Menakar Kekuatan Gajah Perang

    Arpan Rahman - 09 September 2019 12:00 WIB
    Menakar Kekuatan Gajah Perang
    Skuat Timnas Thailand di babak Kualifikasi Piala Dunia (Foto: Google)
    SEANDAINYA kita adalah Akira Nishino, bagaimana merancang strategi untuk Thailand nanti? Mungkin kira-kira begini.

    Siwarak Tedsungnoen pantas dipercaya kembali untuk menjaga gawang setelah tampil menghadapi Vietnam pekan lalu di kandang sendiri. Memang dia kiper andalan sejak di Piala Asia awal tahun ini. 

    Ia mendapat posisi utama setelah Chatchai Bootprom kebobolan empat gol lawan India. Jadi bukan seperti kiper yang 'naik kelas' sesudah penjaga gawang utama sebelumnya tersingkir paksa karena menderita penyakit aneh. 
     

    Tak Ubah Gaya

    Tendangan penyerang internasional Uruguay, Cristhian Stuani, yang bermain di klub Spanyol sudah pernah dihadapi Siwarak. Jadi mutu kiper ini mumpuni dan sudah teruji. Kemungkinan tembakan striker gaek dan tandemnya yang dinaturalisasi dari Brasil dan Belanda milik timnas Garuda mudah dia jinakkan. Soalnya dari Indonesia hanya dua pemain itu saja yang rajin menebar bahaya serius ke gawang lawan.

    Sementara bek kanan Tristan Do pasti lebih santai. Ia bersua satu lawan satu dengan sayap kiri yang amat kurang kecerdasannya. Pesayap itu lebih suka bermain 'sendiri', memaksa berlari kencang ketika staminanya sudah kendur, akibatnya umpan silangnya tidak akurat lagi. Nomor punggung 21 tidak pernah bertanggung jawab setelah gampang menghilangkan bola yang dikuasainya. Kentara kelemahan individu calon lawan duel Tristan, dia bisa lebih leluasa membantu serangan. 

    Bek kiri Theerathon Bunmathan punya jam terbang yang panjang buat menaklukkan sayap kanan berusia muda Merah-Putih. Walaupun sang winger memiliki visi sebagai pengumpan yang jitu dan daya ledaknya penuh tenaga, tapi organisasi timnya tidak mendukung visi si pemain. Konsentrasinya melulu jadi tergantung pergerakan striker asli Brasil untuk menciptakan sebuah poros serangan. Ia terlihat tidak yakin dengan keahlian rekannya yang lain.

    Tapi sebelum berhadapan langsung dengan kiper, striker dan penyerang kedua Indonesia akan dihadang duet Pansa Hemviboon dan Manuel Tom Bihr yang kokoh di jantung pertahanan. Terutama, Bihr tidak usah diragukan kualitasnya: digembleng Eropa, bahkan lahir di Jerman! Pansa ialah pemain terbaik Thai League 2017, gelarnya tak perlu dipertanyakan, tekanannya selalu rapat kepada musuh.

    Sampai di sini dulu perkiraan taktik Nishino meredam serangan Indonesia. Selanjutnya tiada lagi bahaya. Tiga pemain asal Surabaya kelihatan tak mau bekerja sama dengan bek Papua sepanjang pertandingan pekan lalu, entah karena apa. Jelas tidak terjalin persaudaraan antarsesama anggota kesebelasan di lapangan. 

    Di tim Thailand sendiri, pengangkut air Tanaboon Kesarat tentu juga cukup lega. Ia takkan terlalu banyak mengangkut sebab 'air' tersalur cukup merata. Pemain tetap mempertahankan ciri khasnya: penguasaan bola yang luas dengan tempo teratur rapi. 

    Thailand bila diamati cermat seperti Spanyol kecil dari Asia. Pemain suka sama suka saling memberi umpan satu dengan yang lain. Banjir umpan itu otomatis membentuk ritme yang akhirnya jadi cara main ala bisa karena biasa. Pelatih baru memang sebaiknya tidak terlalu banyak mengubah gaya yang telah nyaman ditunjukkan skuat ini.

    Alasan mengapa Sarach Yooyen rutin mengisi garis tengah karena dia pemain kunci. Berbekal naluri kepemimpinan yang menonjol untuk mulai menabuh genderang perang sejak di lini vital. Kontrolnya kuat, perlindungannya atas wilayah teritorial sebagai keunggulan khusus dirinya.

    Permainan Yooyen serasi diimbangi Phitiwat Sookjitthummakul. Phitiwat percaya seutuhnya dengan Yooyen, rekannya yang lebih senior. Kedua pemain seperti pasangan cinta di sektor gelandang. Mereka mati-matian menghalau segala rintangan, apapun yang terjadi, demi kemenangan. 

    Lengketnya Phitiwat sama Yooyen berguna bagi Chanathip Songkrasin. Ia tidak galau memikirkan lini lebih ke belakang sebelum barisan pertahanan. Chanathip terfokus semata-mata membantu Supachok Sarachat guna bergerak macam siluman, gentayangan menghantui daerah berbahaya lawan. 

