Keturunan atau Kenaikan

    Arpan Rahman - 04 April 2020 09:18 WIB
    Keturunan atau Kenaikan
    Timnas Indonesia. (Foto: Antara/Puspa Perwitasari)
    AGENDA tim nasional belum lagi jelas, imbas wabah Covid-19. Tapi sudah ramai warga asing yang kebelet jadi WNI untuk diundang tampil membela Merah-Putih. 

    Mereka menepis mimpi jutaan remaja yang berkutat di rumput hijau pada lapangan becek dan buruk seantero kampung dari Sabang sampai Merauke. Yang sama-sama mengidamkan karier cemerlang dalam jersey PSSI.

    Darah Indonesia

    Beralasan masih berdarah Indonesia, banyak yang mengincar paspor berlambang Garuda Pancasila. Mayoritas berasal sebagai keturunan dari orang tua pribumi, minat mereka tampak cukup antusias. 

    Faktanya sejauh ini belum pernah pemain naturalisasi sukses membawa timnas juara. Jadi, abaikan saja godaan instan yang bukan modus baru lagi.

    Dulu, Benny van Breukelen sempat disangka pemain naturalisasi juga. Dia pertama masuk skuat PSSI Garuda I, dan akhirnya langganan timnas. Namanya sangat identik dengan kiper Belanda juara Eropa pada 1988. Beda tipis nama depannya saja.

    Ternyata bukan. Sama sekali dia hasil bumi asli pembinaan sepak bola Indonesia.

    Sekarang ketahuan bahwa pewarganegaraan pemain asing ke dalam skuat timnas baru diawali Christian Gonzales pada ajang Piala AFF 2010. El Loco menciptakan banyak gol, namun timnas justru gagal di final. Bersama dia, Irfan Bachdim menjalani proses naturalisasi. Tapi, keduanya beda usia.

    Perbedaan mencolok segera tergambar dalam permainan PSSI sebagai sebuah tim terorganisasi. Gonzales berposisi striker, sedangkan Irfan striker kedua yang bervariasi difungsikan sebagai sayap kanan. Wajar bila nomor 9-Gonzales mampu mencetak gol, karena itu tugas utamanya.  

    Tetapi, positifnya hanya kalau Gonzales sedang ganas seperti leg pertama semifinal versus Filipina. Ia berhasil membukukan gol indah, yang saya saksikan langsung dari kursi media di sayap kanan tribun VIP Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta.

    Selama tampil, seluruh awak timnas malah bermain cenderung sangat tergantung pada pergerakan Gonzales di lini terdepan. Faktor negatif muncul ketika di partai puncak dia kena lockdown bek-bek Malaysia. 

    Hitunglah saja sendiri dari rekaman pertandingan di AFF Cup 2010: berapa kali El Loco memberi umpan kepada rekannya, ketimbang dia sendiri dimanjakan umpan empuk dan matang yang tinggal dikonversi maksimal ke dalam jaring gawang. 

    Dibandingkan Irfan, yang lebih menyatu sebagai salah satu pilar penguat di antara sepuluh pemain lain, kontribusi striker asal Uruguay nyaris tidak ada. Ia sulit bekerja sama, karena tipikalnya murni sebagai eksekutor. Kendati bisa saja pengakuan dari sesama rekannya saat itu akan berbeda.

    Ritme Rusak 

    Persis dengan performa Beto Goncalves sejak dipanggil mengisi tempatnya di Asian Games 2018 hingga prakualifikasi Piala Dunia 2022. Nihil kontribusinya terhadap konfigurasi tim sebagai bintang lapangan yang tidak sungguh-sungguh membumi dan berakar kuat ke dalam irama kesebelasan tumpah darah kita.

    Koordinasi antarlini timnas akibatnya terkuras habis cuma untuk melayani gerakan penyerang dari Brasil itu baik dengan bola atau tanpa bola. Sepuluh pemain lain sekadar menyesuaikan ritme dalam satu tujuan: bola terakhir mereka nanti diselesaikan oleh Beto. 

    Pertanyaannya jadi sama: berapa kali Beto memberi umpan kepada rekannya ketimbang dia sendiri disodori umpan empuk dan matang yang tinggal dikonversi maksimal ke dalam jaring gawang lawan? Kesulitan bermain sesama tim, Beto mengulang kisah El Loco, bahkan dengan torehan hasil laga yang lebih pilu di sanubari publik Tanah Air.  

    Padahal layaknya skuat 2010, di dalam timnas edisi terakhir ada pula pemain naturalisasi lain, Stefano Lilipaly. Asis, penempatan posisi, dan tawaran Fano terlihat jelas lebih variatif. Ia rajin membuka ruang, memberi jalan lebar bagi rekannya membuat manuver atau melakukan improvisasi. Menciptakan peluang dengan umpan cantik dan dia pun mampu berperan penting menjadi penyelesai permainan. 

    Timnas tentu masih butuh sosok seperti Irfan dan Fano. Kalau perlu, uruslah lebih dahulu yang masih mengalir darah Indonesia-nya. Namun, seleksi calon WNI yang baru nanti harus diperketat, hingga orientasi PSSI mencapai prestasi terbukti nyata bukan proyeksi asal-asalan berdasarkan pemodelan angan-angan. 

    Indonesia kini mesti mementingkan kenaikan daripada keturunan. Artinya, kenaikan peringkat FIFA wajib diutamakan, caranya pasti lebih banyak menang. Pemain keturunan atau naturalisasi dari bangsa asing yang disorong lewat segala cara untuk mengemis minta diakui identitasnya dari negara ini tidak menjamin kewajiban utama itu terwujud juga. 

    Sejarah van Breukelen -- yang Benny, bukan Hans -- kita patut simak kembali. Ia siap sedia mencurahkan segenap pengabdian buat "mati di lapangan" demi Merah-Putih. Mantan penjaga gawang andalan yang mempersembahkan gelar juara dan legenda hidup PSSI.

    Semua itu bukan datang dari proses instan macam sihir ajaib dari seorang pesulap misterius yang termasyhur di dunia hitam. Apalagi dunia hitam kelam. Jangan bayangkan seekor kelinci manis akan muncul dari balik topi. 

    Walau bule asli.

    Video: Ketum PSSI dan Insan Sepak Bola Beri Dukungan Para Tenaga Medis Covid-19



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id