Makan Sambil Jalan-jalan

    Arpan Rahman - 25 Januari 2020 14:33 WIB
    Makan Sambil Jalan-jalan
    Ilustrasi by medcom.id
    KALAU sekadar agar ada juara nasional, sebaiknya PSSI tidak usah menggelar Liga 1 lagi. Format kompetisi yang menguras habis-habisan tenaga dan waktu para pemain terbukti hanya menghasilkan kampiun yang gagal bersaing di level lebih tinggi.

    Liga 1 tahun lalu melahirkan Bali United sebagai pemenang. Namun, mutunya ketika diadu ke ajang internasional hanya sedikit lebih bagus dari tim Singapura. Mereka kalah jauh dengan kualitas berlapis lima dari klub Australia.

    Format kompetisi

    Tingkat sepak bola Indonesia sudah terbenam sejak lama di lapisan kerak bumi terdekat dari kulit yang paling bawah. Kenapa bisa demikian?

    Jawabannya bisa ditemukan dari analisis Abdul Kohar (baca: https://www.medcom.id/bola/sudut/0Kv9YW1k-timnas-vs-malaysia-kalah-karena-lelah). Kebenaran itu memang pahit. Semua bermula karena PSSI gagal menyusun durasi kompetisi yang masuk akal untuk kebugaran pemain.
     
    Saat berkompetisi di Liga 1, tenaga mereka diforsir bak kuda pacuan. Harus bermain rata-rata tiga kali sepekan karena dikejar tenggat akhir kompetisi selama tujuh bulan.

    PSSI lebih baik mengembalikan kompetisi dalam bentuk turnamen seperti dahulu di era Perserikatan. Soalnya rentang jarak kota-kota yang menjadi kandang antarklub seantero Indonesia begitu jauh layaknya lintas negara Eropa.

    Bila bersikeras tetap menghelat kompetisi sejenis Liga 1 seyogyanya PSSI mengurangi jumlah peserta menjadi sekitar 8 atau 12 klub saja. Mereka idealnya harus bermain satu pekan sekali sebab dihitung juga waktu tempuh perjalanan, istirahat jeda pertandingan, dan jadwal rutin latihan.

    Memaksakan total 18 klub, pemain akibatnya akan lebih hobi makan sambil jalan-jalan daripada mengincar prestasi tinggi di pentas yang mengusung nama negara. Kalau terus begitu, apa tidak bertambah malu lagi Indonesia?

    Diet ketat

    Pasti juga tak ada klub yang mengawasi secara ketat asupan makanan yang dikonsumsi pemain. Memang ada koki dan kantin, dokter dan klinik, tapi sudah jadi rahasia umum bahwa pemain kita rerata cenderung masih suka jajan sembarangan. 

    Soal gizi diwanti-wanti manajer-pelatih tim nasional Shin Tae-yong supaya pemain lebih mengetatkan pola makan. Ia tentu tak mau pemainnya tidak mampu berlari lincah gara-gara sakit perut.  

    Dari ratusan pemain yang berkiprah di liga Tanah Air, saya hanya tahu satu orang saja yang berdisiplin dalam mengasup makanan: Keith Kayamba Gumbs, yang pernah memperkuat Sriwijaya FC. Pemain asal St Kitt and St Nevis itu menjaga kondisi kebugarannya secara militan.

    Kehidupan seorang pesepak bola biasanya dipandang sebagai salah satu kemewahan tetapi bagi para pemain Real Madrid, diet ketat menjadi salah satu dari sedikit pengorbanan yang harus mereka lakukan. Demi menjaga diri dalam kondisi prima, bintang Los Blancos harus mematuhi rencana makanan tertentu yang sepenuhnya melarang bahan-bahan tertentu.

    Sebagai produk Marcos Academy U-21, Llorente dapat bersaksi, ada daftar panjang panganan yang pemain tidak bisa makan, dengan diet lebih mirip dengan sesuatu yang ditaati selama masa Paleolitik daripada peradaban kontemporer. 

    "Saya mengikuti diet paleo atau diet Paleolitik, diterapkan dalam konteks sepakbola," katanya kepada MARCA. "Kami hanya makan seperti ikan, daging, ayam, nasi, beberapa sayuran dan susu yang tidak dipasteurisasi. Tidak ada gandum, sangat sedikit produk susu. Itu didasarkan pada apa yang dimakan selama periode itu. Saya punya daftarnya," tambahnya. 

    Camkanlah standar kehidupan pemain Real Madrid, klub dunia. Mereka mematuhi gaya makan bukan dengan cara modern, tetapi menurut zaman Paleolitik sekitar 100.000 Sebelum Masehi hingga 30.000 SM.

    Tidak berbeda dengan Jordan Henderson yang berbicara kepada SportsJOE. Ia memikirkan dengan cermat apa yang dia konsumsi, sebuah faktor yang dia yakini sangat vital dalam memantapkan dirinya sebagai pemain Premiere League. 

    "Hari-hari biasa saya bangun pukul 7.30 pagi dan sarapan terdiri dari bubur, buah, dan kemudian sebatang Promax (menyediakan 20 gram protein berkualitas tinggi dari campuran protein mengandung air susu sapi atau kerbau yang dikentalkan dan kedelai, termasuk karbohidrat penghasil energi serta vitamin, mineral, dan antioksidan penting) sekitar jam 9 pagi.

    "Lalu saya menuju ke tempat latihan sekitar pukul 10 pagi di mana saya akan mengasup BCAA (Branched Chain Amino Acids) saat saya berlatih. Segera setelah latihan saya akan mengasup protein campuran WPI baru untuk membantu mengembalikan otot-otot saya.

    "Makan siang biasanya ayam, sayuran, dan nasi, dan untuk makanan ringan saya suka kacang atau bar Promax lainnya untuk saya makan sampai makan malam. Makan malam saya akan sama seperti makan siang yang kadang-kadang bisa berulang tapi itu memberi saya semua yang saya butuhkan untuk memastikan saya bisa bersaing di level tertinggi," tutur Henderson. 

    Itu pengakuan gelandang sekaligus kapten Liverpool FC, klub top Inggris. Pola makan yang dianutnya ketat, bukan? 

    Tiada gunanya pemain diet jika gelaran kompetisi tetap acak-acakan seperti ala PSSI selama ini. Cuma kalau mau berbenah, rasanya sudah amat telat barangkali. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

    Video: FIFA Setujui 6 Stadion Indonesia untuk Piala Dunia U-20 2021



    (ASM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id