Timnas Indonesia Mencari Inspirator Terpilih

    Arpan Rahman - 27 Juli 2019 03:00 WIB
    Timnas Indonesia Mencari Inspirator Terpilih
    Simon McMenemy saat memimpin sesi latihan Timnas Indonesia jelang lawan Vanuatu (Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
    PROYEKSI pemain tim nasional Indonesia menjadi pekerjaan yang paling rumit bagi Simon McMenemy. Bukankah itu tugasnya sebagai pelatih?

    Ia akan memilih skuat untuk bertanding di grup G zona Asia dalam kualifikasi Piala Dunia 2022. Pelatih asal Skotlandia mengaku tidak bisa tidur nyenyak. Tentu karena fakta krusial: Kompetisi Liga 1 terus berputar. Dirinya perlu berpikir lebih cermat mengambil keputusan.
     

    Terbentur Liga

    Kompetisi di dalam negeri masih dipentaskan. Laga timnas pun di Pra-Piala Dunia sudah terjadwal pasti. Klub-klub Liga 1 merupakan tulang punggung timnas. Berjuang demi negara di tengah panasnya persaingan antarklub Indonesia, pemain niscaya dirundung lelah.

    Mungkinkah perseteruan di klub akan diam-diam berujung runcing ke sesama pemain dalam timnas sendiri?

    Coba pikir, pelatih mana yang tidak pusing kepala! Pelatih timnas ataukah pelatih-pelatih klub yang pemainnya dipanggil ke pelatnas nanti? Mereka semua bisa hilang keseimbangan hingga tujuh keliling.
     

    Baca: Mengincar Runner-up Terbaik


    Satu sisi, McMenemy mengusung ambisi hendak menjelmakan timnas senior sebagai inspirasi bagi timnas-timnas lainnya di level usia muda. Sisi lain, para inspirator pilihannya harus tampil bugar dalam delapan pertandingan. Serunya lagi: Delapan pertandingan berlangsung selama sembilan bulan, sejak 5 September 2019 sampai 4 Juni 2020. 

    Selain kedua sisi itu, laga domestik sedang sengit-sengitnya. Stamina para pemain akibatnya dikhawatirkan tidak cukup prima saat tampil membela Garuda Merah-Putih.

    Merujuk penelitian fisik, atlet harus rehat minimal antara tujuh sampai 14 hari setelah bertanding. Idealnya Liga 1 membuka kompromi lalu membuat kesepakatan bersama PSSI. Jadi, kompetisi klub yang mesti disetop sementara. Jadwalnya diatur ulang, dicocokkan lagi, dipas-paskan. Supaya sinkron dengan jangkauan ideal daya tahan pemain timnas kita. 
     

    Fokus Memilih

    Antara 29 Agustus sampai 17 September 2019, mungkin Liga 1 dapat menggelar jeda. Demi kesiapan timnas pada 5 September 2019 menghadapi laga perdana versus Malaysia dan 10 September 2019 melawan Thailand. Rentang waktu jeda itu terhitung lama.

    Bagaimana jika operator liga bersikeras tak mau mengubah jadwal? Timnas menanggung risiko menggunakan tenaga pemain yang payah. Soalnya 18 klub masih bermain di pekan ke-17 selama tiga hari, 30 Agustus-1 September 2019.

    Klub-klub yang asyik berkompetisi jelas tetap butuh jasa pemain-pemain yang mereka kontrak mahal-mahal. Performa timnas pasti jadi urusan belakangan. 

    Itulah pelbagai rangsangan yang kemudian membentuk pikiran sekeras batu dalam kepala McMenemy. Ya, logislah, kalau dia tak bisa tidur nyenyak di malam hari. 

    Mantan pelatih timnas Filipina secara implisit menyatakan bahwa benturan jadwal antara kompetisi Liga 1 dan agenda timnas menjadi masalah. Problem itu menyulitkan pekerjaannya.

    Pertanyaannya: Apa benturan jadwal akan jadi biang kegagalan timnas Indonesia? 

    Kita mesti kukuh berpijak di bumi dengan kepala dingin. Bukan mendongakkan kepala setinggi langit. Jangan remehkan masalah. Boleh berharap yang terbaik, bersiap untuk yang terburuk boleh. 

    Yang paling utama, tetaplah fokus pada proyeksi. Carilah sebelas inspirator terpilih berwatak kesatria demi perjuangan bangsa di tengah keterbatasan waktu.
     

    Bawah Mistar

    Kapten kesebelasan Andritany Ardhiyasa lagi berkutat cedera. Faktor pengalaman kiper cadangannya saat ini, Awan Setho, terbilang minim di level senior pada blantika internasional. Muhammad Ridho juga tidak fit, barusan sakit. Klubnya yang kalah beruntun jelas berpengaruh pada mental Teja Paku Alam. 

    Empat pemain yang baru-baru ini menjaga timnas di bawah mistar gawang semuanya bermasalah. Pusing, bukan? Tapi mencari alternatif mereka semoga cukup mudah. 

    Coach Simon boleh menoleh ke Hilman Syah, yang paling minim kebobolan gol di Liga 1 hingga pekan ke-10. Ia lumayan tangguh, terutama karena bersatu komunikasinya dan berpadu chemistry-nya dengan barisan bek PSM Makassar. Angga Saputra pun pantas dipertimbangkan, mengingat trek rekor dari TIRA-Persikabo sebagai pemuncak klasemen hingga pekan ke-10 Liga 1. Atau Nadeo Argawinata pengawal ketat jala Borneo FC agar tidak bergetar, yang tengah menyala berapi-api semangatnya.
     

