Piala Asia U-23

    Skandal Mengintai Asia

    Arpan Rahman - 21 Januari 2020 19:08 WIB
    Skandal Mengintai Asia
    Momen saat pemain Thailand menjatuhkan pemain Arab Saudi di babak perempat final Piala Asia U-23 (Foto: capture Youtube)
    SIAPAPUN juara Piala AFC U-23 tidak akan mengubah pertanyaan atas terjadinya sebuah kontroversi. Gol Arab Saudi lawan Thailand di perempat final jelas meragukan sekali. 

    Fokusnya ialah keadilan wasit, yang memimpin pertandingan, sang peniup peluit. Kejadian ini menunjukkan taraf sepak bola Asia masih berada dalam situasi sulit. 

    Situs FoxSportsAsia mengabarkan: "Tim tuan rumah disingkirkan oleh Saudi dengan cara yang kontroversial. Setelah penalti yang patut dipertanyakan memungkinkan Saudi mengklaim kemenangan 1-0 pada Sabtu 18 Januari 2020." 

    Berita itu dibubuhi unggahan video kejadian di lapangan serta cuitannya di Twitter: "Penalti atau Tidak Penalti?" Dilengkapi tambahan ikon sebuah wajah bertopang tangan di dagu.

    "Wasit menghadiahi Arab Saudi tendangan bebas adi luar kotak (16 meter) namun setelah pengamatan VAR wasit pun memberikan penalti sebgai gantinya," cuit FoxSportsAsia.

    Dari cuplikan berdurasi 2:40 menit terlihat wasit hanya mendengar laporan Video Asisstant Referee (VAR) melalui telepon di telinganya. Ia diarahkan supaya mengubah keputusan.

    Pada menit ke-73, striker Abdullah Al-Hamdan menggiring bola melewati pertahanan Thailand. Berupaya menghentikan pemain yang ofensif itu, Sorawit Panthong menjatuhkannya, dan wasit mengindikasikan tendangan bebas tepat di luar kotak. Tetapi segera setelah itu, dengan bantuan VAR, ia mengubah keputusannya dan menunjuk ke titik putih.

    Profil Instagram milik wasit Ahmed Al-Kaf asal Oman langsung menghilang. Pengaturannya dari semula terbuka kepada publik berubah tertutup menjadi privat, menyusul cercaan pedas fans sepak bola Thailand. Kutipan dari LiveSportAsia menimbulkan bias ketika kontroversi itu disebut sebagai sebuah karma bagi nasib Thailand. 

    Katanya, pada pertandingan melawan Vietnam di kualifikasi Piala Dunia 2022, wasit Al-Kaf memberi keputusan yang memihak tim Thailand, termasuk menyelamatkan sebuah penalti dan gol Vietnam dianulir. Pertandingan di My Dinh berakhir 0-0, menguntungkan Thailand.

    Gajah Perang segera meminta penjelasan Konfederasi Sepak Bola Asia AFC mengenai penalti kontroversial ini. "Kami sedang mencari penjelasan untuk putusan tertentu yang merugikan Thailand selama pertandingan perempatfinal Kejuaraan AFC U23 dengan Arab Saudi," kata Asosiasi Sepak Bola Thailand FAT dalam sebuah pernyataan menurut Bangkok Post.

    Pelatih Thailand, Akira Nishino, berhati-hati menyikapi adegan menyakitkan itu. Tetapi dia memilih tidak berkomentar lebih jauh. 

    Kita tahu di ajang kelompok umur, sepak bola rentan terhadap tiga faktor kecurangan. Ketiganya meliputi pencurian umur, pemakaian zat perangsang, dan pengaturan pertandingan. Penipuan usia, sebagaimana penyalahgunaan bahan kimia penambah performa atau suplemen hormon, mungkin sulit dicari cara memanipulasinya dari pengujian klinis.

    FIFA meluncurkan protokol untuk mengetahui batas usia pemain berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Medical Assessment and Research Center dan diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine. Untuk pekerjaan itu, para peneliti melakukan tes MRI pergelangan tangan (dianggap lebih etis daripada mengekspos subjek pada radiasi sinar-X) pada sekitar 500 remaja berusia antara 14 dan 19 tahun. 

    Semua remaja berasal dari Swiss, Malaysia, Aljazair atau Argentina. Para peneliti kemudian mengkategorikan perkembangan tulang pergelangan tangan masing-masing peserta menjadi satu dari enam tahap berdasarkan perpaduan jari-jarinya yang berjarak, daerah tulang di dekat sendi pergelangan tangan. Tahap 6 mewakili fusi lengkap dan tahap 1 mewakili tanpa fusi. 

    Mengutip karya ini, FIFA mengatakan bahwa jika MRI menunjukkan perpaduan lengkap pergelangan tangan pemain, 99 persen yakin bahwa pemain berusia di atas 17 tahun. Kendati tes ini tidak sepenuhnya akurat.

    Pengaturan skor jauh lebih mudah dirancang. Lewat kaki-tangan perangkat pertandingan atau menyuap pemain tertentu yang turun di lapangan. 

    Sekarang kita menanti apakah AFC akan mulai bergerak membersihkan dugaan skandal yang dilakukan Saudi. Bila konfederasi bungkam berarti kita satu benua ini tunduk pada kuasa Arabia yang mau mengangkangi lapangan hijau di Benua Kuning dengan segala cara. 

    Kalau markas besar Kuala Lumpur terus membiarkan kecurangan, taraf sepak bola Asia takkan mungkin maju. Jika terbukti bersalah, AFC harus membuang Arab Saudi dari keanggotaannya dengan rasa malu.

    Video: ?Aksi Terpuji Pemain Futsal Ini, Respect!


    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id