahanan yang bolong. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak bila bek di balik punggungnya sudah terkecoh. Gan seorang penghalau di kesempatan pertama, bukan pembersih di kesempatan terakhir.

    Penyalur bola ke depan, Azam Azih, tidak mau bertahan. Ia mirip anak sekolah yang lupa bikin PR semalam kalau disuruh bertugas mengawal. Kawalannya mudah lepas. Keahliannya tidak istimewa, daya tahannya pas-pasan saja. Gelandang serang ini salah satu kartu mati Malaysia.

    Gelandang sayap kembar di kiri-kanan: Safawi Rasid dan Mohamadou Sumareh, tumpuan utama perlawanan. "Api" pasukan negara, mereka yang kobarkan.

    Menghambat Safawi sebenarnya cukup gampang, persempit saja ruang gerak di bagian kiri tubuhnya. Seperti istilah 'mati kiri' bagi pemain pemula yang tak bisa memukul backhand dalam bulu tangkis. Tekanlah bagian itu, dia pasti kalah.

    Kaki kanannya nyaris tak pernah dia pakai untuk menyentuh bola. Ia hanya gelandang kidal yang mengandalkan bakat alamiah. Tapi jangan sedikitpun lengah. 

    Sekali dikasih angin, seperti layang-layang ngambul, dia lekas membubung tinggi ke angkasa. Begitu dapat kesempatan, Safawi akan menggila laksana harimau diumpan daging segar. Trik berkelitnya licik, instingnya tajam mengendus peluang. Rembatan atau tembakannya bertenaga. Tendangan percuma alias tendangan bebasnya pun terukur dalam tipe placing (mengincar sudut tertentu untuk menempatkan bola). Jarang dia merajuk manja, kehilangan sentuhan atau tampak bosan bermain, setiap tampil membela Negeri Jiran. 

    Sumareh lebih sukar ditebak. Apalagi kalau punya kawan bermain yang mau muncul untuk minta bola. Ia senang berbagi, gemar menipu lawan lewat kombinasi satu-dua, rajin bergerak baik untuk masuk atau keluar dari parameter yang diawasi ketat lawan. Hanya yang seorang ini saja kartu As di tim Negeri Jiran.

    Di garis serang, Hadin Azman tiada sentuhan akhir mumpuni layaknya striker sejati. Ia aslinya gelandang yang disulap jadi penyerang lubang. Idlan Talaha lebih senior, ialah Tuan Besar yang selalu butuh pelayan. 

    Hadin hanya hamba sahaya bukan dayang-dayangnya. Bekerja keras untuk Idlan yang tak bisa lagi lari berbelok meliuk cepat karena faktor usia. Jadi Idlan selalu lurus dan fokus ke gawang. Ia tak bisa lain.

    Poros serangan paling menonjol berupa Safawi-Sumareh. Mereka akan mengelabui lewat upaya yang sama terus: saling berjauhan seolah takkan bekerja sama. Tapi gerakan tanpa bola satu sama lain sesungguhnya terkonfigurasi. Semacam tiruan dari kepak sayap seekor kupu-kupu yang menimbulkan badai di belahan bumi nun jauh di sana.

    Sesekali muncul poros kedua, Ong-Hadin, di mana Ong bergerak di situ Hadin paling aktif minta perhatian untuk mendapat umpan. Bagian ini terlihat sporadis. Mirip intermezzo dari seluruh tempo permainan. Artinya sesudah manuver ini mereka siap lebih bertahan buat menyusun tenaga lagi sambil mengatur stamina.

    Segitiga Gan-Ong-Shahrul sumbu pertahanan kokoh mereka. Tatkala segitiga itu terberai, kemungkinan kebobolan gol terbuka lebar.

    Sejatinya 4-4-2 riskan diusung Malaysia. Pola ini menghendaki pemain mengejar dan berlari lebih lama dari rerata skema lain. Skuat The Tiger terkenal sungkan mengejar dan sangat enggan berlari-lari anjing. Filosofi di rumput hijau ala Melayu semenanjung tampaknya berbunyi: mau 'main' ketika bolanya ada, kalau tidak ada bola pasti mereka tidak mau bermain. Prinsip ini menyebabkan Malaysia sebagai kesebelasan kurang terorganisir dan wajar terkunci di 159 dunia.
     

