AJI Yogya Desak Kekerasan Terhadap Jurnalis di Sepak Bola Diusut

    Ahmad Mustaqim - 22 Oktober 2019 17:46 WIB
    AJI Yogya Desak Kekerasan Terhadap Jurnalis di Sepak Bola Diusut
    Ilustrasi (ISTIMEWA)
    Tolle juga sempat tertangkap melakukan kekerasan terhadap salah satu pemain Persis Solo. Saat Budi sudah berada di ruang media, Tolle sempat menyambangi dan menyampaikan permintaan maaf. 

    Yogyakarta:
    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta mendesak aparat kepolisian mengusut kasus kekerasan terhadap jurnalis yang meliput laga Liga 2 Indonesia 2019, antara PSIM melawan Persis Solo di Stadion Mandala Krida, Senin 21 Oktober 2019. 

    Guntur Aga Putra, pewarta foto koran Radar Jogja mengalami kekerasan di laga sepak bola itu. Saat terjadi kerusuhan jelang laga bubaran, Guntur yang mengambil gambar penonton yang turun dari tribun, mendapatkan kekerasan. Guntur juga diintimidasi dengan cara dicekik. Bahkan, foto hasil tangkapan kamera diminta untuk dihapus. 

    Ada juga jurnalis dari Goal Indonesia, Budi Cahyono, yang juga diintimidasi hingga kekerasan. Pemain PSIM bernama Ahmad Hisyam Tolle mendesak Budi menghapus gambar tangkapannya. Kaca mata Budi rusak akibat peristiwa itu. 

    Dalam sebuah gambar di media sosial, Tolle juga sempat tertangkap melakukan kekerasan terhadap salah satu pemain Persis Solo. Saat Budi sudah berada di ruang media, Tolle sempat menyambangi dan menyampaikan permintaan maaf. 

    Ketua AJI Yogyakarta Tommy Apriando, mengatakan tindakan kekerasan terhadap jurnalis telah menghalangi hak publik untuk memperoleh berita akurat dan benar. Sebab, kejadian itu membuat jurnalis tidak bisa bekerja dengan leluasa di lapangan. 

    "Jurnalis itu bekerja untuk kepentingan publik," ujar Tommy dalam keterangan pers, pada Selasa 22 Oktober 2019. 

    Tommy menilai peristiwa itu menunjukkan suporter hingga pemain tidak memahami aturan dan hukum yang menaungi jurnalis. Kekerasan yang menimpa para jurnalis ini melanggar Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. 

    Dalam undang-undang tersebut, kata dia, kekerasan terhadap jurnalis adalah perbuatan melawan hukum dan mengancam kebebasan pers. Selain itu, juga dijelaskan kegiatan jurnalistik meliputi mencari bahan berita, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah hingga menyampaikan informasi yang didapat kepada publik. 

    "Pasal 8 UU Pers juga jelas menyatakan, bahwa dalam melaksanakan profesinya, jurnalis dilindungi hukum," ungkapnya. 

    Tommy menegaskan para pelaku kekerasan ini mestinya tak main hakim sendiri dan belajar lagi soal hukum yang melindungi kerja jurnalis. Mereka tak boleh sembarangan menghalangi kinerja demi informasi yang layak dikonsumsi publik. 

    "Apabila terjadi kesalahan pemberitaan, ada mekanisme aduan jurnalis ke media tempatnya bernaung atau pun melaporkan ke Dewan Pers. AJI Yogyakarta juga mendesak polisi agar mengusut tuntas pelaku kekerasan," jelasnya. 

    Ia menambahkan, jurnalis juga harus menaati kode etik jurnalistik dan bekerja profesional. Menurutnya, pemimpin redaksi dan perusahaan media seharusnya juga memperhatikan keselamatan serta keamanan jurnalisnya, terutama ketika meliput ke daerah berpotensi konflik yang mengancam kerja jurnalistik serta mengancam reporternya. 

    AJI Yogyakarta, lanjutnya, mendorong agar perusahaan media tempat Guntur bekerja mendampingi pelaporan ke pihak kepolisian. Tren kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat, namun sedikit yang diselesaikan secara hukum.

    "Kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepak bola di Yogyakarta sebelumnya pernah terjadi dan tidak tuntas ditangani melalui proses hukum. Buruknya penanganan kasus kekerasan terhadap jurnalis oleh suporter sepak bola menjadi preseden buruk," pungkasnya.

    Video: Jadwal Liga Champions Macthday ke-3 Pekan ini
     



    (RIZ)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id