Arema Pertanyakan Hukuman Komdis PSSI

    Daviq Umar Al Faruq - 22 Agustus 2019 23:23 WIB
    Arema Pertanyakan Hukuman Komdis PSSI
    Ketua Panitia pelaksana (Panpel) Arema FC, Abdul Haris-Medcom.id/Daviq
    Pihak Panpel Arema, keamanan dan match commisioner justru tidak melihat adanya flare dan bomb smoke yang disangkakan sepanjang laga tersebut.

    Malang: Komisi Disiplin (Komdis) PSSI baru saja menetapkan hasil sidang pada Selasa 20 Agustus 2019 lalu. Arema termasuk klub yang mendapat denda paling besar. Tak tanggung-tangung, klub berjuluk Singo Edan itu dikenakan denda sebesar Rp150 juta. Denda tersebut lantaran ulah suporter mereka.

    Arema mendapat sanksi sebesar itu atas pelanggaran suporternya yang menyaksikan tim kesayangannya menghadapi Persebaya Surabaya pada lanjutan Liga 1 Indonesia 2019, pada 15 Agustus 2019. Pada laga tersebut, fan Arema disinyalir melakukan pelemparan botol dan menyalakan flare.

    Ketua Panpel Arema FC Abdul Haris mengatakan, pihak panpel, keamanan dan match commisioner justru tidak melihat adanya flare dan bomb smoke yang disangkakan sepanjang laga tersebut.

    "Bahkan MC laga, Bang Ovan Tobing menyampaikan terima kasih dan kondisi itu untuk dipertahankan di laga laga lainnya untuk menghindari sanksi. Namun, ternyata Komdis menurut hasil laporan melihat ada flare," katanya, Kamis 22 Agustus 2019.

    Baca juga: Sesama Suporter Persita Tawuran Usai Pertandingan

    Laga melawan Persebaya adalah partai big match yang mengundang animo besar. Oleh karena itu jumlah tim pengamanan yang dikerahkan hampir dua ribu personel. Sebanyak 80 persen pengamanan difokuskan di dalam stadion. Sehingga dia mengklaim keamanan untuk mencegah masuknya flare dan lain-lainnya sangat maksimal.

    "Karena itu kami menyanggahnya (sanksi) dan mencoba mencari tahu. Sebab tidak seperti biasanya. Sebelum Komdis bersidang, kita biasanya dimintai klarifikasi seperti sidang-sidang sebelumnya. Namun ini tidak ada sama sekali," jelasnya.

    Pihak Panpel justru baru mengetahui adanya sanksi tersebut setelah baca membaca surat keputusan Komdis. Mengetahui itu, Panpel Arema langsung menelusuri kebenaran fakta di lapangan.

    "Setelah ditelusuri ada klaim fakta smoke bomb yang menyala dalam hitungan detik usai laga berakhir. Namun, tidak diketahui baik perangkat dan Panpel, namun klaim diketahui salah satu utusan LIB yang ditugaskan di Malang," jelasnya.

    Baca juga: Tujuh Pemain Timnas Senior Absen di Latihan Perdana

    "Sementara info beragam ada yang mnyampaikan itu asap vape karena asapnya tidak begitu besar. Juga ada yang sampaikan itu smoke bomb skala kecil dan begitu mengepul, asapnya langsung ditangani dan dipadamkan. Namun sekali lagi tidak ada permohonan klarifikasi," imbuhnya.

    Di sisi lain, dalam surat keputusan yang dikeluarkan Komdis PSSI tersebut tertulis lokasi pertandingan berada di Stadion Gajayana, bukan di Stadion Kanjuruhan. 

    "Selain juga disebutkan bahwa dalam surat adalah pelanggaran flare, namun fakta di lapangan menyebutkan smoke bomb. Kesimpulan kami SK Komdis ini menjadi tidak faktual dengan yang terjadi sesungguhnya," tuturnya.

    Terakhir, Haris menilai pengambilan bukti-bukti dan fakta tersebut terlalu tergesa-gesa. Sebab, temuan dilaporkan tanpa klarifikasi dan konfirmasi. 

    "Bagaimana jika faktanya asap justru dari luar stadion, apalagi dilihat dari pandangan jauh dan subyektif dari pandangan seseorang," tegasnya.

    Video: Kepindahan Zappacosta ke Roma Akhirnya Terwujud
     



    (RIZ)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id