    Cederanya Thitipan Puangjan sebuah hikmah terselubung yang pasti memberi manfaat ganda. Sejak turun di King's Cup awal Juni lalu, Thitipan cenderung kehilangan arah. Ia suka main kasar ketika didahului lawan yang brutal. Senang membalas perlakuan buruk dengan perilaku lebih jahat lagi. Saatnya mengganti tempatnya, menampilkan meteor baru yang melesat di ujung tombak penyerangan: Supachai Jaided.

    Lihatlah sendiri, pada Selasa 10 September di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, bagaimana buasnya Jaided. Ia akan  terus memburu bola, menyundul tajam dengan topangan sosoknya tinggi, menembak keras di kesempatan pertama tanpa pikir panjang. Tanpa tanda-tanda kelelahan di saat fisiknya kembali prima, Jaided siap menggantikan peran penyelesai Teerasil Dangda.
     

    Grafik Pertandingan

    Setelah menyambut tawaran buat membesut tim nasional Thailand, Nishino agaknya berpikir dia harus memberi sentuhan sepak bola pada negeri kerajaan Asia Tenggara melalui pendekatan ekonomis: dengan modal kecil mendapat untung besar. Dengan tidak banyak berlari, memaksa lawan mengejar. Tim bukan memaksakan kecepatan. Ia boleh jadi mempelajari baik-baik apa-bagaimana negeri kecil ini sampai menempati peringkat FIFA 129 dunia. 

    Mengapa Thailand terpuruk dua tahun terakhir? Padahal mereka negara Asia pertama yang bergabung dengan FIFA pada 1925. Rekor posisi 43 dunia di bulan September 1998 menjadi capaian terbaik di antara negeri ASEAN sampai sekarang. Puncak prestasinya pada 2015, Thailand menjuarai semua piala AFF dari level senior hingga jenjang kelompok umur U-16, U-19, hingga U-23 di SEA Games. 

    Suksesi manajerial ditandai Kiatisuk Senamuang ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Juni 2013 mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Winfried Schafer. Enam tahun berselang, Milovan Rajevac masuk untuk melatih Thailand ke Piala Asia 2019. Singkatnya Rajevac didepak setelah mereka bertekuk lutut di kaki India 1-4 pada laga perdana.

    Gantian kemudian Sirisak Yodyardthai membesut tim Gajah sebagai pelatih sementara, malah berhasil membawa Teerasil dkk ke 16 Besar. Tapi, delapan pertandingan pasca-Piala Asia itu, kesebelasan berkostum kebanggaan Biru-Biru tidak memuaskan. Akhirnya, pada 17 Juli 2019, Thailand ditangani pelatih Jepang ini, yang sukses mengangkat Samurai Biru ke 16 Besar Piala Dunia 2018.

    Akira tahu, tren performa menurun Thailand harus diperbaiki terlebih dahulu: mengembalikan kestabilan mental pemain. Jadi tim tidak diforsir harus menyerang habis di laga pertama Grup G Pra-Piala Dunia zona Asia. Chanathip cs pasti butuh waktu untuk mendapatkan lagi irama permainan sediakala mereka saat bertakhta di atas singgasana Asia Tenggara. 

    Kiprah Coach Nishino baru dimulai di luar negeri Matahari Terbit. Berkahnya muncul seketika bahkan sebelum menit pertama. Striker Vietnam mengejar umpan panjang yang indah, menyelinap di antara Pansa-Bihr, dia menang adu lari ketika menyongsong bola memantul lalu bergulir masuk kotak penalti. Ternyata Pansa mampu mempersempit ruang gerak, hingga tendangan lawan meleset ke samping gawang Siwarak.

    Sepuluh menit awal, Thailand sudah kembali menemukan identitasnya. Laga dikontrol dengan penguasaan bola yang luas. Bihr efektif mencegat bola terobosan lawan. Cuma satu-dua kali umpan tanggung dari lini tengah gagal mencapai sasaran ke kotak penalti musuh. 

    Kombinasi satu-dua dan segitiga sudah enak bergerak. Tim ini disiplin melancarkan skema rencana serangan utama menekan sisi kanan pertahanan Vietnam.

    Chanathip pintar pula menyelip di antara bek-bek lawan sekaligus memberi bahaya. Tidak ada penyesalan atas kegagalan dari peluang emas Thitipan di depan gawang menyundul umpan silang Yooyen pada menit ke-19.

    Saking sayangnya dengan penguasaan bola, Siwarak jarang menendang jauh seperti banyak kiper lain. Ia cukup mengumpan pendek kepada jajaran beknya baik di kanan maupun kiri supaya bola itu bukan diperebutkan di garis tengah. Tapi langsung digiring oleh kaki-kaki kawannya sendiri.  

    Stabilitas tim ini telah kembali. Tidak lewat pola 'false-9' (nomor-9-palsu), tapi 'no-9' (tanpa striker)!

    Hasil seri 0-0 bukan kekalahan. Vietnam hanya sasaran antara, setelah itu baru mengincar kemenangan. Dari tim apa, Anda pasti tahu. Tenaga lawan kedua Thailand di Grup G tidaklah bugar untuk bermain di level Piala Dunia walaupun hanya di kancah prakualifikasinya saja.




    (ACF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id