Kesatria Tae-yong di Dunia U-20

    Arpan Rahman - 18 Januari 2020 18:22 WIB
    Kesatria Tae-yong di Dunia U-20
    Shin Tae-yong (Medcom.id/Rendy Renuki H)
    DUA negara sukses menjuarai Piala Dunia U20 ketika menjadi tuan rumah. Portugal pada 1991 dan Argentina 2001. Siklus 10 tahunan ini patah tatkala Brasil jadi juara 2011 dengan tuan rumah Kolombia. 

    Pada edisi lawas 1981 di Australia, juaranya Jerman Barat. Kalau merujuk daur itu, kita mendapat semangat. Peluang Indonesia buat merengkuh gelar kampiun, 50:50, walau sesungguhnya amat berat. 

    Asia Tujuh 

    Tujuh negeri Asia telah mencicipi sejarah sebagai venue Piala Dunia U20. Jepang pada 1979, Australia 1981 dan 1993, Arab Saudi 1989, Qatar 1995, Malaysia 1997, Uni Emirat Arab 2003, dan Korea Selatan 2017. 

    Hasilnya, Jepang, Saudi, Qatar, dan juga Malaysia jadi juru kunci. Australia melaju hingga ke perempatfinal (1981) dan semifinal (1993). Sementara UEA ke perempatfinal. Terakhir, Korsel terhenti di 16 Besar. 

    Bila mengacu fakta ini, harapan PSSI merebut piala pasti mustahil. Atau, dengan kata lain, nihil.

    Kemungkinan terbesar, 50 persen, Timnas U-20 mengunci penyisihan grup di posisi terbawah. Karena kelas kita baru sejajar dengan Negeri Jiran. 

    Saudi berada satu tingkat di atas kita. Jepang dan Qatar sudah mengorbit jauh lebih tinggi lagi. Ini sekadar teori perbandingan dengan empat kesebelasan sesama anggota konfederasi benua Asia, yang pernah bertindak selaku tuan rumah gagal prestasi.

    Terkaca dari kinerja di Piala Dunia U-20, cuma empat negara Asia yang berkuasa. Korsel yang paling tinggi prestasinya. Taegeuk Warriors menempati rangking 15 dunia dengan capaian sekali runner-up pada 2019 dan juara empat 1983.

    Tepat di bawahnya, Qatar dan Jepang, yang berhasil tampil sebagai finalis pada edisi 1981 dan 1999. Australia terakhir di urutan 31 sebab dua kali menduduki peringkat keempat (1991 dan 1993).

    Qatar atau Jepang 

    Secara kumulatif, Jepang gagal total 1979 justru berbenah hingga di tahun 1999 menyabet juara kedua. Sebaliknya, Qatar runner-up 1981, malah ambruk pada 1995. 

    Grafik ini menarik, mengingat kita sempat dihadiahi tiket gratis menjadi peserta Piala Dunia Junior 1979. Seandainya Timnas U-20 mampu meniru Negeri Sakura bukan Qatar pada perhelatan akbar di tahun depan. 

    Variasi yang mungkin melambungkan asa anak Bangsa Khatulistiwa ialah fakta bahwa kita juru kunci dulu, baru kemudian tuan rumah. Kenyataaan ini berlangsung dalam kurun 42 tahun. 

    Jepang pun juru kunci di rumahnya lantas melejit ke final dalam 20 tahun. Secara anakronis, Qatar terbalik selama 14 tahun: melesat ke puncak duluan hanya untuk manyun di stadionnya sendiri.   

    Kita baru sekali manggung, ya 1979 itu saja. Sementara Bangsa Nippon telah 10 kali maju ke FIFA World Cup U-20 dari 21 edisi. Qatar ikut empat gelaran.

    Namun, lupakan Qatar dan Jepang sebagai negara bandingan. Segera bangunlah dari mimpi teoretis ecek-ecek yang penuh bualan matematis seperti ini. 

    SEBAIKNYA, lihat cermat apakah rumput Stadion Wibawa Mukti memuaskan hati manajer-pelatih Shin Tae-yong. Jangankan sejarah prestasi penting di level U-20. Kita tak punya rumput bagus sesuai standar internasional buat latihan.

    Barangkali yang bagus hanya julukan baru untuk PSSI Bule saat ini. Jika timnas Korsel dinamakan Kesatria Taegeuk, kita boleh disebut Kesatria Tae-yong. 

    Gitu, dong.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id