    Pantas Dituakan

    Hansamu Yama seusia dengan Yanto Basna. Ini boleh jadi faktor-x bagi kerja sama antarkedua pemain. Mereka cenderung bisa saling salah pengertian. Istilahnya "tidak ada yang pantas dituakan" untuk mengemban tanggung jawab lebih berat daripada rekannya. Celah di lini belakang berpotensi mudah diserang kepanikan andaikan keduanya main berpasangan menjadi bek tengah.

    Salah satu dari mereka justru akan lebih tenang jikalau diduetkan dengan bek lebih senior, yang juga memiliki naluri kepemimpinan. Di sinilah peranan vital Achmad Jufriyanto sebagai jantung pertahanan dibutuhkan. Kala pertama penulis menontonnya bermain di bawah arahan Coach Peter Withe, Jupe sudah jadi kapten kesebelasan memperkuat timnas U-20 di Piala AFF tahun 2005 di Palembang. 

    Dua pesaing lain bernilai minus. Faktor temperamental Manahati Lestusen memberatkan sikap pemain ini untuk memberi teladan. Sementara Otavio Dutra bisa dipinggirkan sebab baru dinaturalisasi. Spirit nasionalisme asli Brasil belum tebal memerah-putih berpancasila. 

    Selebihnya Alfin Tuasalamony, Abduh Lestaluhu, dan Ruben Sanadi patut diperhitungkan karena energi tak mau kalah dalam situasi duel satu lawan satu. Bakat khusus ketiganya berupa cara menggaet lawan lewat trik licik-halus yang elegan. Mereka paham batas-batas sportivitas, di satu momen yang tepat malah bisa dapat untung dari tiupan peluit pemimpin pertandingan.
     

    Penggaris Tengah

    Sebuah temuan berharga, yang tidak asing lagi, selalu dipasang sejak yunior sebagai penimba sumur di sentral lapangan. Zulfiandi, gelandang jangkar itu, mulai tak tergoyahkan posisinya sejak Asian Games 2018. Ia persis hasil uji klinis dari laboratorium yang sempurna.

    Cara Rizky Pellu berlari dengan gaya siku terbuka lebar condong diangkat, kecepatannya mirip mobil VW-kodok tua. Tapi dia berhasil muncul kembali setelah cukup lama menghilang, bahkan dibekali nyali yang tambah ngotot saja.

    Pangkat jenderal lapangan tengah pantas disematkan pada Marc Klok. Bila status kewarganegaraannya sudah cukup memenuhi syarat FIFA, dia layak mendapat kesempatan pertama, terlepas situasinya mirip Dutra.

    Stefano Lilipaly berbalut kecerdikan didikan Belanda. Bisa diandalkan untuk menantang berbagai kendala, termasuk kondisi teknis menyusahkan, kalah postur, dan kebuntuan tim. Khas seorang pembeda permainan dengan penyelesaian efisien.
     

    Mencetak Bola

    Melihat debutnya di timnas senior melawan China Taipei (pertandingan persahabatan, 24 November 2010, di Jakabaring), penulis menilai Irfan Bachdim di atas rata-rata pesepakbola nasional secara emosional dan intelektual. Jarang pemain debutan mencetak gol di laga perdana. Ia termasuk yang jarang itu.

    Irfan kenyang asam-garam internasional. Pengalaman berkiprah di Belanda, Thailand, dan Jepang menambah nilai plusnya.

    Berbeda dengan Muhammad Rachmat. Bersinar dari Takalar, namun terhambat pada tampilan perdananya di timnas. Ia sempat jadi salah satu korban dualisme kepengurusan PSSI.

    Momen yang mengerikan dalam hidupnya terjadi ketika bek beringas Singapura mengejarnya lalu menyapu kakinya kelewat brutal di dekat garis tengah. Tekel kasar, yang dibiarkan wasit, menyakitkan pada 28 November 2012. Sejak itu Rachmat terkesan agak takut berduel keras di ajang internasional. Tapi, hingga kini, dia terus berhasil mencetak bola. 
     

    Baca juga: Persib Dipecundangi Bali United di Hadapan Bobotoh

     
    Konsentrasi ke ihwal-hal lain kudu bisa disisihkan dulu. Kondisi individu pemain yang layak tanding perlu diutamakan. Sisa skuat yang belum diulas dalam ikhtisar ini dikembalikan kepada pelatih. Terserah Coach Simon saja menunjuk siapa gerangan yang terpilih menurut perhitungan, selera, dan otoritasnya tanpa tergugat.

    Pelatih kita kebetulan punya nama depan yang sama dengan karakter pencuri terkenal baik hati dalam buku cerita serial The Saint. Timnas Indonesia harus mencuri kesempatan baik menembus peringkat kedua di klasemen akhir grup G Pra-Piala Dunia zona Asia untuk masuk buku cerita sejarah. 

    Terakhir, tapi bukannya tidak penting, hanya sebuah saran ini. McMenemy wajib memusatkan latihan timnas jauh di luar Jakarta karena buruknya kualitas udara ibu kota di hari-hari kemarau begini. Bila perlu dia membeli oksigen segar buat semakin merangsang kebugaran pemainnya nanti.

    Tak ingin ketinggalan update berita bola dan olahraga? Follow instagram kami @medcom_olahraga

    Video: ?Real Madrid Konfirmasi Cedera Marco Asensio




    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id