    Skema Main Tenang (4-2-3-1)

    Kiper: Farizal Marlias;
    Bek: Corbin-Ong, Shahrul Saad, Adam Azlin, Matthew Davies;
    Gelandang Bertahan: Brendan Gan, Akram Mahinan; 
    Gelandang Serang: Akhyar Rashid, Safawi Rasid, Mohamadou Sumareh;
    Penyerang: Syafiq Ahmad. 


    Dalam pola berbasis 'nomor-9-palsu' (false-9) temuan Spanyol, tiga pemain baru menjadi alternatif di luar skema awal tadi. Sisanya delapan merupakan inti tim ini.

    Akram Mahinan berfungsi sebagai jangkar kembar di samping Brendan Gan. Ia bertugas melabuhkan bola, merapatkan 'kapal ke daratan' atau memblokir alur serangan. Pembawaan keras-dingin dirinya cocok untuk peran ini. 

    Sedangkan Akhyar Rashid menjelma pendobrak jitu dari lini kedua jika Safawi atau Sumareh macet. Ia bermodal giringan bagus, penuh tipu, dan juga lari kencang. Namun, performanya agak mundur setelah didera cedera.  

    Kendala terbesar Syafiq Ahmad bukan masalah teknis, tapi konsentrasi. Ia senantiasa lambat 'in' (menyatu) dalam suatu pertandingan, walau dimainkan sejak menit pertama. Itulah yang membuat namanya masih timbul-tenggelam dalam khazanah timnas Malaysia. Kontrol bolanya buruk, semangat bertarungnya di bawah rata-rata.

    Susunan pemain 4-2-3-1 menyiratkan sebuah pendekatan bergaya yang lebih tenang. Sistem nomor-9-palsu harus merelakan setengah daerah permainan dikuasai lawan. Sabar menunggu musuh muncul membawa bahaya, itu kuncinya. Kalau tidak berbahaya tidak usah lagi ditunggu, langsung tekan balik dan serang habis. Ini sandaran teori permainan Real Madrid era Los Galacticos yang merajalela di pengujung abad XX hingga awal millenium kedua. 

    Tim tamu silap jikalau memasang skema ini: tak ada pemainnya yang sama kualitasnya dengan Zidane cs dulu. Gan-Mahinan bahkan bisa bertumpukan, bukan menyebarkan pengaruh besar, akan mengacaukan alih-alih mengendalikan situasi. Safawi-Sumareh lelah payah karena berlari lebih jauh ke arah gawang.

    Apapun polanya bagaimanapun pemainnya, Harimau Malaya masuk sarang angker SUGBK. Mereka punya masalah yang bermuara kelemahan dalam timnya sendiri. Hanya menunggu waktu babak belur digerogoti kerusakan hancur-lebur. 

    Pelatih Garuda Merah-Putih Simon McMenemy pasti tahu striker yang pintar mencari posisi. Lihai menempatkan diri di tengah antara Adam-Davies, mengintai gol. Siapa gelandang serang paling liar untuk mengacak-acak benteng segitiga Gan-Ong-Shahrul tepat di jantung pertahanan mereka.

    Terutama, membuyarkan konfigurasi Safawi-Sumareh. Mematahkan poros Ong-Hadin. Mengaktifkan gangguan terhadap Davies lewat sayap kencang yang ngotot membawa bola. Memasang mata-mata di dekat Sumareh andalan mereka.

    Enam puluh lima ribu pencinta fanatik akan riuh menyaksikan jurus Garuda terbang mencengkam harimau, Kamis malam nanti. Asal syaratnya Indonesia tampil normal tanpa berlebihan rasa percaya diri. Tiga angka sudah di tangan kita sebelum peluit berbunyi. 

    Priit!... (bukan prreet)



    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id